Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bermuka Ganda

Bermuka Ganda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (hazhzhy.wordpress.com)
Ilustrasi. (hazhzhy.wordpress.com)

dakwatuna.com – Sebut saja dia Eble. Dia itu lulusan kampus ternama. Jurusannya komunikasi. Suatu hari dia didatangi oleh seorang Caleg. Dia dimintai bantuan untuk mengkampanyekan partainya si Caleg, karena Eble terkenal dengan kelihaiannya dalam berkomunikaai. Karena dibayar sepuluh juta, dia mau. Perjanjiannya, semua orang di desa harus memilihnya semua.

Tibalah saat pemilihan berlangsung. Ternyata hasilnya berbeda jauh dengan yang diharapkan si Caleg. Si Caleg memperoleh suara yang sedikit, dengan jumlah lima ratus dari lima ribu suara. Melihat hasil yang demikian, si Caleg mendatangi Eble. “Mas Eble, kenapa saya kok tidak bisa menang? Katanya sampeyan orang yang paling top kalau soal ginian. Bukankah anda sudah saya bayar mahal?” tanya si Caleg. “Oh, itu. Saya cocokkan bayaran sampeyan pak. ” jawab Eble. “loh, loh, maksudnya gimana? Saya kan minta sampeyan untuk memenangkan saya.” sahut si Caleg dengan bingung. “Sampeyan kan memberi saya uang sepuluh juta. Maka saya beri lima ratus suara. Sebelum bapak, ada yang beri saya tiga puluh juta, lima puluh juta, dan dua puluh juta. Jadi, saya sesuaikan saja dengan harganya.” terang Eble. Mendengar penjelasan itu, si Caleg marah. Mukanya merah, dan matanya mendelik. Siap-siap berubah menjadi Rubah ekor sembilan.

***

Siapa yang tak marah dengan orang munafik. Semua orang munafik itu menyebalkan. Yang terlihat alim, ternyata berandal. Yang terlihat patuh, ternyata membunuh. Yang terlihat baik, ternyata busuk. Seakan-akan mendukung, rupanya menikung. Yang terlihat membangun, ternyata menghancurkan. Seperti itulah orang munafik.

Tentang orang munafik telah dijelaskan oleh Alla dalam firmannya “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”(QS. An-Nisa’: 108-109).

Seorang munafik sering kali membuat kita darah tinggi. Apalagi teman dekat kita sendiri. Di hadapan kita sangat baik dan sok-sok memberi nasihat. Tapi ternyata di belakang kita, dia menjelek-jelekkan. Jadi yang ada di mata orang lain juga jelek. Kita menceritakan semua rahasia kita kepeda si munafik, dan agar tidak diketahui orang lain. Ternyata malah bilang ke semua orang. Benar-benar “sakitnya tuh di sini”. Jadi kita perlu berhati dengan orang-orang seperti ini. Selain menjebak, juga membocorkan rahasia.

Ciri-cirinya, senang bergumul dengan semua golongan. Tidak hanya satu golongan saja yang diikuti, tapi juga bermacam-macam golongan. Jadi tidak menentu akan keberpihakannya. Yang kedua adalah suka berbicara dusta. Sering berbicara yang kebenarannya diragukan, bahkan disalahkan. Kemudian berjanji mengingkari. Suka berjanji, tapi enggan untuk menepati. Seperti para calon pejabat yang tak habis-habisnya memberikan janji pada rakyatnya. Setelah terpilih, tidak ada bukti sama sekali. Selanjutnya, diberi amanat, tapi khianat. Disuruh beli bawang, malah beli lengkuas. Diberi amanat untuk bersekolah, malah bergurau saja.

Dan yang terakhir adalah tidak Istiqamah. Melakukan sesuatu tanpa istiqamah, menandakan masih ada keraguan dalam diri tentang sesuatu itu. Sehingga orang munafik melakukan sesuatu hanya setengah-setengah saja, Tanpa sepenuhnya. Beribadah tidak istiqamah. Padahal diberi amanat oleh Allah untuk beribadah padanya. Belajar tak konsisten. Padahal diberi amanat oleh orang tua untuk belajar.

Makanya, jangan sekali menjadi ‘serigala berbulu domba’, yang gemar ‘menggunting dalam lipatan’ atau ‘membunuh dalam selimut’. Karena itu menyakitkan. Kita juga harus berhati-hati dengan orang macam mereka. Sebab, mereka menghancurkan. Suka menusuk dari belakang. Dan sakitnya tuh di sini.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

Standar Ganda Para Penganjur Demokrasi, Pasca Gagalnya Upaya Kudeta di Turki