Home / Dasar-Dasar Islam / Agama dan Kepercayaan / Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-3)

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-3)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (blogspot.com)
Ilustrasi. (blogspot.com)

1. Syiah Muncul pada Masa Khalifah Utsman bin Affan Ra, atau Setelah Wafatnya

dakwatuna.com – Di antara pendukung pendapat ini adalah Ibnu Hazm dalam al-Fishal, Abdullah bin Hasan al-Hanafi dalam al-farq al-mufārriqah baina ahli a-zaigh wa az-zandaqah, Valhauzen dalam bukunya al-Khawārij wa as-Syī’ah, dan Abdul Aziz ad-Dauri dalam Mukaddimah fī Shadri al-Islām.

Dalam hal ini Ibnu Hazm mengatakan: “Lalu Utsman bin Affan memegang tampuk khilafah selama dua belas tahun hingga beliau wafat. Setelah itu mulailah muncul kelompok Rāfidhah”[1].

Adapun Utsman Abdullah al-Hasan al-Hanafi mengatakan:

“Sebenarnya perselisihan umat tidak terjadi pada masa Abu Bakar, atau Umar atau Utsman, namun setelah terbunuhnya Utsman mulai muncul kelompok Rāfidhah[2].

Pendapat semisal diamini oleh seorang Orientalis bernama Valhauzen. Menurutnya pasca-terbunuhnya Utsman bin Affan muncul kubu Ali bin Abi Thalib, namun demikian kubu ini belum terbentuk sebagai kelompok yang dinisbatkan kepada pengikut Imam Ali kecuali setelah naiknya Muawiyah menjadi khalifah. Valhauzen berkata:

Dengan meninggalnya Utsman, maka Islam terbagi menjadi dua kelompok: Kelompok Ali dan kelompok Muawiyah. Al-hizbu (kelompok) dalam bahasa Arab disebut Syiah, dengan demikian kelompok Ali berhadapan dengan kelompok Muawiyah. Namun setelah Muawiyah naik tahta khilafah, yang bukan sekadar pemimpin dari sebuah kelompok, maka istilah Syiah pada akhirnya hanya dipakai untuk menunjukkan pengikut Ali. Pemakaian term ini juga untuk membedakan dengan kelompok khawarij, yang merupakan lawan politiknya.

Pengangkatan Ali oleh pengikutnya sebagai pemimpin mereka bukan disebabkan oleh karena ia adalah putra pamannya, menantu dan ayah dari cucu-cucunya. Karena pengangkatan pemimpin berdasarkan kerabat dan pewarisan belum dikenal di lingkungan bangsa Arab, apalagi oleh Islam. Sehingga mereka memilih beliau karena dianggap sahabat terbaik”[3].

Abdul Aziz ad-Dauri dalam bukunya -Mukaddimah fī Shadri al-Islam-, mengatakan:

Sebenarnya kelompok Ali atau Syiah al-Alawiyah terbentuk setelah terbunuhnya Utsman bin Affan; dimana terjadinya perpecahan di antara umat Islam menyebabkan munculnya kelompok Ali, sementara meninggalnya Ali memberikan energi yang dapat mensolidkan dan merekatkan para pendukungnya, serta mengkristalkan kecenderungan mereka, hal inilah yang pada akhirnya mendorong terbentuknya Syi’ah”[4].

Ad-Dauri juga menyitir pendapat Ibnu Abi al-Hadid yang mengatakan bahwa penduduk Irak pada saat itu nampak sangat loyal kepada Imam Ali. Mayoritas mereka adalah pendukung dan pengikutnya, namun tidak sebagai pengikut Syiah yang sejati. Hal ini terbukti dengan banyaknya keluhan Imam Ali atas mereka dan banyaknya kritikan beliau terhadap penduduk Kufah dan Irak”[5].

Menurut ad-Dauri, hal ini kembali kepada cara pandang mereka terhadap Imam Ali. Di mana mereka menempatkan beliau sebagai tokoh politik bukan sebagai tokoh agama[6].

Bersambung…

Catatan Kaki:

[1] Ibnu Hazm, al-Fishal fī al-Milal wa al-Ahwā’ wa an-Nihal, (Kairo-Mesir: Maktabah al-Khonji, 1321 H.), hlm. 2/80

[2] Utsman Abdullah al-Hasan al-Hanafi, al-farq al-mufārriqah baina ahli a-zaigh wa az-zandaqah, (t.k: tp., t.t.) hlm. 6

[3] Yulius Valhauzen, al-Khawārij wa-s-Syiah, alih bahasa Dr. Abdurrahman al-Badawi, (al-Kuwait: Wakalat al-matbu’at), hlm. 112;  Dan (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriah, 1998), hlm. 146.

[4] Abdu al-Aziz ad-Dauri, Mukaddimah fī Shadri al-Islām, (Beirut:  al-Matba’ah al-Kathulikiyah, 1960), hlm. 61. Lihat juga Nabilah Abdu al-Mun’im Dawud, Nasy’at as-Syiah al-Imāmiyah, (Beirut: Dar al-Muarrikh al-Arabi, Cet. I, 1994), hlm. 66

[5] Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balāghah, (t.k: , Tp., t.t.), hlm. 1/177

[6] Ad-Dauri, loc.cit. dan Nabilah Abdu al-Mun’im, loc.cit.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Dosen dan Ketua Program Studi Ilmu Aqidah Pascasarjana ISID Gontor Jawa Timur.

Lihat Juga

Yang Terlupakan di Sejarahmu