Home / Dasar-Dasar Islam / Agama dan Kepercayaan / Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-1)

Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Syiah Dua Belas Imam (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (blogspot.com)
Ilustrasi. (blogspot.com)

Pengantar

dakwatuna.com – Mayoritas ulama dan peneliti Syiah Dua Belas Imam, tak terkecuali di Indonesia, berpendapat bahwa Syiah lahir di masa kenabian. Konsekwensi logis dari pendapat ini adalah  bahwa Syiah dan seluruh ajarannya merupakan Islam itu sendiri yang otentik dan orisinil. Ditebar dan disemai oleh Rasulullah sendiri.

Namun, pendapat ini mendapat kritik tajam dari kalangan ulama dan peneliti Ahli Sunnah, sebab pendapat tersebut, menurut mereka bertentangan dengan sejarah, realita, serta teks-teks wahyu. Sebab jika inti dari ajaran Syiah adalah “al-Imāmah melalui Nash wa al-washiyyah” (Teks dan Wasiat), maka pemikiran seperti ini tidak ditemukan secara otentik muncul pada masa kenabian, namun masa-masa berikutnya.

Berikut ini ulasan pendapat para ulama dan peneliti Syiah seputar kelahiran dan perkembangan Syiah sekaligus studi kritis atas pendapat-pendapat tersebut:

  1. Syiah Muncul pada Masa Kenabian

Hampir seluruh ulama Syiah berpendapat bahwa Syiah muncul di zaman Rasul. Menurut Muhammad Husain az-Zain al-Amily[1] dan Makruf al-Husaini[2], Rasul adalah penebar benih pertama tasyayyu’ (kesyi’ahan) serta penyemainya melalui perintah-perintah yang selalu ditaati. Rasul pula yang telah memberi kabar gembira bahwa Ali dan pengikutnya telah mendapatkan ridha dari Allah, akan masuk surga, dan berada di samping kiri dan kanan Nabi serta demikian pula Ahli Baitnya.

Pendapat seperti ini dianut pula oleh an-Naubakhti dan al-Qummi, melalui definisi mereka berdua tentang Syiah, bahwa Syiah adalah kelompok Ali bin Abi Thalib di zaman Rasul, yang kemudian dikenal sebagai pembela Ali, selanjutnya mengangkatnya sebagai Imam (khalifah).

Syeikh as-Shaduq, juga mengumpulkan beberapa Hadis yang menunjukkan bahwa Syiah muncul di zaman Nabi, karena beliaulah yang pertama kali memerintahkan kepada para Sahabat untuk mencintai Imam Ali. Nabi juga memberi sugesti bahwa mereka akan masuk surga.

Seorang ulama Syiah kontemporer lain, Muhammad al-Husain Ali al-Kasyif al-Ghitha’, juga berpendapat semisal. Menurutnya, orang yang pertama kali meletakkan benih tasyayyu’ (kesyiahan), adalah peletak syari’at itu sendiri. Benih itu disemai bersamaan dengan proses penyemaian Islam itu sendiri. Selama beliau masih hidup, tanaman itu terus-menerus disiram dan dijaga, hingga berkembang dan membesar setelah wafatnya[3].

Thabathabai juga berpandangan yang sama. Menurutnya, awal mula kemunculan Syiah adalah pada masa kenabian. Saat itu kelompok ini dikenal dengan julukan Syi’atu Ali (pengikut Ali). Menurutnya, kemunculan dan penyebaran Islam yang memakan waktu hingga dua puluh tiga tahun pada masa kenabian itulah yang menyebabkan munculnya kelompok seperti ini di antara para Sahabat[4].

Seorang penulis Amerika dalam bukunya Hādhir al-Ālam al-Islāmy, Lotrop Stodard, turut memperkuat asumsi ini. Menurutnya, nama pertama yang muncul dalam Islam pada masa kenabian adalah Syī’ah, nama ini dikenal sebagai penamaan atau panggilan bagi empat orang Sahabat, yaitu: Abu Dzar, Salman al-Farisi, Miqdad, dan Ammar bin Yasir, demikian berlanjut hingga peristiwa Shiffīn, dimana mereka dikenal sebagai pendukung Ali[5].

Intinya, mayoritas ulama Syiah berpendapat bahwa Syiah muncul dan berkembang pada masa kenabian, dan Rasulullah yang pertama kali meletakkan benih tasyayyu’ (kesyi’ahan) tersebut serta menyemainya, sehingga dengan demikian Syiah –menurut mereka- merupakan Islam itu sendiri.

Berdasarkan hal-hal di atas, para penganut Syiah menaifkan pandangan yang menyatakan bahwa Syiah merupakan mazhab yang lahir dari rahim sang Yahudi Abdullah bin Saba’. Pandangan naif ini –menurut mereka- tidak mungkin dipegang kecuali oleh mereka yang terkena penyakit fanatisme[6].

Kritik dan Komentar 

Namun, apa yang mereka sebut sebagai benih pertama itu hakikatnya tidak lebih dari sekadar manāqib (pujian) terhadap Imam Ali. Pujian semacam ini juga disampaikan oleh Nabi kepada Sahabat lainnya, terutama 10 orang yang dijanjikan masuk surga “alasyarah al-mubas-syarūn bi al-jannah“. Sejumlah pujian tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Imam atau khalifah, setelah Rasul.

Jika benar apa yang mereka persepsikan, mengapa setelah wafatnya Rasul, justru benih tersebut tidak berkembang apalagi berbuah. Buktinya pasca-meninggalnya Rasul, Imam Ali sendiri tidak kemudian mengasingkan diri serta membentuk masyarakat tersendiri secara eksklusif, akan tetapi beliau juga berbaur dengan masyarakat Islam lainnya, serta ikut serta secara aktif dalam semua aktifitas sosial dan politik negara Islam saat itu.

Dan jika benar apa yang mereka persepsikan, bukankah realita seperti ini justru menguatkan pandangan bahwa Nabi Muhammad telah gagal dalam menjalankan misinya? Jika Rasulullah gagal semestinya Islam belum mencapai titik paripurna. Hal ini tentunya bertentangan dengan ayat 3 dari Surat al-Maidah. Dan jika Islam belum mencapai puncak kesempurnaannya, maka tidak mungkin Rasul dipanggil menghadap Allah sebelum misinya tercapai.

Mungkin timbul pertanyaan: Bukankah peristiwa minimnya pengikut seperti itu, serupa dengan apa yang terjadi dengan Nabi Isa, dimana pasca-wafatnya beliau, penganutnya ditindas, dan agamanya tidak dianut kecuali oleh beberapa orang saja?

Jawabnya: Tentu saja tidak serupa. Kenabian Muhammad Saw adalah kenabian penutup dan pamungkas. Sementara kenabian Isa As, tidak. Kenabian pamungkas harus bersifat paripurna, karena tidak akan diutus Nabi lain setelah beliau, karenanya sepeninggal Beliau Saw. ajarannya sudah harus paripurna secara konsep dan teraplikasikan secara nyata.

Bersambung…

Catatan Kaki:

[1] Muhammad Husain az-Zain al-Amily, As-Syiah fī at-Tārīkh, (Beirut: Dar al-Atsar li at-Tiba’ah wa an-Nasr, 1979), hlm. 37

[2] Makruf al-Husaini, Ushūl at-Tasyrī’, (Beirut: Dar al-Qolam), hlm. 17

[3] Muhammad al-Husain Ali Kasyif al-Ghita’, Ashlu as-Syiah wa Ushūluhā, (Beirut: Matba’ah al-A’lami, t.t), hlm. 44

[4] Muhammad Husain at-Thabathaba’i, As-Syī’atu fī al-Islām, (t.k:  t.p., t.t.), hlm. 23

[5] Lotrop Stodard, Hādhir al-Ālam al-Islāmy, (Beirut: Daru-l-Fikr, t.t.), hlm. 1/188

[6] Muhammad Husain al-Amily, As-Syiah fī at-Tārīkh, hlm. 37-38.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Dosen dan Ketua Program Studi Ilmu Aqidah Pascasarjana ISID Gontor Jawa Timur.

Lihat Juga

Polisi Prancis Serbu Pusat Syiah di Prancis Utara