Topic
Home / Pemuda / Pengetahuan / Manusia dan Akal

Manusia dan Akal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pencilbooks.wordpress.com)
Ilustrasi. (pencilbooks.wordpress.com)

dakwatuna.com – Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Di dalam Alquran Allah telah menyebutkan dalam firman-Nya, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At-Tin : 4)

Allah juga menyebutkan bahwa kita umat muslim adalah umat terbaik yang ada di muka bumi ini, seperti dijelaskan bahwa, “Kamu (umat muslim) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Ali-Imran : 110)

Dari kedua ayat tersebut, kita dapat melihat suatu hubungan. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Sebetulnya apa hal yang membuat kita sempurna dibandingkan dengan para malaikat yang sudah jelas mentaati semua perintah Allah? Ada satu hal utama yang membuat manusia itu sempurna. Hal tersebut adalah akal.

Akal adalah suatu aspek rohaniah dalam tubuh kita yang bisa membuat kita berpikir dan beranalisis untuk membedakan hal yang baik dan buruk dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Akal jugalah yang membedakan manusia dari hewan dan makhluk ciptaan lainnya. Manusia dan hewan sama-sama memiliki perasaan, namun hewan tidak memiliki akal untuk berpikir lebih lanjut dalam mengambil sebuah keputusan, namun hanya mengandalkan insting. Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berpikir dan mempergunakan akal yang telah Allah berikan seperti pada ayat-ayat di bawah ini,

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.“ (QS Al Hasyir: 21)

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Al Jatsiyah: 13)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS Az Zumar: 42)

“Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS Al A’raf: 176)

Dari ayat-ayat di atas jelas sudah bahwa Allah memang memerintahkan manusia untuk berpikir menggunakan akalnya. Dengan akal tersebut manusia juga bisa memilih jalan hidupnya. Akal pulalah yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Ada orang-orang yang justru berpaling dan tidak mau menggunakan akalnya untuk kebaikan dan kebenaran.

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS Al Maidah : 58)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mempergunakan akal?” (QS Al An’am: 32)

“Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak mempergunakan akal?” (QS Al Mu’minun: 80)

Kedudukan akal dalam Islam sangatlah penting. Islam hanya berlaku bagi orang yang memiliki akal. Bagi orang yang tidak memiliki akal, syari’at Islam tidak berlaku. Anak-anak yang belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta orang yang gila tidak dibebankan untuk menjalankan shalat, zakat, puasa, pergi haji, dan kewajiban-kewajiban lainnya dalam Islam. Hanya orang yang berakal dan mampu berpikir sajalah yang secara sadar memahami bahwa meninggalkan kewajiban-kewajiban itu adalah termasuk sebuah dosa kepada Allah.

Selain kata-kata akal, dalam Alquran juga terdapat banyak ayat yang menyebutkan kata Ulul Albab yang bermakna hampir sama. Ulul Albab adalah orang yang mau berpikir dan mempergunakan akal mereka untuk menelaah kebesaran Allah dan selalu belajar, menghapal, serta mengingat. Semua kata-kata itu menuju arti kata yang yang sama, yaitu akal atau otak untuk berpikir.

Ayat-ayat di atas juga dengan jelas menerangkan bahwa Allah mencela orang-orang yang tidak mau mempergunakan akal mereka untuk mencari kebenaran dan tidak mau mempergunakan akal mereka untuk mencari rahasia kehidupan. Allah mencela mereka dengan beberapa ungkapan sebagai berikut, “Apakah kamu tidak mempergunakan akal?”, “Apakah kamu tidak berpikir?”.

Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa dalam beragama, kita sebagai manusia harus mempergunakan akal kita. Namun yang harus diperhatikan adalah, akal tidak kita jadikan segala-galanya sehingga kita pada akhirnya melanggar atau mengingkari perintah serta wahyu Allah swt. Jika kita melanggar wahyu Ilahiyah, maka sudah tidak berarti lagi beragamanya kita, Alquran, serta teladan dari Nabi Muhammad saw. Hal tersebut karena kita lebih mengutamakan akal dan mengesampingkan wahyu Ilahiyah. Oleh karena itu, tetap ada batasan-batasan yang tegas antara mana yang harus menggunakan akal, dan mana yang harus diterima sebagai suatu ketentuan Allah swt, yang disampaikan melalui Rasulullah (Alquran ataupun As-Sunnah). Batasan-batasan dalam mempergunakan akal antara lain :

  1. Ketentuan dari Allah swt yang bersifat syari’at yang bersifat aturan wajib dan tidak bisa diakal-akalkan. Contohnya adalah jumlah raka’at dalam setiap shalat, dan posisi shalat shaf perempuan di belakang shaf laki-laki. Semua aturan syari’at tersebut harus mengikuti tata cara yang dicontohkan Rasulullah saw.
  2. Hal-hal yang bersifat ghaib. Contohnya adalah berita tentang kehidupan setelah hari Kiamat, Surga, dan Neraka. Hal-hal tersebut tidak perlu dipertanyakan dan harus diterima apa adanya. Manusia tidak akan sanggup dan bisa membongkar rahasia di baliknya karena pengetahuan tentang hal ini hanya pada Allah swt dan Rasul-Nya.
  3. Segala aturan yang telah ditetapkan di dalam Alquran seperti haramnya suatu makanan dan minuman. Contohnya adalah haramnya daging bagi dan minuman keras (khamr). Selain itu juga perbuatan-perbuatan haram seperti bermain judi dan juga riba.

Begitulah kedudukan akal bagi seorang manusia. Manusia yang berakal adalah dia yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Manusia yang beruntung sejatinya adalah manusia yang dengan akalnya dia justru bisa lebih mengenal dirinya dan lingkungannya sehingga bisa lebih dekat kepada Allah swt sebagai pencitpa segala sesuatu.

Wallahu’alam bis shawwab.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi jurusan Teknik Kimia UI angkatan 2012. Aktif di organisasi Lembaga Dakwah Fakultas sebagai Wakil Kepala Bidang PSDM (Pembinaan Sumber Daya Muslim). Penerima Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri Regional 1 Jakarta angkatan VII. Menyukai membaca buku-buku pengembangan diri Islam dan buku-buku sejarah Islam. Motto hidupnya adalah Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Jika kamu tidak memiliki apa-apa, maka kamu tidak bisa memberi apa-apa.

Lihat Juga

Surat Cinta untuk Perempuan

Figure
Organization