Topic
Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Membaca Basmalah dan Shalawat di Awal Majelis dan Membaca Kaffaaratul Majlis

Membaca Basmalah dan Shalawat di Awal Majelis dan Membaca Kaffaaratul Majlis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (hdn)
Ilustrasi (hdn)

dakwatuna.com – Tentu kita sering mendengar, khususnya bagi para aktifis organisasi keislaman, ketika di awal sebuah pertemuan, rapat, bahkan seminar dan ta’lim, pembawa acara biasanya mengajak sekaligus mengingatkan peserta untuk membaca Basmalah dan Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hal ini baik dan masyru’, dan sebaiknya dilakukan karena kesadaran masing-masing tanpa harus menunggu diingatkan oleh pembawa acara.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَا يَذْكُرُونَ فِيهِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ

“Tidaklah suatu kaum duduk di majelis, dan mereka tidak menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla di dalamnya, dan tidak bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan akan menimpa mereka kesedihan pada hari kiamat, dan jika mereka masuk ke dalam surga itu adalah karena ganjarannya.”

Takhrij Hadits:

  • Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 9965. Lihat Musnad Ahmad dengan tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, Syaikh ‘Adil Mursyid, dan lain-lain. Katanya hadits ini shahih sesuai syarat Syaikhan.
  • Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 591, 592
  • Imam Ath Thabrani dalam Al Awsath 4831, juga dalam Ad Du’a No. 1926
  • Imam Al Hakim, Al Mustadrak, 492/1, katanya shahh sesuai syarat Bukhari
  • Imam Al Haitsami, beliau mengatakan: “Diriwayatkan Ahmad, rijalnya adalah rijal hadits shahih.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 10/79. 1408H-1988M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut.
  • Syaikh Al Albani mengatakan; “isnadnya shahih.” Lihat As Silsilah Ash Shahihah 1/116, No. 76. Darul Ma’arif – Riyadh. Lihat juga Shahih At Targhib wat Tarhib 1513. Cet. 5. Maktabatul Ma’arif – Riyadh.

Berkata Al ‘Allamah Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah:

فعلى كل مسلم أن يتنبه لذلك ، و لا يغفل عن ذكر الله عز و جل ، و الصلاة على
نبيه صلى الله عليه وسلم ، في كل مجلس يقعده ، و إلا كان عليه ترة و حسرة يوم
القيامة .

“Maka, wajib bagi setiap muslim diingatkan hal ini, dan jangan sampai dia lalai dari menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dan bershalawat kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada setiap majelis yang dia berada, jika tidak, dia akan jauh dan menyesal pada hari kiamat nanti.” (As Silsilah Ash Shahihah, 1/118)

Sedangkan membaca Kaffaaratul Majlis juga memiliki dasar yang kuat dalam Islam. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh banyak sahabat nabi, kami sebutkan beberapa saja.

Dari Abu Barzah Al Aslami Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كان رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول بأخرة إذا أراد أن يقوم من المجلس “سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك” فقال رجل: يارسول اللّه إنك لتقول قولاً ما كنت تقوله فيما مضى فقال: “كفارةٌ لما يكون في المجلس”.

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan pada akhir jika dia hendak bangun dari majelis: “Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhna engkau mengatakan perkataan yang tidak engkau katakan pada waktu yang lalu.” Beliau menjawab: “Itu sebagai kaffaarah (penebus kesalahan) terhadap apa yang terjadi di majelis.” (HR. Abu Daud No. 4859, Syaikh Al Albani mengatakan hasan shahih. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/49 )

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من جلس في مجلس فكثر فيه لغطه فقال قبل أن يقوم من مجلسه ذلك: سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك إلا غفر له ما كان في مجلسه ذلك

Barangsiapa yang duduk dalam majelis, lalu di dalamnya banyak kegaduhan, maka hendaknya dia berkata sebelum bangun dari majelisnya itu: “Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu.” Melainkan akan diampunkan baginya terhadap apa-apa yang terjadi di majelis tersebut. (HR. At Tirmidzi No. 3433, beliau mengatakan: hasan shahih gharib. Sementara Syaikh Al Albani mengatakan shahih)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوم من مجلس إلا قال سبحانك اللهم ربي وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك فقلت له يا رسول الله ما أكثر ما تقول هؤلاء الكلمات إذا قمت قال لا يقولهن من أحد حين يقوم من مجلسه إلا غفر له ما كان منه في ذلك المجلس

Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun dari majelis melainkan dia mengucapkan: “Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu.” Lalu ‘Aisyah berkata: “wahai Rasulullah, betapa banyak engkau ucapkan kalimat itu jika engkau bangun dari majelis.” Beliau bersabda: “Tidaklah seseorang mengucapkan kalimat itu ketika dia bangun dari majelis, melainkan akan diampunkan baginya terhadap apa-apa yang terjadi di majelis tersebut.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shaihain No. 1827. Katanya: isnadnya shahih, dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari- Muslim)

Dari Jubeir bin Muth’am Radhiallah ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من قال سبحان الله وبحمده سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا اله الا انت استغفرك واتوب اليك فقالها في مجلس ذكر كان كالطابع يطبع عليه ومن قالها في مجلس لغو كانت كفارة له.

Barang siapa yang mengatakan: “Maha Suci Allah dan Pujian bagiNya, Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu.” Maka, mengucapkannya di majelis dzikir bagaikan penutup yang mempercantiknya, dan orang yang mengucapkan di majelis yang melalaikan maka itu sebagai penghapus dosa baginya. (HR. Al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 10/423, katanya: rijalnya adalah rijal hadits shahih. Al Hakim, Al Mustadrak, No. 1970, katanya: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Disepakati oleh Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 6430)

Maka, membaca doa ini ketika di akhir majelis memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa, baik majelis dzikir atau majelis lainnya, walau berpotensi pertemuan yang melalaikan.

Berkata Imam Al Munawi Rahimahullah:

فيتأكد ذكر الله ، و الصلاة على رسوله عند إرادة القيام من المجلس ، و تحصل
السنة في الذكر و الصلاة بأي لفظ كان ، لكن الأكمل في الذكر ” سبحانك اللهم
و بحمدك ، أشهد أن لا إله إلا أنت ، أستغفرك و أتوب إليك ، و في الصلاة على
النبي صلى الله عليه وسلم ما في آخر التشهد

“Maka, dianjurkan untuk menyebut nama Allah dan bershalawat atas Rasul-Nya ketika hendak bangun dari majelis, dan kesimpulannya bahwa sunnah dalam berdzikir dan shalawat dengan lafaz mana pun, tetapi yang lebih sempurna adalah dzikir dengan: Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan memujiMu, Aku bersaksi Tiada Ilah Kecuali Engkau, aku memohon ampunanMu, dan aku bertobat kepadaMu. Sedangkan bacaan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bacaan yang ada pada akhir tasyahud.” (Faidh Al Qadir, 5/560. Cet.1. 1415H-1994M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut)

Wallahu A’lam

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
Avatar
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Lihat Juga

AS Tumbang, Dua Pertiga Negara di Dunia Menentang Keputusan Trump Terkait Al-Quds

Figure
Organization