Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / 17 Mutiara di Negeri Dua Nil

17 Mutiara di Negeri Dua Nil

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Mar’ah El Mahbuubah)
(Mar’ah El Mahbuubah)

dakwatuna.com – Layaknya mutiara yang akan selalu bernilai tinggi di manapun berada. Laksana penyejuk ketika melihatnya. Masihkah ada di sekitar kita?

Khartoum, 31 Oktober 2013

Bandara Khartoum, suasana pagi ini mungkin sangat asing bagi mereka. Aroma, bahasa, tingkah laku bahkan gaya hidup pun sangat asing bagi mereka. Akhirnya mereka berhasil keluar bandara dengan aman tanpa hambatan satupun, Alhamdulillah. Melewati jalan pintu keluar bandara, mereka disambut hangat oleh para senior.

Menjadi anak baru di negara orang bukan hal yang mudah tapi mereka yakin dengan ukhuwah semua ini bisa mereka jalani bersama. Satu bulan pertama mereka ditempatkan di Dakhiliyah Khos (asrama khusus). Waktu satu bulan penuh, mereka habiskan dengan berbagai Ijroat (administrasi), mulai dari Ijroat Jami’ah (administrasi kampus), Ijroat Tasjil Ajanib (pendataan warga asing), Ijroat Iqomah (izin tinggal), dan Ijroat Dakhiliyah (administrasi asrama). Saat itu, mereka masih mengandalkan jasa kakak senior.

Memasuki bulan kedua, mereka mulai merasakan masa sulit tanpa kakak senior,mereka memulai semuanya. Semuanya mulai berubah sedikit demi sedikit. Dan inilah yang membuat mereka semakin bersemangat untuk menjadi mutiara yang dicari oleh semua orang. Ahsan Minal Ams (lebih baik dari kemarin).

Perubahan itu dimulai di sini, Negeri Dua Nil!

Negeri dua nil, negeri penuh kesabaran, negeri tempaan bagi mereka calon mutiara yang dicari. Menjalani masa ini, mereka banyak mengalami berbagai cobaan hidup. Inilah hidup yang sesungguhnya, hidup di negara Sudan, negara yang sangat terkenal dengan kesabarannya dan tempaan hidupnya. Bagi sebagian orang mungkin akan mengatakan hal yang sama jika sudah menginjakan kaki di negeri ini.

17 Mutiara, mulai melebarkan sayap semangat belajarnya di 4 Universitas terkemuka di Sudan. Nida’ul Mufidah Fauziaty (Ushuluddin), Ikromah Fathiyah (Ushuluddin), Tri Retnowati (Dakwah), Nabilah Sholihah (Dakwah), Mar’ah Luthfiyatul Mufidah (I’lam,Hubungan Internasional) adalah mutiara Omdurman Islamic University. Nina Mariana (Lughoh ‘Arobiyah), Annisa Nurjannah (Lughoh ‘Arobiyah), Maryam Afifah (Lughoh Arobiyah), Nur Azizah (Lughoh Arobiyah), Azmiyah Husna (Syari’ah,Ushul Fiqh) adalah mutiara University of Holy Qur’an and Islamic Science. Hafshoh Sholihah, Tsurayya Afra Mufidah, Nusaibah Azzahra, Alvia Khonsa, Aisyah Nur Fadhilah, Azzahra (Syari’ah) adalah mutiara Internasional University of Africa. Qorri Aini Karimah (Tarbiyah) adalah mutiara Zaim Azhar University.

Mereka bukan seperti mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang tapi mereka adalah mahasiswa yang berkualitas (Insya Allah). Mereka adalah mahasiswa yang bukan hanya aktif di pendidikan formal (kuliah) saja tapi mereka aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) putri. Setiap hari Kamis sore, mereka mengikuti Kajian Nahwu, Jum’at mengikuti Halaqoh Quran. Bahkan ada beberapa program dari kampus yang mengharuskan mereka untuk mengorbankan waktu bersantai.

Dunia masak memasak pun mereka tak kalah hebat karena mereka hidup bersama di asrama. Mereka dituntut mandiri dan bisa masak sendiri. Awalnya mereka semua belum bisa masak tapi karena keadaan Sudan lah mereka dituntut bisa masak. Inilah kelebihan mahasiswa luar negeri, mereka dituntut bisa masak sedini mungkin.

Tempat tinggal mereka pun terpisah-pisah, bahkan ada salah satu di antara mereka yang tinggal di asrama didalamnya hanya ada satu orang Asianya. Betapa kuat dan sabarnya dia menghadapi semua ini. Tidak setiap hari dia bisa makan nasi layaknya kita yang ada di Indonesia. Butuh perjuangan untuk bisa makan nasi, bahkan seminggu sekali dia baru bisa makan nasi ketika berkumpul bersama teman-temannya di acara Halaqoh Quran.

Dua di antara mereka mendapatkan cobaan di awal memasuki kuliah. Qobul (surat diterima disuatu kampus) di Jami’ah Alquranul Karim Madani. Tingkat kesabaran mereka melebihi mutiara-mutiara yang lain. Dua mutiara ini, harus mengeluarkan kesabaran lebih karena mereka harus mengalami Tahwil (pindah) kuliah, karena di Madani belum ada akhwat Asia, kebanyakan yang dapat Qobul di sana harus Tahwil. Dan Alhamdulillah, hasil kesabaran mereka berbuah sangat manis, mereka sekarang adalah mutiara di International University of Africa.

Salah satu dari mereka ada juga yang mendapatkan Qobul (surat diterima di suatu kampus) jurusan I’lam (Hubungan Internasional). Tahun-tahun sebelumnya belum pernah ada mahasiswa yang mendapatkan jurusan I’lam. Sesuatu yang sangat luar biasa bagi dia yang mampu bertahan. Alhamdulillah, dia tidak mengambil tindakan Tahwil (pindah). Berjuang di jurusan I’lam bagi orang asing seperti dia tanpa teman dari Asia itu sangat sulit mungkin bagi sebagian orang namun bagi dia itu hal yang sangat menantang. Sabar, Ikhlas, dan Syukur adalah kunci yang dia miliki hingga dia mampu bertahan di jurusan yang langka bagi mahasiswa indonesia yang kuliah di negara Timur Tengah.

13 mutiara lainnya sangat menginspirasi, mereka pernah merasakan tinggal di Dakhiliyah Khos Sudaniyah (khusus orang Sudan). Bagi para Ajanib (orang asing) tinggal bersama Sudaniyah sangat menyenangkan. Mereka sangat menikmatinya tapi bagi sebagian orang mungkin ini hal yang sangat menyedihkan. Benar sekali, kamar mereka di lantai 3, air sering mati, susah listrik, jauh dari Baqolah (toko), bangunan yang kurang memadai, fasilitas sangat minim, samping kanan dan kiri asrama bangunan industri dan bengke-bengkel besar. Setiap pagi, mereka harus berjuang berjalan melewati deretan mobil besar dan tumpukan ban bekas serta genangan oli mobil. Panasnya Sudan tidak mengalahkan semangat mereka untuk pergi ke kampus karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana mendapatkan ilmu bukan bagaimana mendapatkan kelayakan hidup warga asing di negara orang.

Mereka para mutiara, memiliki kebanggan sendiri-sendiri, cara sukses yang berbeda tapi tujuan mereka satu, berjuang untuk kembali! Kembali ke tanah air dengan sejuta semangat dakwah. Bahkan mereka memiliki komitmen untuk menyelesaikan hafalan Alquran mereka di Negeri Dua Nil ini. Komitmen yang sangat berat namun bisa mereka lakukan dengan ukhwah, Subhanallah.

‘Azzam mereka yang kuat mampu mematahkan segala bentuk tantangan, Kesabaran mereka yang extra mampu mengalahkan amarah mereka, keikhlasan mereka mampu menghilangkan keluh kesah mereka dan rasa syukur mereka mampu membuat mereka bertahan di Negeri Dua Nil ini. Mereka mampu menjadi mutiara-mutiara yang selalu dicari banyak orang.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mahasiswi Omdurman Islamic University jurusan Ilam (Hubungan Internasional). Tinggal di khartoum, Sudan. Anggota BIDPUAN PKS Sudan. Aktivitas kuliah dan dakwah.

Lihat Juga

Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

Figure
Organization