Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar Kepada Burung Gereja

Belajar Kepada Burung Gereja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (peam.es)
Ilustrasi (peam.es)

dakwatuna.com – Hari masih subuh, perlahan kubuka pintu dapur. Ohh beberapa burung gereja berhamburan terbang menjauh, lalu bertengger cantik di kanopi rumahku. Rupanya burung gereja tadi tengah mencari remah-remah makanan di dapur .

Terdengar kicauannya yang merdu, aku tersenyum, mungkin burung tadi sedang bertasbih memuji Sang Pencipta. Bukankah hewan pun bertasbih, namun kita tak memahami bahasa mereka?

Setelah mengambil air minum, aku pergi meninggalkan dapur, dari balik jendela kulihat burung kecil tadi kembali datang, kembali mencari rezeki untuk dibawa pulang ke sarangnya..

Teringat olehku sebuah hadits. Rasulullah Saw bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rezeki , sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Ia pergi di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut yang kenyang. (H.R Tirmizi).

Menurut imam Ahmad rahimahullah, hadits ini tidak menunjukkan larangan melakukan usaha, bahkan sebaliknya menunjukkan kewajiban mencari rezeki yang halal karena makna hadits ini adalah kalau manusia pergi untuk mencari rezeki, ketika mereka kembali dan ketika mereka mengerjakan semua aktivitas dengan meyakini semua kebaikan adalah ada di tangan Allah, maka mereka pasti kembali dalam keadaan selamat dan mendapatkan limpahan rezeki dari-Nya.

Ya, tawakkal bukan berarti pasrah, menyerah dengan keadaan tanpa berikhtiar. Tetapi sebaliknya tawakal bermakna gigih berusaha dan yakin bahwa Allah telah menjamin rezeki dan kebaikan bagi hamba-Nya.

Allah Swt berfirman: “Jika shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Q.S al Jumu’ah: 10)

Menyaksikan aktivitas burung kecil di dapurku membuatku berpikir..

Subhanallah, sungguh burung adalah makhluk yang luar biasa. Lalu bagaimanakah dengan kita, manusia, makhluk paling sempurna yang telah dikaruniai akal oleh Allah?

Adakah kita bangun sebelum subuh? Adakah kita berjuang gigih menjemput rezeki yg telah dijamin oleh Allah? Adakah kita bertasbih memuji-Nya? Adakah kita bersyukur? Adakah kita bertawakkal?

Astaghfirulllah.. Ampuni kami ya Robb mungkin kami tak lebih baik dari makhluk-Mu yg bernama burung…

Kadang kami sulit bangun subuh karena kantuk, kadang kami merasa lelah dan berputus asa dalam mencari rezeki.. Kami pun lalai bertasbih memuji-Mu.. Bahkan tak jarang kami lupa bersyukur kepada-Mu.. Hati ini pun masih belum sepenuhnya bertawakal, menggantungkan segala harapan hanya kepada-Mu..

Allahumma inni as aluka ‘ilmaa naafi’aa, wa rizqaa thoyyabaa, wa ‘amalaa mutaqobbalaa

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amalan yang diterima.” (H.R. Ibnu Majah)

Saudaraku, semangat mengepakkan sayap, berjuanglah menjemput rezeki tanpa lelah seperti burung yang terus terbang walau gravitasi bumi menghadang, lalu pulanglah kembali pada keluargamu, membawa rezeki nan halal, jangan lalaikan bertasbih memuja-Nya… bersyukur atas segala limpahan nikmat dari-Nya, dan sematkan selalu iman dan tawakkal di dalam dada.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK