Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Generasi Quran, Untuk Al-Aqsha adalah Harapan

Generasi Quran, Untuk Al-Aqsha adalah Harapan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Jailul Quran Lil Aqsha ‘Unwaan”, Hanya Generasi Quran yang akan mendapat alamat jelas untuk membuka gerbang Al-Aqsha. Berangkat dari kalimat bijak ini saya memulai tulisan sederhana untuk mengajak pembaca menyusuri sejarah. Lagi-lagi sejarah, mengapa tidak?

Karena ia adalah ilmu para pemimpin, dan kesenangan para Ulama.

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Alquran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka)” (QS Fushilat: 26). Lika-liku sejarah umat ini terhampar jelas dan diriwayatkan dengan rinci olah para Ulama. Dalam kebangkitan, ada sebab. Dalam kejatuhan, ada musabab.

Satu tolak ukur sederhana untuk menilai kapan umat Islam terjerembab dalam kejatuhan, dan kapan zaman emas Umat Islam berbangkit diri dan memimpin zaman. Jawabannya satu; Alquran. Bukankah Rasulullah bersabda, “Dengan Alquran, Allah mengangkat derajat suatu kaum, dan menghinakan derajat suatu kaum”? Masya Allah, maka di sinilah sejarah akan menemukan kembali mutiaranya yang telah hilang, menemukan nafas segar setelah lama bersesak-sesak dalam ketidakpastian.

Alquran meninggikan Umat ini ketika dekat dengannya. Alquran menjatuhkan umat ini ketika jauh darinya.

***

1096 Masehi, Kaum Muslimin jatuh. Kekuasaan Umat Islam terpecah-pecah. Di Mesir hegemoni Syiah Ubaidiyah berkuasa, dan menutupi kedzalimannya dengan menamai diri mereka ‘Fathimiyah’. Di pesisir Syam, 22 Negeri Eropa membangun koloni, berpusat di kota Suci Yerusalem. Para Amir saling membela musuh, dari rakyat muncul pemberontakan, setiap kota mengklaim sebagai Negara sendiri yang berdiri pribadi.

Sungguh jatuh. Namun kejatuhannya tidak berlangsung lama. Mengapa? “Dengan Alquran, Allah mengangkat derajat suatu kaum, dan menghinakan derajat suatu kaum”, dan Para Ulama dengan gesit memulai langkah, berlomba-lomba mengarahkan Umat untuk kembali mempersiapkan kebangkitannya.

Di era sekalut itu, lahirlah Imam Ghazali dan menulis banyak kitab-kitab hebat. Dengan bekal Alquran sebagai sumber berpikir, beliau mendirikan sekolah-sekolah, mendidik pemuda-pemuda dan memunculkan Generasi Qurani, sebuah respon cepat yang akan mengubah suasana kejatuhan menjadi mesiu kemenangan.

Sebelumnya di tahun 1071, Manteri Dinasti Islam Seljuk bernama Nizam Al-Mulk membuat sekolah akademi ‘Qurani’ yang mengumpulkan pemuda muslim terbaik dari seluruh negeri, menempa mereka dengan Quran, ilmu perang, politik dan pemerintahan.

Dengan Alquran, lahirlah kemenangan. Hasil pendidikan gagasan Nizam Al-Mulk kemudian melahirkan seorang panglima besar Qurani bernama Aaq Sankar, lalu mempunyai anak bernama Imaduddin Zanki, lalu dari Imaduddin yang mempertahankan tradisi Qurani itu, lahirlah anaknya Nuruddin Zanki sang Generator Jihad. Dari inspirasi Nuruddin yang berjiwa Qurani itu, terbitlah Shalahuddin yang membebaskan Al-Aqsha dengan Quran telah di dada semua pasukan.

“Dengan Alquran, Allah mengangkat derajat suatu kaum, dan menghinakan derajat suatu kaum”, dan dengan Alquranlah sejarah Umat Islam secara nyata telah kembali jaya.

***

1492 Masehi. Tahun itu adalah tahun kesedihan yang sangat. Sebuah peradaban besar berakhir dengan terhina. Islam di Andalusia yang terbit menggema di awal 711 Masehi lewat perantara Tariq bin Ziyad itu, harus menelan pil pahit pengusiran Kerajaan Aragon dan Castillia yang berakhir di kota Granada.

Mengapa Kaum Muslimin jatuh? Padahal peradaban Islam di sana begitu megah dan agung? Jawabnya sederhana dengan sebuah kisah bisa menjawabnya.

Realitas menceritakan bagaimana akhlaq Raja Muslim di saat masa-masa sebelum pengusiran itu. Para Amir bersibuk diri membangun istana dan kastil-kastil. Para ilmuwan bersibuk dengan ilmu pasti dan meninggalkan khazanah Islam yang sejatinya menjadi sumber kekuatan Umat Islam. Para Rakyat menangis bukan karena ketinggalan berjihad, mereka menangis karena ditinggal kekasih dan terbuai dengan musik-musik parau yang berkisah tentang cinta.

Bagaimana dengan Alquran di era itu? Adakah perhatian Kaum Muslimin Spanyol di sana? Ada, namun mereka tak menjadikannya acuan dalam berhukum. Hanya orang-orang tua yang masih mandawamkan membaca kalamullah, sementara generasi Mudanya telah sibuk dengan musik, minuman keras, dan saling berbangga diri dalam busana.

Maka bencana. Ya, bencana. Tahun 1492 Peradaban Islam di Spanyol runtuh dengan sekejap. Walaupun Istana megah Al-Hambra masih kokoh berdiri, namun aqidah telah lama mati di sana. Jika seandainya saat itu masyarakat memeluk erat Alquran, maka saat ini Islam masih tetap bertahan di semenanjung Iberia itu. Namun naas, ketika datang Kerajaan Kristen dari Perancis memberangus kaum muslimin disana, begitu cepatnya masyarakat muslim memurtadkan diri, karena takut ancaman pedang.

***

“Jailul Quran Lil Aqsha ‘Unwaan”, Hanya Generasi Quran yang akan mendapat alamat jelas untuk membuka gerbang Al-Aqsha. Saat itu tahun 1967, ketika Bangsa Arab yang terdiri dari koalisi besar Pan Arabisme (persatuan bangsa Arab atas dasar ras dan kebangsaan) pimpinan Gamal Abdul Naser benar-benar malu terpukul kalah ke semak belukar. Perang melawan Israel itu menghasilkan kejatuhan moril bangsa arab. Bagaimana tidak? Koalisi besar itu kalah oleh satu Negara yang kesemuanya pendatang, terlepas dari bantuan Amerika dalam kemenangan Israel, bangsa Arab benar-benar pulang ke negerinya dengan rasa malu.

1967, saat itu pasca Israel berdiri menegaskan diri sebagai Negeri Penjajah, sementara kaum muslimin terpecah. Perang-perang fisik sering Kaum Muslimin dijajah dan kalah. Dalam ranah ideologi, kaum muslimin terliberalkan dengan sistem sekularisme. Para lelaki lebih memilih berjas dan bertopi koboy dibanding datang ke masjid untuk berjamaah shalat. Para wanita berbangga dengan rok ala eropa dan membawa keranjang sambil berlenggak-lenggok ke pasar.

“Jailul Quran Lil Aqsha ‘Unwaan”, Hanya Generasi Quran yang akan mendapat alamat jelas untuk membuka gerbang Al-Aqsha. Dari 1948 saat Israel berdiri, sampai 20 setelahnya hampir tidak ada yang menyuarakan Alquran sebagai solusi, kecuali sangat sedikit dan terkalahkan dengan agenda sekularisasi Arab.

Dan dari Gaza cahaya Quran lahir. Gaza saat itu terpojok, masyarakat hidup dalam keputusasaan. Lalu seorang Ulama bernama Syaikh Ahmad Yasin melihat kondisi itu, dan menawarkan masyarakat Gaza yang secara geografis terisolasi itu untuk memuliakan diri mereka dengan Alquran. Saat itu pantai Gaza dipenuhi wanita yang membuka aurat, judi menjadi-jadi, dan kriminalitas merambah hebat.

Dengan Alquran sebagai obat, Syaikh Ahmad Yasin membina masyarakat. Beliau berkeliling masjid, menceritakan sejarah Shalahuddin dan jiwa Quraninya. Membuat pusat-pusat pendidikan Islam yang memuat kurikulum Qurani. Dan membuat yayasan Sosial yang dalam praktek kerjanya mengajak masyarakat untuk kembali dekat dengan Alquran.

“Jailul Quran Lil Aqsha ‘Unwaan”, Hanya Generasi Quran yang akan mendapat alamat jelas untuk membuka gerbang Al-Aqsha. Apa yang terjadi setelah itu? Syaikh Ahmad Yasin telah berhasil ‘mengAlqurankan masyarakat dan memasyarakatkan Alquran’. Pantai-pantai tak lagi ramai dengan maksiat. Rumah Judi berubah menjadi madrasah Quran.

Gaza telah menjadi Kota Alquran. Dan “Dengan Alquran, Allah mengangkat derajat suatu kaum, dan menghinakan derajat suatu kaum”. Dari Gaza, intifadhah bermula, era kebangkitan masyarakat Palestina dengan Alquran sebagai poros juangnya. HAMAS lahir di sana, dengan Alquran sebagai kekuatan utamanya.

Sehingga seorang Pemikir Arab menyatakan statemennya yang begitu jujur, “Pada saat kami kecil, kami menganggap bahwa Zionis Yahudi menjajah dan menguasai Gaza. Lalu saat kami dewasa kami baru paham bahwa ternyata Zionis Yahudi memang telah menjajah Bangsa Arab kecuali Gaza!!..”

Alquran sebagai akhir dari pencarian panjang Umat Islam Palestina setelah berkutat dengan nasionalisme kebangsaan dan segala perjuangan yang hanya mengangkat kemerdekaan secara hampa yang dihembuskan PLO dan Fatah. Alquran jawabannya, Alquran jalannya, menuju apa? Menuju pembebasan Al-Aqsha. Karena “Generasi Quran, untuk Al-Aqsha adalah Harapan”

***

Generasi Quran, untuk Al-Aqsha adalah Harapan.

Mari berkaca dan menemukan jawaban. Dengan Alquran lah kebangkitan jadi nyata. Bukan dengan teori dan pendidikan sekuler yang membangga-banggakan kebebasan yang tak terarahkan. Kemenangan akan begitu nyata jika setiap jiwa mengAlqurankan dirinya. Mengkaji, mentadabburi, menghafalnya lalu mengamalkannya.

Bukan dengan senjata umat ini bangkit. Bukan dengan pendidikan ala Barat Umat ini bangkit. Bukan dengan diskusi adu domba dan menyalahkan lawan politik lalu umat ini menang. Generasi Quran, untuk Al-Aqsha adalah Harapan! Dengan Alquran akan kita selamatkan Al-Aqsha!

 

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Tentang

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir | Alumni SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang | Alumni Ponpes Husnul Khotimah Kuningan

Lihat Juga

Erdogan Siapkan Generasi yang Paham Agama dan Menjadi Harapan Umat