Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Adab Menasihati

Adab Menasihati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Muslimah dialog simpatikdakwatuna.com – Kita, kehilangan adab saat menasihati. Padahal kita tahu, bahwa nasihat itu meski baik tapi penerimaan bergantung pada cara memberinya. Nasihat yang baik tak akan teraba jika pemberiannya seperti memukul wajah -orang yang akan dinasihati- dengan keras saat ada nyamuk yang hinggap, niat baik, namun menyakiti, tak akan masuk di hati. Coba saja :D

Ustadz Salim A Fillah pernah mengibaratkan seperti, pemberian uang yang banyak dengan koin yang dilempar di wajah akan berbeda rasanya dengan pemberian uang yang meski sedikit tapi diberikan dengan santun, dengan senyum, dan dengan keramahan. Berbeda. Begitupun dengan nasihat kita, yang kini semakin kehilangan adab :(

Dan kini izinkan saya membahas tentang nasihat-menasihati dalam jantung organisasi yang kita geluti, organisasi yang katamu untuk perbaikan negeri. Sekaligus sebagai evaluasi diri sendiri yang pernah bergabung dalam beberapa organisasi.

Mengamati perkembangan organisasi yang tumbuh dan menumbuhkan orang-orang hebat, dalam geliat bukti kerja, dalam senyap agenda-agenda rahasia, dalam keterikatan ukhuwah, menyatukan visi, menyatukan misi, karena Allah dan untuk Allah. Saya percaya, seperti yang biasa terucap bahwa organisasi itu bukan perkumpulan para malaikat, saya pun meyakini bahwa di dalamnya juga bukan perkumpulan para setan, maka saling berbenah adalah juga bagian dari kerja-kerja yang tak ringan. Mengutarakan pendapat, menuang ide, dan menasihati. Kerja tak mudah, penuh kesabaran demi kesabaran dalam perjuangannya.

Namun mengapa perlahan, nampaknya kita kehilangan cara terbaik dalam pemberian nasihat. Lidah kita begitu terburu-buru untuk menasihati hingga tak melihat bahwa ini bukan tempat dan saat yang tepat dalam menasihati. Mestinya kita tahu, bahwa nasihat yang diutarakan di depan umum adalah bukan nasihat, seperti yang kita teladani dari Imam Ahmad ibn Hanbal ketika berniat menasihati Harun ibn Abdillah, ia menasihati dalam bisik, dalam sunyinya malam hingga ketukan pintu samar terdengar. Tak ingin ada yang tahu, hingga dari waktu yang 24 jam pun beliau pilih yang paling larut untuk menasihati. Nasihat pun sampai pada yang tertuju, hingga niat memperbaiki diri pun hadir, karena halusnya cara, sunyinya suara, dan jelitanya adab. Terbaik dalam menasihati.

Mestinya kita mampu, menjaga hati saudara kita agar tak tersakiti sebab nasihat yang tak tepat, tak tepat dalam tempat dan tak tepat dalam ucap. Mestinya kita mau, memilah dan memilih setiap ucap yang akan kita hembuskan dalam desah nasihat sebagai bukti cinta terhadap saudara kita. Memilih kata yang tetap menjaga haknya sebagai saudara, memilah ucap yang semestinya terucap atau tersimpan rapi dari lisan kita.

Semoga mampu meneladani dengan sebaik-baiknya adab dalam menasihati. Lagi-lagi tentang adab. Tak memarahi (yang pada sebagian orang ini termasuk cara menasihati) dalam forum, tak merasa paling benar dalam penyampaian, tak menambah-nambahi kekurangan hingga mengorek aib, tak memaksa meminta jawab dalam kesaksian beberapa mata yang melihat. Betapa tak perlu. Niat menasihati jangan sampai tertampak sebagai niat ‘menguliti’ saudara kita. Di depan umum kita tampakkan segala kesalahannya, segala kekecewaan kita padanya, hingga tak ada kesan baik yang ada pada dirinya. Saudara kita bagai terdakwa atas sebuah kesalahan yang mungkin juga kita turut andil dalam kesalahannya, tapi bertubi-tubi kita tumpahkan yang seolah salah hanya dia. Kemudian kita berkilah, ini sebagai ajang nasihat.

Bagian mana yang nasihat? Kalau justru saudara kita merasa ditampar berkali-kali mukanya? Nasihat kah atau menyiksakah? Mestinya sebelum menasihati seseorang, terlebih dulu kita harus menasihati diri, menasihati agar hati-hati dalam pemberian nasihat. Menasihati diri bahwa saudara kita memiliki hak untuk tetap dijaga kehormatannya, tetap dihormati kedudukannya, dan tetap dirahasiakan aibnya. Agar kemudian kita merenungi cara-cara terbaik dalam pemberian nasihat, nasihat yang kelak benar-benar mengevaluasi kita dan saudara kita.

Betapa kami perlu bimbingan-Mu Rabb…

Mari kita bebenah, berapa banyak saudara yang tetap berjuang bersama hingga akhir? Mengapa semakin hari semakin terhitung jari? Tanyakan pada sejuknya hatimu, sebab nasihat yang menyakitkankah? Atau memang sebab seleksi alam yang membuat mundur yang ingin mundur? Sebelum menyalahkan alam, mari mengevaluasi kebersamaan selama ini.

Tak ingin menyalahkan, hanya saja mari kita tengok tentang saudara-saudari dari awal masa berjuang, pertengahan, hingga akhir perjuangan. Adakah yang kini perlahan mundur dengan tenang tanpa lambaian tangan tanda perpisahan? Adakah kita tanya sebab dari mundurnya beberapa orang yang dulu berjanji akan berjuang bersama hingga akhir masa berjuang? Adakah dulu nama mereka tak luput dari nasihat yang tak tepat? Hingga mungkin menyisakan ruang kecewa pada mereka yang kini berlepas. Adakah kita memahami sebelum menghakimi saudara kita? Jika semua tanya ini berjawab ada, maka mungkin kitalah yang layak dinasihati, agar tak lagi menumbangkan kawan yang semestinya masih berjuang. Agar memperbaiki segala sakit atas rasa yang kini tersusun rapi disudut kecewa saudara-saudara kita. Agar kita tahu, bahwa yang selama ini layak dinasihati bukan hanya dia, bukan hanya diri, tetapi masing-masing kita, tanpa niat saling serang, dengan tetap santun dalam menasihati. Kemudian terciptalah rasa saling memahami, rasa saling memiliki dan rasa saling lain-lainnya.

Sungguh, sekali lagi saya tak ingin membuat teman-teman berhenti untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Tetaplah menasihati, karena nasihat adalah tanda bahwa di dalam hati kita masih ada cinta untuk sesama. Tetaplah menasihati, karena membiarkan kedzaliman justru tanda penyakit hati. Tetaplah menasihati, dengan manisnya kata, senyum yang mempesona, jelitanya akhlak dan teriringnya doa.

Tetaplah menasihati, duhai saudaraku, dengan cinta dan karena cinta.

Patut kita renungi nasihat sang imam:

“Nasihati aku kala sunyi dan sendiri; jangan di kala ramai dan banyak saksi. Sebab nasihat di tengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak, maka maafkan jika aku berontak.” (Asy-Safi’i)

Teriring harap semoga ada nasihat dari untaian nasihat ini, apakah benar sesuai adab ataukah ada yang perlu dinasihati lagi.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati dalam menaati kebenaran dan nasihat menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-Asr: 1-3)

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Muslimah lulusan BK UNJ yang kini sedang mengisi hari untuk dunia pendidikan. Mengajar adalah kehidupan. Hidup adalah untuk menyampaikan kebenaran, yaitu dengan mengajar

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Organization