Topic
Home / Berita / Opini / Tiang Benderaku dari Bambu

Tiang Benderaku dari Bambu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo)
(Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo)

dakwatuna.com – Anak-anak berlarian ke sana kemari, bermain segala jenis permainan tradisional tanpa sedikit pun pernah mempertanyakan mengenai kondisi sekolahnya. Lantai kelas yang telah rusak, dinding yang tak nyaman lagi untuk dipandang hingga tiang bendera untuk mengibarkan bendera merah putih kebanggaan bangsa INDONESIA ini pun tak luput dari pandangan mereka, tiang ini hanya terbuat dari batang bambu yang di lumuri cat berwarna putih agar menyerupai tiang dari besi yang sesungguhnya.

Miris memang kondisi sekolah yang seperti ini, apalagi boleh dikatakan daerah sekolah ini dekat dengan ibukota negara. Sungguh perwujudan yang jauh dari kata layak, di balik hingar bingar indahnya gemerlap ibukota, para pejabat yang duduk nyantai di kursi empuknya dengan honor yang tiap bulan mekucur dengan nyaman di kantong sakunya hingga banyaknya para koruptor yang tersenyum di balik mobil mewahnya.

(Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo)
(Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo)

Sungguh miris, di balik kegemahan suatu sistem pemerintahan yang hanya memntingkan ego belaka, tanpa mau melihat kondisi di daerah pelosok pedalaman provinsi banten. Inilah sekolahku tempat mengabdiku selama setahun ke depan, SDN KUTAKARANG 1 yang berada di kampung sodong gantung desa kutakarang kecamatan cibitung kabupaten pandeglang provinsi banten.

Jauh dari pusat kecamatan, butuh waktu beberapa jam untuk tiba di kecamatan dengan menempuh perjalanan dengan medan yang luar biasa, batu dan jalan berlubang sudah biasa, apalagi becek ketika hujan mengguyur menjadi pemandangan yang wajar di kampung ini. Para warganya pun sudah terbiasa dengan itu semua.

Andai saja para pejabat pemerintahan yang hobinya “blusukan” sesekali mendatangi daerah yang bisa saya katakan “ekstrim” ini, mencoba untuk merasakan sedikit aktivitas wong cilik. Apakah ada yang siap? Itulah pertanyaan yang paling besar dalam benakku saat ini. Paling juga tak ada yang bersedia, bersusah payah kayak gitu. Kalaupun ada, palingan hanya sampai kecamatan doang. Sungguh betul-betul miris. Semoga bisa menggugah rasa kepedulian kita semua dengan adanya tulisan ini. Aamiin.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Bendera, Literasi, dan Titik Temu

Figure
Organization