Home / Pemuda / Mimbar Kampus / The Power of Mentoring

The Power of Mentoring

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Facebook)
Ilustrasi. (Facebook)

dakwatuna.com – Mengamati dan menganalisis kejadian sekitar menjadi ciri khas kaum intelektual, apalagi bila turut memberikan solusi dalam berbagai permasalahan sosial. Dalam beberapa kesempatan, sebagian besar dari kita sering jenuh oleh beberapa pekerjaan yang menjadi rutinitas kita. Ingin rasanya menjadi iri kepada mereka yang selalu menjaga, menjaga kehidupannya agar berjalan sesuai kodratnya, menjaga stabilitas hidupnya dengan mengikuti arahan-arahan Rabbani. Arahan-arahan yang berasal langsung dari Tuhannya, arahan-arahan yang tidak terdapat penambahan pendapat-pendapat dari manusia. Arahan yang terjaga kesuciannya dan kevalidannya, tak akan mudah untuk dirubah sesuka hati karena arahan-arahan tersebut telah menjadi kitab suci Umat Islam, yaitu Alquran.

Mereka yang menjaga diri dari kemaksiatan, betapa berbahagianya mereka karena penjagaan terhadap dirinya. Dalam bergaul dengan sesama mereka memiliki batas-batas sesuai apa yang disyariatkan oleh agamanya. Berinteraksi dengan ayah ibunya, kakaknya, adiknya, keluarganya, sahabat-sahabatnya. Selalu menjaga pandangan ketika bergaul dengan lawan jenis, selalu menjaga ucapan, baik ucapan secara lisan maupun tulisan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mereka selalu menunjukkan sikap terbaiknya, mencerminkan akhlak yang baik sebagaimana yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul.

Tingkah laku mereka nyaris sempurna, meskipun terkadang mereka juga harus berhadapan dengan berbagai dinamika kehidupan dan ketetapan Allah. Sebagai manusia biasa, terkadang mereka juga berbuat dosa, namun dari dosa yang telah dilakukan memberikan pelajaran yang berharga bagi mereka untuk terus memperbaiki diri dan memperbaharui niat.

Tubuh mereka kuat, rajin berolahraga, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat merusak tubuh. Mereka menyadari bahwa pekerjaan dan usaha dalam berdakwah bukanlah sesuatu hal yang ringan. Dakwah merupakan tanggung jawab dan tugas mereka, menyadari dakwah tidaklah ringan dan hendaknya dakwah dilakukan dengan totalitas, mereka senantiasa menjaga kesehatan badan mereka sehingga terwujudlah cinta yang hakiki sebagaimana sabda Baginda Nabi bahwa Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah SWT.

Akhlak mereka tercermin dari perilaku mereka yang senantiasa berpedoman pada Alquran dan Sunnah-sunnah Nabi. Mereka selalu berusaha untuk menjaga akhlak mereka agar senantiasa mulia serta dari akhlak mereka ini mereka mampu untuk menginspirasi orang-orang di sekitarnya, agar senantiasa memperbaiki diri. Mungkin sering kita mendengar istilah ‘pacaran’ yang banyak digandrungi oleh anak-anak muda sekarang. Hanya saja, mereka tidak ikut-ikutan untuk ‘pacaran’ sebab mereka memahami dan menilai suatu hal berdasarkan manfaat dan kerugiannya. Tentu saja mereka mengetahui bahwa pacaran lebih besar keburukan dan kerugian yang dihasilkan dibanding manfaat yang didapatkan. Pacaran yang banyak digemari generasi muda zaman sekarang tentu saja memberi dampak buruk bagi generasi bangsa ini. Dan mereka juga telah mengetahui bahwa pacaran juga tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam.

Mereka ini juga bukan anak muda yang patut dianggap remeh pengetahuannya tentang Islam, mereka selalu mempelajari agama dengan bersumberkan Alquran dan Al-Hadits. Selain itu, mereka juga menjadi ahli dalam bidang yang mereka geluti meskipun memang saat ini mereka masih dalam tahap belajar dan terus berproses. Dari sisi finansial juga mereka bukan anak muda yang bias dianggap remeh, mereka juga tetap berusaha menghidupi dan membiayai dirinya sendiri meskipun dengan langkah yang tertatih-tatih serta penuh perjuangan. Hidup mereka sederhana dan tidak bermewah-mewah dan selalu berusaha menjauhi riba. Mereka juga memiliki aqidah yang lurus, dalam setiap kesempatan mereka terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menjaga kebersihan hati, bertaubat, istighfar, menjauhi dosa dan syubhat, dan yang paling utama, mereka ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai Agama, dan Muhammad Nabinya.

Mereka berupaya agar Ibadah yang mereka kerjakan mempunyai landasan yang telah jelas dan valid, totalitas dalam ibadah adalah salah satu kunci kesuksesan ibadah, yaitu dengan menghadirkan hati, pikiran, perasaan, dan seluruh tubuh dalam beribadah, serta tidak berlebihan dalam beribadah. Mereka juga berusaha melawan hawa nafsu, karena mereka menyadari bahwa semakin tinggi kadar keimanan seseorang maka cobaan serta ujian yang diberikan semakin berat pula. Mereka sangat menghargai setiap waktu yang berjalan, dan tidak mengisinya dengan hal-hal yang bersifat sia-sia. Waktu adalah sesuatu yang tak dapat dimundurkan walau sesaat, meskipun dibeberapa cerita fiksi yang sudah mewujud menjadi film layar lebar banyak berceritera tentang keberadaan mesin waktu. Karena waktu yang tak bisa dimundurkan walau hanya sesaat, maka dalam setiap urusan dan aktifitas keseharian mereka teratur dan rapi. Dan mereka selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat bagi orang lain, apalagi bila lifestyle yang mereka jalani mampu menginspirasi, memotivasi, dan membakar semangat orang-orang disekitar kehidupan mereka.

Terlihat sangat ideal bukan? Tetapi tahukah kita semua bahwa beberapa hal yang penulis uraikan di atas adalah sepuluh (10) muwasafat tarbiyah yang hendak dicapai oleh orang-orang yang mengikuti tarbiyah, terkhusus bagi para aktifis kampus tarbiyah yang dimaksud adalah mentoring. Capaian-capaian yang kita semua optimis untuk mencapainya meski tertatih kaki ini melangkah. Mungkin ada bisikan-bisikan muncul yang berasal dari sisi kiri dan kanan kita berbisik tentang mustahilnya mencapai sepuluh muwasafat tarbiyah tersebut. Tetapi, bukankah sebagian besar dari umat manusia adalah seorang pembelajar cepat (quick learning). Seideal apapun capaiannya selalu ada ruang didalam hati dan pikiran rasa optimisme bersemayam.

Bagi para aktifis kampus, baik aktifis kampus kini dan nanti, semuanya bermula dari mentoring, penulis sendiri lebih senang menyebutnya dengan sebutan the power of mentoring. Ada yang tetap konsisten mengikutinya setiap pecan dan ada pula yang hadir hanya sesekali bahkan tidak sedikit yang kita dapatkan dalam berjalannya proses mentoring ada yang tak pernah lagi terdengar kabarnya. Dan kita juga mengetahui bersama bahwa kualitas para mahasiswa yang terbina lewat proses mentoring sangat unggul. Boleh jadi mereka-mereka yang sampai sekarang menjalani proses mentoring dan insya Allah sampai seterusnya, ketika diberi amanah-amanah kepanitiaan, kegiatan, jabatan dan posisi strategis di lembaga kemahasiswaan akan mereka ambil jabatan dan posisi tersebut dengan keyakinan yang mantap. Karena orang-orang yang berkualitas adalah orang yang mau terus belajar dan menjalani proses.

The power of mentoring, mampu mengantarkan orang-orang yang masih konsisten mengikuti proses mentoring tersebut menuju kebahagiaan yang hakiki. The power of mentoring bukan sekedar berbicara tentang kemenangan dakwah kampus semata, tetapi bagaimana caranya kemenangan dakwah tersebut mewujud nyata dalam diri-diri mereka. Mereka yang senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan segala kelemahan mereka sebagai manusia biasa. Beda dengan serial power ranger yang sebenarnya tidak merefleksikan nilai-nilai kepahlawanan dengan sempurna, the power of mentoring hadir sebagai solusi dari para pejuang dakwah kampus. Solusi yang dapat diibaratkan sebagai oase di tengah-tengah gurun yang tandus. Oase bagi mereka yang sedang kehausan akan ilmu-ilmu agama, teladan dalam perilaku, kata-kata motivasi. Oase bagi mereka yang tengah dilanda dahaga, dahaga akan ilmu-ilmu pengembangan diri, penyucian diri, serta keorganisasian dan manajemen kelembagaan mahasiswa. Jadi, tunggu apalagi? Yukk..ikut mentoring.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

IZI dan PT. Indonesia Power Kembali Salurkan Lapak Berkah