Topic
Home / Berita / Opini / Menyongsong Tumbangnya Rezim As-Sisi di Mesir

Menyongsong Tumbangnya Rezim As-Sisi di Mesir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pemimpin kudeta di Mesir, Abdul Fatah As-Sisi (islammemo.cc)
Pemimpin kudeta di Mesir, Abdul Fatah As-Sisi (islammemo.cc)

dakwatuna.com – DR. Mahmoud Khaffagi menegaskan, “Kalian akan segera menyaksikan tebaran kebaikan dari Ikhwanul Muslimin. Hanya perlu sabar sedikit saja!” Ya. Seminggu setelah meninggalnya Raja Abdullah, harapan kembali membahana di seantero Timur Tengah. Peran Raja Abdullah dalam kudeta di Mesir yang menyebabkan 10.000 orang lebih wafat, 100.000 orang terusir dari Mesir, 20.000 orang terluka, 45.000 orang di penjara, merupakan dosa teramat berat yang dipikul Raja Abdullah.

Kini di era Raja Salman bin Abdul Aziz, babak baru Saudi Arabia dimulai. Empat hari setelah resmi berkuasa, Raja Salman langsung meratifikasi perjanjian industri alutsista dengan Turki yang dibekukan sejak kudeta di Mesir. Bahkan Raja Salman melakukan gunting pita, atas kedatangan kapal tempur baru yang diproduksi Turki. Maka poros Saudi-Turki kembali berkibar.

Hal yang sama dilakukan Kuwait. Dubes Kuwait di Kairo menegaskan, Kuwait tidak akan lagi memberi tambahan bantuan untuk pemerintahan As-Sisi. Perlu diketahui, bantuan Kuwait untuk kudeta di Mesir berada di urutan ketiga setelah Saudi Arabia, UAE.

Publik Mesir kini berharap-harap cemas. Kendali kekuasaan di Mesir sebenarnya berada di tangan Panglima AB dan Menhan, Jenderal Shidqi Shubhi. Maka seorang Ahmad Mansour, wartawan senior Almujtama’ berharap, Shidqi Shubhi terketuk hati untuk menebus segala dosa dan kesalahan di masa lalu dengan melakukan kudeta senyap terhadap As-Sisi. Lalu dilakukan rekonsiliasi, pembebasan tahanan politik, pengembalian hak-hak WN Mesir yang dirampas, dan tidak membiarkan Mesir seprti Syiria atau Irak.

Sikap negara-negara Teluk pendukung kudeta, tidak terlepas dari merosotnya harga minyak dunia. Di mana Dewan Kerjasama Teluk mengalami kerugian hampir 215 Milyar Dollar dalam enam bulan terakhir. Selain sikap rakyat di negara-negara Teluk yang “jengah” atas raja-raja dan emir-emir mereka yang lebih memperhatikan Mesir dengan kudetanya, daripada mensejahterakan rakyatnya. Hal ini pula yang mendorong Raja Salman, menggelontorkan bonus 2 bulan gaji dengan total 30 Milyar Riyal untuk rakyat Saudi Arabia.

Jadi, kunci berakhir tidaknya kudeta di Mesir tergantung daya tekan Saudi Arabia terhadap AS. Tekanan akan semakin kuat saat Turki dan Qatar ikut menekan AS. Tentunya dengan tawar menawar, salah satunya Turki mengendurkan dukungan kepada Ikhwanul Muslimin. Mari terus kita cermati!

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Lihat Juga

Mursyid Ikhwanul Muslimin Divonis Hukuman Seumur Hidup

Figure
Organization