Topic
Home / Berita / Opini / Tragedi Charlie Hebdo

Tragedi Charlie Hebdo

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Surat Kabar Charlie Hebdo. (algerie360.com / ROL)
Surat Kabar Charlie Hebdo. (algerie360.com / ROL)

dakwatuna.com – Rabu (7/1/2015) bulan lalu dunia dihebohkan dengan berita penyerangan kantor redaksi Majalah Charlie Hebdo, Prancis oleh tiga orang bersenjata. Akibatnya 12 orang tewas secara mengenaskan dan melukai 24 orang. Salah seorang yang tewas itu adalah kartunis terkenal, Stephane Charbonnier. Dari berbagai sumber terungkap bahwa motivasi serangan bersenjata api yang dilakukan tiga orang itu, adalah karena kemarahannya pada majalah Charlie yang Hebdo telah membuat gambar kartun yang menghina Rasulullah Saw berulang kali. Bagi mereka menghina Rasulullah Saw sama halnya dengan telah menghina keyakinan mereka. Itu sebabnya mereka melakukan semua itu sebagai bentuk pembelaan terhadap keyakinannya

Berita heboh ini disiarkan secara masif dan menjadi berita utama media Prancis baik cetak ataupun elektronik bahkan telah menjadi buah bibir masyarakat dunia. Beragam tanggapan muncul dari tragedi tersebut, namun banyak yang mengecam bahkan mengutuk tindakan kekerasan ini yang dapat dikategorikan sebagai tindakan terorisme.

Berkaitan dengan kasus ini, Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Sedunia (IUMS), Dr. Ali Qaradhagi, mengecam aksi serangan tersebut. Beliau mengatakan, “Aksi ini adalah perbuatan dosa dan benar-benar dikecam, siapa pun yang melakukannya. Serangan ini sama sekali tidak akan membawa kebaikan kepada negara dan bangsa. Tujuannya hanyalah menciptakan kondisi genting yang akan penuh dengan kerusuhan antar pemeluk agama yang berbeda.”

Sementara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk serangan tersebut dan mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada pemerintah dan rakyat Perancis, khususnya terhadap keluarga para korban. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa tindak kekerasan apapun tidak dapat dibenarkan. Pemerintah Indonesia mendukung upaya Pemerintah Perancis menangkap dan mengadili para pelaku. Kemenlu menjelaskan, dari hasil koordinasi dengan KBRI Paris, tidak ada korban warga negara Indonesia dalam tragedi tersebut.

Jejak Kontroversi Charlie Hebdo

Dewan redaksi majalah kontroversi Charlie Hebdo, sejak tahun 2009 di pimpin oleh Stephane Charbonnier, 47 tahun. Pria yang akrab dipanggil Charb ini merupakan seorang kartunis ternama yang kerap menuai kecaman karena kartun pelecehannya terhadap Nabi Muhammad. Beberapa tahun berselang, di bawah kepemimpinannya,Charlie Hebdo menerbitkan majalah dengan sampul bergambar kartun Nabi Muhammad yang mengenakan sorban dengan satu lingkaran berisi tulisan “100 cambukan jika kalian tidak mati karena ketawa.” Akibat sampul penghinaan tersebut, kantor Charlie Hebdo sempat dilempari bom molotov pada November 2011.

Namun Majalah tersebut tidak berhenti menerbitkan karya kontroversial. Pada September 2012, meski terjadi kemarahan global atas film anti-Islam berjudul “Innocence of Muslims,” majalah ini menerbitkan edisi yang menampilkan kartun (maaf) Nabi Muhammad telanjang dan gambar sampul di mana Nabi Muhammad naik kursi roda yang didorong oleh seorang Yahudi Ortodoks. Sampul majalah tersebut menuai kecaman dari masyarakat internasional.

Seperti dilaporkan CNN, sebelum serangan penembakan, majalah Charlie Hebdo edisi terbaru bersampulkan karya karikatur Perancis kontroversial Michel Houellebecq. Sampul tersebut menggambarkan seorang dengan topi penyihir, tengah merokok dan mengatakan, “Pada tahun 2022, saya akan ikut (puasa) Ramadhan”. “Ini mungkin terdengar sombong, tapi aku lebih suka mati dengan berdiri daripada hidup namun harus berlutut,” kata Charbonnier bernada pongah kepada koran Prancis, Le Monde.

Sangat ironis, malapetaka yang menimpa Charlie Hebdo, tidak membuat jera majalah tersebut. Soalnya, pada edisi terakhir (14/1) satu minggu setelah kejadian, majalah Charlie Hebdo masih tetap memuat karya kontroversi dengan cover majalah yang menampilkan karikatur Nabi Muhammad dengan jubah putih yang tengah menitikkan air mata sambil memegang kertas bertuliskan ‘Je Suis Charlie‘. Edisi terbaru ini diterbitkan sebanyak 3 juta eksemplar dalam 16 bahasa jauh lebih banyak dari edisi sebelumnya yang hanya sekitar 60 ribu eksemplar. Hal inilah yang akan menyebabkan tersulutnya kembali kemarahan umat Islam dan akan melahirkan teror baru namun demikian tokoh Islam mengingatkan umat Islam untuk tidak terpancing dan tidak melakukan tindakan anarkis karena akan merusak citra Islam dan membahayakan umat Islam Prancis secara keseluruhan.

Pelajaran Berharga

Penghinaan dan pelecehan terhadap Rasulullah merupakan persoalan besar yang sangat memiriskan hati. Setiap muslim tentu merasa terhina ketika Rasul yang dicinta justru dihina dan dicaci secara keji melalui media. Namun demikian untuk menghadapi persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan secara kekerasan apalagi sampai menumpahkan darah. Cara ini bukannya bisa menyelesaikan persolan tetapi justru menimbulkan persoalan baru yang akibatnya lebih dahsyat lagi dengan merebaknya kembali semangat Islamofobia (kebencian terhadap Islam). Akibatnya perlakuan yang tidak baik di alamatkan pada umat Islam Prancis seperti intimidasi, pengrusakan masjid dan Islamic Centre.

Kalau kita kembali melihat sejarah, bagaimana Rasulullah menghadapi setiap persoalan yang menimpa diri dan agamanya. Maka banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik, di antaranya. Rasulullah tidak pernah melakukan tindakan kekerasan dalam menyelesaikan suatu persoalan.. Dalam hidupnya, Rasulullah sering dihina, dibilang gila, tukang sihir, pengacau dan gelaran yang menyakitkan hati namun semua itu dihadapi dengan tenang dan tidak emosional. Rasulullah menyadari bahwa apabila hinaan itu dibalas dengan hinaan juga apalagi dengan tindakan kekerasan atau pembunuhan maka akan menimbulkan bahaya yang lebih besar. Itu sebabnya ketika sahabat ingin merespon dengan keras perlakuan orang kafir, Rasulullah melarangnya dan meminta sahabat agar bersabar sembari berusaha menggencarkan dakwah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas umat Islam. Hasilnya luar biasa ketika Islam Berjaya dan mempunyai kekuatan di Madinah, maka tidak ada lagi penghinaan dan pelecehan terhadap Rasulullah bahkan justru orang-orang berlomba-lomba masuk Islam dan menyanjung dan bersalawat pada Rasulullah.

Kasus pelecehan dan pencemaran nama baik Rasulullah seperti yang dilakukan oleh Charlie Hebdo tidak berdiri sendiri. Banyak media barat yang anti Islam melakukan hal yang sama atas nama kebebasan ekspresi atau bahkan bentuk permusuhannya terhadap Islam dan umatnya. Makanya, ada beberapa langkah yang harus dilakukan umat Islam dunia terutama umat Islam yang ada di Prancis. Pertama, umat diharapkan tenang dan tidak terprovokasi dengan setiap bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap Rasulullah dan agama kita. Dengan sikap ini maka tindakan yang tidak diinginkan seperti kekerasan dapat dihindari. Sering orang melakukan tindakan kekerasan atas nama pembelaan terhadap agamanya. Padahal semua itu justru kontroversi dari misi Islam itu sendiri sebagai rahmatan lilalamin. Akibatnya stigma teroris dapat melekat kuat dalam image kebanyakan masyarakat barat.

Kedua, penolakan pencemaran dan pelecehan agama dapat dilakukan dengan demonstrasi yang santun dan harus menghindari berbagai bentuk kekerasan. Demonstrasi ini merupakan bentuk tekanan terhadap media yang bersangkutan atas prilakunya yang telah menghina dan merendahkan umat Islam dan agamanya. Dengan demonstrasi yang santun yang dihadiri oleh ribuan umat Islam maka diharapkan media tersebut akan lebih hati-hati karena mendapatkan perlawanan dari komunitas umat Islam.

Ketiga. Melawan dengan jalur hukum. Ulama dan umat Islam dapat membawa kasus ini ke ranah hukum. Melalui usaha ini diharapkan pemerintah yang bersangkutan dapat mengambil tindakan hukum terhadap kejahatan kemanusiaan dan keagamaan yang dilakukan oleh sebuah media. Sejatinya, pemerintah Prancis harus melindungi keyakinan warganya sekalipun minoritas. Di samping itu peran politik dan lobi tokoh Islam sangat menentukan keberhasilan dalam memperjuangkan aspirasi umat Islam di negara barat.

Keempat. Negara Islam dan Negara Arab hendaknya bersatu menekan Negara Prancis untuk dapat memberi sanksi pada majalah Charlie Hebdo karena telah memprovokasi umat Islam. Negara Islam harus mendorong penyelesaian kasus ini melalui hukum yang adil dan tidak memihak sehingga efek domino dari tragedi ini tidak berlanjut. Usaha untuk melindungi umat Islam Prancis dari intimidasi dan gerakan Islamofobia yang dirasakan akibat tragedi Charlie Hebdo perlu juga menjadi perhatian pemimpin Islam dan negara Arab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Resmi, Pegawai Sektor Publik di Quebec Kanada Tak Boleh Kenakan Simbol Agama Selama Bekerja

Figure
Organization