Topic
Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya

Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya".
Cover buku “Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya”.

Judul: Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya
Pengarang: Aprilina Prastari dan Miyosi Ariefiansyah
Penerbit: Qibla
Tempat Terbit: Jakarta
Cetakan I: 2013
Jumlah Halaman: 160 halaman

 

dakwatuna.com – Nikah muda ternyata bisa menjadi dambaan atau bahkan momok bagi sebagian orang. Tapi apa dikata akan banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk memutuskan nikah muda. Apalagi bagi perempuan banyak pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya. Apakah dengan menikah akan mematikian potensi? Masih bolehkah saya bekerja setelah menikah nanti?

Dalam buku ini penulis menyajikan resep menikah muda yang sehat. Secara detail memaparkan menikah muda yang tidak memberatkan orang tua, yang tidak menghalangi meraih cita-cita, dan siap menjadi orang tua muda. Pembaca juga bisa belajar dari kisah kegagalan dan keberhasilan para orang tua yang menikah muda.

Pada bagian pembahasan tentang sebelum menikah. Penulis menyarakan agar kita melakukan analisis SWOT (Strong, Weakness, Opportunity, Threats) terlebih dahulu bila memutuskan untuk menikah muda (halaman 13). Strong atau kelebihan nikah muda yaitu mampu belajar bertanggung jawab sejak dini, lebih bisa menjaga hati, belajar dewasa, belajar untuk bisa membuat keputusan, mengurangi stress, dan belajar meraih kesuksesan dari nol. Weakness atau kekurangan nikah muda yaitu rentan terhadap perceraian dan perselingkuhan, rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga, rentan terhadap permusuhan tak berujung, stres dan depresi, serta karier tidak berkembang.

Opportunity atau kesempatan yang salah satunya dapat diraih jika menikah muda adalah memiliki anak di usia muda. Patut disyukuri bagi mereka yang mengalaminya, karena artinya jarak usia orangtua dengan anak tidak terlalu jauh. Jarak yang cukup dekat dapat menguntungkan kedua belah pihak. Dari pihak anak, mereka merasa nyaman ketika bercerita dengan orangtua. Sedangkan dari pihak orang tua, mereka masih kuat menemani anak dalam tubuh kembang (halaman 29). Threats atau tantangan menikah muda bisa berasal dari sisi internal maupun eksternal. Dari sisi internal, tantangan menikah muda paling banyak dialami oleh para pelaku nikah muda adalah restu orangtua (halaman 30).

Komitmen dengan pasangan sebelum menikah seperti urusan tinggal di mana setelah menikah penting untuk dikomunikasikan sebelum menikah. Tinggal di rumah orang tua, tinggal di rumah mertua, mengontrak, atau membeli rumah. Bila terpaksa tinggal di rumah orang tua kita sendiri tentu kita harus pandai menempatkan diri. Selesaikan persoalan yang ada pada diri pasangan hanya dengan kalian berdua saja. Jika harus tinggal di rumah mertua sebaiknya perlu mempelajari kebiasaan di rumah calon mertua sehingga ketika pindah tidak terkejut dan bisa cepat menyesuaikan diri.

Masih banyak lagi penjabaran seperti kesiapan calon suami atau calon istri, pertimbangan istri untuk bekerja. Bahkan untuk sekarang ini berada di rumah saja istri tetap bisa berpenghasilan entah dengan cara berdagang atau berkarya.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswi Biologi yang tengah menyelami dunia tulis-menulis. Sampai saat ini tergabung dalam Forum Lingkar Pena untuk melatih kemampuan menulisnya. Tulisan resensinya pernah dimuat di harian ternama Jakarta.

Lihat Juga

Principal’s Award, Apresiasi untuk Anak-anak Berprestasi

Figure
Organization