Home / Pemuda / Cerpen / Paman Radit Pahlawanku

Paman Radit Pahlawanku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Sejak hari itu, hari-hariku menjadi kelabu. Matahari berhenti memijarkan sinarnya dan angin seolah tak mau lagi mengusir awan kelam dalam jiwaku. Setiap hari adalah kesedihan. Setiap pagi adalah kesepian. Tangan bidadari itu kini tak pernah muncul lagi, dan sang pahlawan superku kini hilang entah kemana. Tak ada yang menarik, menyangga ataupun memeluk. Aku dan adikku bagai anak ayam kehilangan induknya. Kami bagaikan anak singa yang kehilangan Ayah teladannya. Ya, kedua penuntun hidup kami telah hilang dan tak kembali lagi. Ayah dan Ibuku telah pergi.

Aku hampir mengira bahwa kami pasti akan hidup sebatang kara. Bagaimana tidak? Setahun sebelum pesawat yang ditumpangi Ayah dan Ibuku jatuh, seluruh saudara kami dari keturunan ayah dan Ibu meninggal karena dasyatnya gelombang Tsunami di Aceh. Aku hanya punya Adek perempuanku Indri yang masih berusia empat tahun. Walau usiaku sudah remaja, anak SMA kelas satu sepertiku belum mengerti arti mengikhlaskan takdir dariNya. Aku menggugat takdir. Kenapa tuhan seolah tidak adil bagiku. Setiap pagi aku menangis. Merengek seperti anak SD. Meminta Ibu dan Ayah segera kembali. Berita di TV semakin menjadi-jadi saat kepingan peaswat itu mulai ditemukan. Oh tuhan begitu pahit hidup ini. Sampai akhirnya seberkas cahaya itu datang menghampiri.

“Indri sayang… Sini Nak, kamu tahu tidak kalo nasi yang kita makan bisa nangis?”

“Kok nangis Paman? Paman Radit bikin nasi gorengnya sambil marah-marah ya?” Aku tertawa kecil mendengar Indri. Paman Radit memang banyak akal untuk mengajarkan hal baru bagi Indri. Aku melanjutkan tugasku membuat segelas susu untuk Indri dan kopi pahit untuk Paman. Sementara paman Asyik mengajari Ina doa sebelum dan setelah makan.

“Bukan sayang… mereka akan menangis jika kita lupa mengawali makan dengan berdoa, Indri lupa belum membaca basmalah ya…?”

“Hehe… Bis..milla..hirrahma..nirrahim…”.

“Pinter… kalo tiap hari Indri makannya pakai basmalah, lama-lama nanti bisa pinter kayak Kak Ashma tuh, dapet peringkat satu terus di kelasnya”.

“Occe Paman”. Aku kembali tersenyum mendengarnya.

Paman radit adalah pahlawan bagiku dan Indri. Sebelum kejadian itu paman Radit tinggal di Jakarta sementara keluarga kami tinggal di Bandung. Paman adalah teman baik Ayah dan Ibu sejak mereka kuliah di Fakultas Kedokteran dulu. Sebelumnya, paman Radit hanya memgunjungi kami saat liburan ke Bandung saja. Setelah kejadian itu, paman sengaja tinggal di Bandung menemani kami. Paman kini bekerja sebagai dosen di salah satu fakultas kedokteran di Bandung. Saat aku bertanya kenapa paman sampai rela menemani kami di Bandung, paman hanya menjawab,

“Satu jam sebelum kejadian itu, Ayahmu menelpon Paman. Tanpa sebab dia berwasiat untuk menitipkanmu sekeluarga pada Paman”. Hubungan teman yang sudah menjadi ikatan keluarga kata paman.

“Dulu, Paman, Ayah dan Ibumu adalah aktivis di masjid Fakultas kami. Senang susah kami hadapi bersama. Kau tahu saking luar biasanya kami, biasanya kami rapat rutin setiap jam setengah enam pagi. Kami kumpul di mesjid. Padahal setelah itu kami harus melanjut belajar untuk pretest di laboratorium FK. Tapi Alhamdulillah Ashma. Kami selalu yakin, jika kami menolong agama Allah, maka Allah menolong kami. Kami tidak pernah tertinggal dan bisa bersaing dengan teman-teman kami yang hanya study oriented”.

Aku salut dengan Paman. Dia multi talenta. Segala bisa. Pekerjaan seorang Ibu rumah tanggapun dia mampu mengerjakan dengan sempurna.

“Kita harus membiasakan kebiasaan baru sekarang. Jangan pernah bilang tidak bisa shalat tahajud, jika kita belum pernah mencobanya terus-menerus selama dua minggu. Paman akan bangunkan kamu termasuk Indri. Setelah shalat subuh berjamaaah nanti Paman dan kamu akan bagi-bagi tugas. Masak dan mencuci piring serta membereskan rumah. Salah satu di antara kita harus mengajari Indri. Kau tau Ashma? Bahwa masa emas perkembangan otak bagi anak kecil adalah usia 1-5 tahun. Jangan sia-siakan masa itu untuk Indri”. Paman begitu bersemangatnya. Kadang aku dan paman berganti peran. Aku memasak paman mengajari Indri. Paman membersihkan rumah, aku mengajari Indri. Setiap hari indri diberi jadwal khusus oleh paman. Satu hari mendengarkan murotal Alquran, sehari berikutnya mendengarkan dan berlatih doa-doa, matematika, sejarah dan akhlaq. Hah.. Paman memang luar biasa.

“Ashma, kerudungmu sudah banyak yang kotor. Besok Paman belikan yang baru ya”.

“Enggak kok Paman, ni masih bersih..”

“Sudah.. besok paman belikan kerudung yang bagus buat kamu”. Sejak saat itulah aku mulai menggunakan kerudung dan baju muslim yang syar’i seperti ibu. Paman menghadiahkannya kepadaku. Paman mengatakan bahwa jika ingin menjadi seorang muslim maka masuklah ke dalam Islam secara sempurna. Jangan setengah-setengah. Paman bilang Allah telah menetapkan aturan berpakaian untuk wanita dalam Alquran. Insya Allah aturan itu akan memuliakan semua wanita di dunia ini.

Sudah satu tahun. Kabar ditemukannya mayat dari korban jatuhnya pesawat itu tak kunjung hadir. Aku masih terus berharap adanya keajaiban. Kadang aku selalu merasa bahwa Allah tidak adil pada kami.

“Semuanya sudah menjadi takdir Allah, Asma.. Kau tahu? Takdir Allah itu dibagi menjadi dua. Takdir baik dan juga takdir buruk. Setiap musibah adalah takdir buruk. Sedangkan setiap hadih, juara, prestasi, rezeki berlimpah adalah takdir baik. Yang dinilai Allah bukanlah baik buruknya melainkan sikap kita dalam menghadapinya. Takdir baik bila disikapi buruk misalnya sombong maka akan berkahir buruk dimata Allah, begitupun sebaliknya”. Begitulah Paman mengajarkanku tentang konsep takdir.

Setiap malam minggu paman rutin mengagendakan jalan-jalan bersama bagi kami. Saat itu suasana malam sangat indah sekali.

“Indri kau liat itu apa Nak?”

“Bintang Paman…”

“Betul sekali, itu semua bintang Nak. Kamu tau siapa yang menciptakan bintang seindah itu?”

“Emm.. Allah Paman..”

“Alhamdulillah… betul Nak.. “

“Ashma… sekali-kali keluarlah dari rumah untuk melihat lingkungan sekitar. Belajar tidak hanya dari buku tapi dapat dari sesama dan alam. Kau sudah tau teori tentang siang, malam, posisi, rotasi dan revolusi bumi, bulan dan matahari. Tinggal kau kaitkan pada Allah dzat yang maha pengatur semuanya. Begitupun dengan ilmu-ilmu yang lain. Bersyukurlah…, ilmu mendekatkan kita dengan dzikir dan dzikir mendekatkan kita dengan syukur”. Aku sangat senang jika paman mulai berdiskusi tentang alam dan agama. Aku lihat Indri juga sudah mulai pintar menulis dan membaca dan mengaji. Paman bilang, Agama dan akhirat adalah utama, dan janganlah lupakan dunia. Ketika Akhirat sudah dipegang maka dunia akan mengikuti.

Tiga tahun sudah paman membersamai kami. Aku diterima di salah satu fakultas kedokteran negeri di Bandung. Sedangkan Indri kini sudah masuk kelas dua SD. Kami sangat mencintai Paman. Paman hadir menggantikan peran Ayah dan Ibu kami. Walaupun tidak akan pernah bisa menggantikan mereka sepenuhnya, setidaknya paman sudah berusaha menjadi orangtua terbaik bagi kami. Kadang aku bertanya pada Paman, kenapa sampai saat ini paman tidak menikah juga? Paman selalu menjawab bahwa ia belum mendapatkan pasangan yang cocok. Suatu saat aku mendatangi teman kerja Paman yang cukup dekat dengan kami, teman paman bilang bahwa sebenarnya Paman Radit sudah mengikhtiarkan untuk menikah. Sudah tiga orang perempuan yang Paman dekati untuk diajak serius menikah namun ketiga-tiganya tidak ada satupun yang mau melanjutkan proses. Saat kutanya alasannya, dengan sedikit terbata-bata sahabat paman berkata,

“Radit memiliki syarat mutlak bagi siapa saja yang mau menikah dengannya”. Aku tercengang saat mendengarnya. Air mataku tak kuasa mengalir membasahi pipi. Paman memberikan syarat bagi siapapun yang akan menikah dengannya, harus mau menerima aku dan Indri sebagai anak mereka.

Saat itu aku masih terisak tangis. Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada paman dan mencoba berdiskusi agar paman bisa melepas kami. Aku rasa kini aku sudah kuat dan aku sanggup mengurus Indri sendiri di rumah. Aku merasa berdosa. Kami sepertinya sudah mengambil waktu berharga milik paman radit yang kami cintai. Pukul 17.00 Paman tiba di rumah sambil menggendong Indri yang baru pulang mengaji dari masjid.

“Paman aku ingin berbicara dengan Paman”. Saat itu paman masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Wajahnya bersinar. Dan senyumannya sangat indah. Sama persis saat ia tersenyum saat pertama kali bertemu kami setelah musibah itu.

“Simpan dulu pertanyaanmu Ashma. Subhanallah.. ini mujizat.. Allahuakbar…”

“Ada apa Paman?”

“Ayo segera kita ke Jakarta. Paman dapat kabar Ibumu masih hidup Ashma”. Subhanallah.. mahasusci Allah zat yang maha atas hamba-hambnaya. Bagai tersambar petir di siang bolong. Awalnya aku sungguh tak percaya. Tiga tahun lebih lamanya. Tanpa kabar apapun dari kecelakaan pesawat itu. Subhanallah… maha suci Allah…

Hatiku terus berdzikir. Aku tak sanggup berkata-kata. Benarkah wanita mulia itu masih hidup? Kami akhirnya tiba di Jakarta. Indri masih tertidur pulas dipangku paman Radit. Aku dan Paman bergegas masuk ke kantor BASARNAS. Air mata ini tak kuasa meleleh. Saat mata ini melihat senyuman bidadari yang aku kenal. Ya, aku mengenalnya walau kami sudah terpisah hampir tiga tahun lamanya. Wajahnya masih bercahaya seperti dulu. Sipit matanya. Lesung pipinya. Senyuman khasnya dan tentu saja padangannya yang selalu meneduhkan. Jilbab besarnya masih seperti dulu. Indah dan cantik jika aku melihatnya. Orang yang selama ini mendidikku dengan sebaik-baik ajaran. Orang yang selalu ada saat aku sedih maupun susah. Orang yang jasanya tidak akan pernah tergantikan dengan apapun. Aduhai ibu. Engkaulah bidadariku.

“Ya Allah Ashma…” dia merangkulku erat. Mengecup kepala dan pipiku. Air matanya membuncah diiringi tangisan suci seorang ibu yang sudah lama memendam kerinduan pada anaknya. Indri bangun dari tidurnya. Paman menunjukan Indri sosok yang selama ini ia cari dan rindukan. Indri menangis memeluk Ibu kesayangannya. Momen itu adalah momen terindah dalam hidupku. Aku besrsyukur. Ini adalah takdir baik dan kami harus menyikapinya dengan baik. Paman memimpin kami untuk bersujud syukur bersama.

Setelah beberapa saat aku bisa menjaga emosiku. Ibu masih tersenyum kepadaku. Kemudian ibu tersenyum kepada Paman Radit yang dari tadi hanya duduk sambil meneteskan air mata. Ibu mulai bercerita tentang peristiwa tiga tahun silam.

“Saat itu cuaca buruk sekali. Pesawat jatuh ke laut. Ibu dan ayah berhasil keluar dan menyelamatkan diri”. Sayang ombak saat itu sangat besar. Ibu dan Ayah pingsan dan dengan kuasa Allah mereka terspu ombak sampai ke wilayah Negara Malaysia. Ibu saat itu hilang ingatan. Ayahpun tidak bisa ibu kenali. Enam bulan dirawat masyarakat sekitar yang masih tradisional, ayah meninggal. Ibu baru bisa mengingat semuanya setelah beberapa minggu kemarin terjatuh dan kepalanya terbentur batu.

Mahasuci Allah ini adalah keajaiban Allah. Setelah semuanya selesai kami bertolak ke Bandung. Kami sampai di rumah dan langsung istirahat. Selepas subuh seperti biasa paman memasak bubur ayam kesukaanku dan Indri. Kami makan bersama di ruang makan.

“Bismillah..hirrahma..nirrahim.. Puji syukur bagimu ya Allah, semoga makanan yang kami makan berkah untuk hari ini..” Kami berdoa bersama dipimpin Indri. Ibu tersenyum melihat Indri yang semakin pintar.

“Tahukah Bu, kalau wortel ini sangat banyak vitaminnya. Paman bilang Allah lah yang menciptakannya yang memiliki warna kuning secantik ini..” AKu hanya tersenyum melihat indri. Ibu tampak berkaca-kaca.

“Nampaknya, kamu sudah mendidik mereka dengan baik Radit”. Ibu tersenyum kepada Paman Radit. Seperti biasa paman Radit hanya mengelak jika ada pujian kepadanya.

“Mereka anak-anak cerdas Nadia. Mereka lahir dari orangtua luar biasa seperti kalian. Aku hanya menjalankan amanah wasiat yang suamimu sampaikan”. Ibu hanya tersenyum dan meneteskan air mata.

“Dan kau Ashma.. Alhamdulillah kau kini sudah berhijab syar’i. Ibu senang melihatnya. Jadilah dokter yang baik ya Nak. Insya Allah Ayahmu senang melihatnya di alam sana”. Aku hanya tersenyum sambil meneteskan air mata. Aku menengok ke arah Paman Radit. Mataku berkaca-kaca. Terimakasih Paman.

Selepas membereskan piring dan membersihkan rumah. Paman Radit secara khusus meninta kami berkumpul bersama di ruang keluarga. Indri duduk diatas pangkuan Paman Radit sementara aku disamping Ibu.

“Sepertinya sudah menjadi kewajiban kembali melatunkan syukur kembali kita atas semua mujizat ini. Alhamdulillah… Nadia, Ashma dan Indri.. Paman rasa inilah saatnya paman pamit dari rumah ini. Insya Allah Ibu kalian adalah ibu terbaik yang akan merawat kalian. Jagalah dengan baik ibu kalian. Amanah paman sudah selesai. Insya Allah sesekali paman akan berkunjung kesini”. Aku tak bisa berkata-kata. Air mataku meleleh mendengarnya. Sungguh berat melepas Pman radit yang sudah kami anggap orantua kami sendiri. Kulihat mata Ibu berkaca-kaca.

“Jangan pergi Paman. Paman Radit gak boleh pergi. Nanti siapa yang mendongeng buat Indri? Siapa yang mengajari Indri doa-doa dan matematika? Siapa yang menjemput dan menggendong indri sepulang mengaji?” Indri menangis memeluk paman Radit.

“Ssst.. Indri jangan nangis. Sekarang ada Ibu di rumah ini. Kak Ashma juga sekarang sudah besar. Kak Ashma dan Ibu akan mengajari Indri di sini”. Paman radit mencoba merayu Indri yang masih menangis dan memeluk paman dengan erat. Kulihat ibu seperti bingung melihatnya.

“Paman jangan pulang sekrang. Seminggu lagi aja Paman”. Aku mencoba berdiplomasi. Aku masih ingin mengucapkan banyak terimakasih untuk paman Radit.

“Tidak Ashma, paman bukan muhrim di rumah ini. Agama kita melarang ini”. Aku tertunduk diam. Aku juga pasrah. Tidak seharusnya juga aku menghalangi paman pergi. Kami sudah terlalu banyak merepotkan paman. Sudah banyak merampas kebahagiaan paman. Terutama waktu paman untuk menikah.

“Saya dan suami serta anak-anak saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya padamu Radit. Kau telah menyisihkan waktu, harta dan tenagamu selama hampir tiga tahun ini. Hanya doa semoga apa yang sudah kamu lakukan mendapat pahala terbaik dari-Nya. Sekali lagi saya mengucapakan terimakasih yang sebesar-besarnya Radit.” Ibu menangis dan bersujud di hadapan Paman Radit. Sontak paman Radit meminta ibu duduk kembali. Paman mengangguk dan tersenyum padanya.

Sejak hari itu paman meninggalkan rumah kami. Indri menangis tidak melepaskan pelukannya saat paman pergi. Dengan berat hati, untuk kebahagiaan paman kami rela melepas paman pergi.

Enam bulan berlalu. Hatiku merindukan paman. Walau ibu kini hadir seperti dulu. Sudah empat minggu Indri sakit demam. Ibu merawatnya sendiri dirumah. Setiap tidur Indri selalu mengingau menyebut nama Ayah kami yang telah pergi dan juga paman Radit. Bukan demam berdarah, tifoid atau yang lainnya. Dokter bilang ini lebih ke arah psykis seorang anak yang merindukan orangtuanya.

Akhirnya aku memberanikan diri. Insya Allah kami sudah meridhakan kepergian ayah kami. Aku mengundang paman Radit ke Bandung, dan memberitahu perihal sakitnya Indri. Aku mengajak Ibu dan paman Radit berdiskusi. Aku mengusulkan agar Ibu bersedia menikah dengan paman radit. Awalnya ibu dan paman radit menolak. Ibu sudah menganggap paman radit adalah keluarga kami sendiri. Begitupula dengan paman Radit.

“Ibu.. Ashma memohon pada Ibu. Kami semua menghargai dan sudah mengikhlaskan kepergian Ayah. Tapi jujur Ashma terutama Indri memerlukan sosok Ayah sekarang dan bagi kami Paman Radit adalah sosok pengganti Ayah yang sempurna bagi kami. Ibu tahu? Begitu banyak waktu tenaga dan pikiran yang Paman Radit curahkan untuk kami. Sampai-sampai paman Radit belum menikah sampai saat ini. Sejak peristiwa itu Paman Radit mensyaratkan siapapun yang menikah dengannya harus menerima kami sebagai anaknya. ”. Ibu menangis mendengarnya. Sedangkan paman hanya menunduk.

“Dan untuk paman sekali lagi ashma mohon. Paman adalah pengganti ayah yang sangat sempurna bagi kami. Jika paman tidak menikahi ibu berarti paman juga sudah melanggar janji paman kepada Ayah. Bukankah Ayah sebelum kecelakaan berwasiat kepada paman bahwa paman diminta menjaga keluarga Ayah? Ayolah Paman.., Ashma mohon…, maaf sebelumnya Ashma beberapa waktu lalu juga tidak sengaja membaca catatan harian paman saat kuliah di fakultas kedokteran. Ashma kira itu catatan kuliah yang bisa Ashma pelajari. Ashma baru tahu jika sebenarnya dulu sebelum Paman tahu bahwa Ayah akan melamar Ibu, Paman juga menyukai Ibu. Dan Paman mengikhlaskan Ibu untuk dilamar oleh teman terbaik paman yaitu Ayah. Bahkan paman sendiri yang mengantar Ayah untuk melamar Ibu. Ayolah Paman… ini adalah takdir dari Allah untuk kita semua. Ashma yakin Ayah akan senang dan tersenyum bahagia melihat keluarganya bahagia kembali”. Aku tak kuasa menahan tangis. Kulihat mata paman berkaca-kaca. Sementara Ibu masih menangis mendengarkan penjelasanku.

Tiga minggu setelah diskusi itu kami merasakan moment yang sangat bahagia. Aku yakin Ayahpun akan senang dan bahagia melihat kami di sana. Indri kembali sehat. Paman Radit kini sudah menjadi Ayah kami. Ayah Radit kami memanggilnya. Kebahagiaan selalu hadir setiap hari di rumah kami. Ayah Radit, Ibu dan Indri selalu tersenyum setiap hari. Terimakasih ya Allah… “Paman Radit adalah Pahlawanku”.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Seorang petualang, pencari ilmu asli tanah pasundan yang sedang menjejakan langkah kakinya di kota pendidikan Jogjakarta.

Lihat Juga

Semangat Berdakwah Agar Hidup Lebih Bermanfaat