Topic
Home / Berita / Opini / Akankah Indonesia Bernasib Kelam Seperti Yaman?

Akankah Indonesia Bernasib Kelam Seperti Yaman?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi, istri Jalaluddin Rakhmat (bersamadakwah.com)
ilustrasi, istri Jalaluddin Rakhmat (bersamadakwah.com)

dakwatuna.com – Seolah sudah disiapkan sebelumnya, Istana Kepresidenan yang menjadi simbol kedaulatan negara, sangat mudah dikuasai pemberontak Syiah Hautsi Yaman. Peristiwa yang sama terjadi di Irak, pasukan garda republik Irak membiarkan AS dan sekutu mengobrak-abrik Baghdad dan membunuh Saddam Hussein. Pun ketika ISIS dengan mudah, menaklukkan Mousul dan wilayah perbatasan dengan Syiria-Turki.

Syiah semakin mencengkram Yaman. Penyebab utamanya adalah:

  1. Proses pemiskinan yang terstruktur, massif, dan berkesinambungan. Kemiskinan yang melahirkan kebodohan atau sebaliknya. Fungsi negara tidak berperan sebagai “waliyyul amri” tapi hanya sekedar penampakan keangkuhan kekuasaan. Yaman menjadi negara miskin, jauh dari peradaban Ratu Balqis yang diabadikan Al-Quran.
  2. Friksi politik yang jauh dari kebijaksanaan. Persaingan politik di Yaman tidak mencerminkan perlombaan. Khususnya terhadap Ikhwanul Muslimin. Khawatir pengaruh Arab Springs dimenangkan IM, maka pemerintah peninggalan Abdullah Saleh memilih bekerjasama dengan aliran lain. Di antaranya Al-Qaeda, Hautsi Syiah, dan faksi-faksi antarkabilah.
  3. Militer reguler Yaman, ternyata sangat rapuh. Diprediksi banyak jenderal-jenderal yang menjalankan program “Mut’ahisasi” dan “terbeli uang”. Mereka tidak menjadikan institusi kepresidenan sebagai kekuatan yang patut dipertahankan.

Saya meyakini, Yaman dikuasai Syiah disebabkan kerakusan sekelompok orang yang telah menggadaikan idealisme, nasionalisme, bahkan agamanya demi uang.

Kondisi ini diperparah dengan konspirasi negara-negara Arab tetangga Yaman, yang bersepakat membiarkan Yaman dihancurkan asal tidak mengganggu kekuasaan wilayah Teluk. Padahal di banyak kesempatan, mereka sangat anti-Syiah tapi membiarkan Syiah menguasai Yaman.

Kasus Yaman, tidak boleh terjadi di Indonesia. Pemiskinan yang terstruktur dan massif berkelanjutan harus dihentikan. Negara harus berfungsi menjadi penyeimbang keadaan, penjaga keadilan, dan memastikan negara tidak dikangkangi mafia-mafia yang tidak memiliki nasionalisme, ideologi, maupun agama selain uang.

Sayangnya, era Jokowi justru menjadi pemuncak ketidakstabilan Indonesia. Penasihat TNI, pawang Indonesia adalah Aseng. Penasihat Presiden, 3 orangnya adalah bos judi dan koruptor. Mendikbud berkiblat ke Iran. Lalu para menteri dan penguasa BUMN, semua dikuasai mafia-mafia yang bersatu dengan penguasa untuk menghancurkan Indonesia.

Jadi jika anda bilang, itu bukan urusan saya. Ah yang penting saya bisa makan dan cukup sandang pangan. Maka ketahuilah, anda dan kita semua harus siap-siap menjadi hamba-hamba kerakusan! Tentu jika kita diam, Indonesia akan seperti Yaman saat ini! (usb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Lihat Juga

Duduk Berdampingan dengan Menlu Yaman, Netanyahu: Kami Ukir Sejarah

Figure
Organization