Home / Berita / Opini / Jawaban Seteguk Kenikmatan

Jawaban Seteguk Kenikmatan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tribunnews.com)
Ilustrasi. (tribunnews.com)

dakwatuna.com – Khamr? Nah itu apa? Ya, khamr bebas sudah menjadi hal yang biasa dikalangan remaja saat ini. Para pemuda/i sudah tidak peduli dengan norma-norma agama. Bahkan mereka sudah tidak malu-malu lagi jika mabuk di hadapan umum (banyak orang), berkelompok atau sendirian. Ketika mereka menganggap itu sebuah pencapaian maka mereka akan berperilaku imitatif (entah karena sensasi yaitu merasa jago kalau minum, ngisap ganja atau bentuk lainnya).

Sehingga tak heran, seperti yang dikutip dari okezone senin, 8/12/2014 dalam setahun terakhir di Jawa Timur terjadi banyak kasus kematian akibat miras oplosan. Akhir Desember 2013, di Menanggal-Surabaya, 14 dari 17 orang peserta pesta miras oplosan juga dinyatakan tewas. Tak lama berselang, 19 dari 29 orang yang menggelar pesta miras di Mojokerto juga nyawanya tidak tertolong. Januari 2014, kasus pesta miras oplosan juga terjadi di Lawang-Malang, yang merenggut 9 dari 14 orang pesertanya.

Ahok menilai maraknya minuman keras oplosan yang beredar di masyarakat merupakan akibat dari pelanggaran produksi yaitu masyarakat yang membuatnya tidak tahu takarannya, dll sehingga menyebabkan kematian bagi yang mengkonsumsinya. Ahok juga mengatakan penjualan miras harus dilakukan di tempat resmi dengan demikian akan mudah dilakukan pengawasan dan pencegahan. (Kompas.com Jumat (5/12/2014).

Kapitalisme menghancurkan generasi

Jatuhnya 16 korban miras oplosan di Garut beberapa waktu lalu menurut Pengamat Sosial Iwan Januar sebagai bukti kegagalan hukum sekuler dan tanda lemahnya pengawasan pemerintah. Ahok yang menilai miras oplosan beredar karena adanya pelarangan miras berizin.

Iwan (pengamat sosial) menyatakan bahwa pemerintah pusat memang tidak ada keinginan untuk melarang peredaran miras secara menyeluruh. Keluarnya Perpres No 74/2013 di era SBY itu adalah bukti pemerintah berlepas tangan terhadap persoalan miras. Alasannya selalu sama bahwa tidak semua warga Indonesia Muslim.

Jika memang pemerintah tidak bisa memaksa non muslim, setidaknya pemerintah seharusnya membuat regulasi pembatasan penjualan sesuai batas lingkungan atau wilayah non muslim. Namun, hal ini tidak akan dilakukan oleh negara karena negara ini menganut paham sekulerisme. Di mana kehidupan di nilai sebagai bisnis dan mana yang lebih menguntungkan bagi pendapatan mereka.

Beberapa perusahaan miras lokal sedang melobi pemerintah agar investasi mereka bisa diperluas. Beberapa perusahaan miras asing juga berminat untuk investasi di Indonesia. Pepres dan kepentingan bisnis inilah yang membuat pemerintah bersikap ambigu, namun yang jelas kedudukan miras dalam Islam adalah haram hukumnya baik terlibat dalam produksi, distribusi hingga konsumsi.

Sanksi hukuman bagi pelanggar Perda Nomor 13 Tahun 2006 tentang Larangan Minuman Beralkohol  atau dikenal dengan perda miras harus semakin diperkuat. Sanksi yang ada selama ini terlalu ringan dan tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku. Sehingga, peredaran miras di masyarakat tetap marak dan kerap berujung pada aksi kriminalitas.

Pasal 6 ayat 1 perda 13/2006 disebutkan bahwa denda bagi pelanggar perda paling banyak 50 juta atau kurungan selama 3 bulan. Persoalan mendasar dari peredaran miras yang kian marak karena sanksi hukum yang berlaku tidak bertumpu pada Syariat Islam. Perda miras yang berlaku saat ini merupakan produk sistem demokrasi sekuler yang mendasarkan kebenaran pada akal manusia atau kompromi dan bukan halal haram.

Sehingga, dalam menjatuhkan sanksi pelaku miras semata mata berdasarkan landasan hukum positif sekuler dan mufakat yang bebas dari intervensi agama. Wajar kalau kemudian perda ini mandul dalam mencegah peredaran miras meski sudah dirazia berulang kali.

Miras dalam pandangan Islam

Khamr (miras) berasal dari kata yang berarti menutupi. Disebut sebagai khamr, karena sifatnya bisa menutupi akal. Sedangkan menurut pengertian urfi pada masa itu, khamr adalah apa yang bisa menutupi akal yang terbuat dari perasan anggur. Sedangkan dalam pengertian syara’, khamr tidak terbatas pada perasan anggur saja, tetapi semua minuman yang memabukkan. Pengertian ini diambil berdasarkan beberapa hadits Rasulullah SAW.

Dalam kamus bahasa Indonesia miras (minuman keras) dikenal juga minuman suling/ minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang dihasilkan dari penyulingan (berkonsentrasi lewat distilasi). Ethanol sendiri di produksi dengan cara fermentasi biji-bijian, buah dan sayuran. Contoh minuman keras ialah: arak, vodka, wiski, soju, dll.

Khamr (miras) dalam islam juga dijelaskan secara lengkap, berikut ada beberapa hadist yang menjelaskan tentang khamr  :

عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من شرب الخمر لم تقبل له صلاة أربعين ليلة فإن تاب تاب الله عليه فإن عاد كان
حقا على الله تعالى أن يسقيه من نهر الخبال قيل وما نهر الخبال قال صديد أهل النار

Dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang minum khamr, tidak diterima shalatnya 40 hari. Siapa yang bertaubat, maka Allah memberinya taubat untuknya. Namun bila kembali lagi, maka hak Allah untuk memberinya minum dari sungai Khabal.” Seseorang bertanya, “Apakah sungai Khabal itu”? Beliau menjawab, “Nanahnya penduduk neraka.”

عن ابن عمر قال من شرب الخمر فلم ينتش لم تقبل له صلاة ما دام في جوفه أو عروقه منها شيء وإن مات مات كافرا وإن
انتشى لم تقبل له صلاة أربعين ليلة وإن مات فيها مات كافرا

Dari Ibnu Umar ra berkata, “Siapa yang meminum khamr meski tidak sampai mabuk, tidak diterima shalatnya selagi masih ada tersisa di mulutnya atau tenggorokannya. Apabila dia mati maka dia mati dalam keadaan kafir. Bila sampai mabuk, maka tidak diterima shalatnya 40 malam. Dan bila dia mati maka matinya kafir.”

Hukuman di dunia

Dalam hukum Islam, seseorang yang meminum khamr selain berurusan dengan Allah, juga berurusan dengan hukum positif yang Allah turunkan. Hukumannya adalah dipukul/cambuk. Para ulama mengatakan bahwa untuk memukul peminum khamr, bisa digunakan beberapa alat antara lain: tangan kosong, sandal, ujung pakaian atau cambuk.

Bentuk hukuman ini bersifat mahdhah, artinya bentuknya sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang minum khamr maka pukullah.”

Dalam riwayat disebutkan bahwa Sayyidina Ali ra berkata:
“Rasulullah SAW mencambuk peminum khamr sebanyak 40 kali. Abu Bakar juga 40 kali. Sedangkan Utsman 80 kali. Kesemuanya adalah sunnah. Tapi yang ini lebih aku sukai.”

Sedangkan Imam Asy-Syafi`i (ra) berpendapat bahwa hukumannya adalah cambuk sebanyak 40 kali. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:

“Dari Anas ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mencambuk kasus minum khamr dengan pelepah dan sandal sebanyak 40 kali.”

Pada akhirnya, bukannya mencegah kemaksiatan tetapi pemerintah justru memberikan jalan bagi suburnya kemaksiatan dan kerusakan di tengah masyarakat. Sebagai bukti nyata yaitu adanya pencabutan perda yang melarang miras (meminum miras). Gagalnya pemerintah juga dapat dilihat dengan terjadinya kematian dan keracunan massal akibat minuman keras di beberapa daerah. Pernyataan ahok pun tentang pelegalan miras merupakan pernyataan yang menyesatkan umat. Berbahayanya miras bukan hanya pada kadar yang tinggi seperti yang dikatakan ahok, bahkan kadar yang rendah pun dapat merusak organ tubuh.

Dalam pandangan Islam, seluruh aktivitas mulai dari produksi, distribusi hingga konsumsi adalah haram. Islam akan melarang seluruh distribusi miras dan melakukan penutupan pabrik miras atau toko yang menjual miras hingga konsumen yang meminum miras. Aktivitas meminum miras adalah kemaksiatan besar dan pelakunya akan dijilid 40 kali dan bisa lebih dari itu. Solusi tuntas untuk memberantas miras adalah dengan meninggalkan hukum buatan manusia dan kembali kepada aturan Allah SWT tidak lain hanya bisa terwujud melalui sistem pemerintahan Islam.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Alhamdulillah diberi kesempatan oleh Allah swt. menjadi aktivis dakwah dan pemerhati kondisi umat. Berkeinginan menyebarkan (dakwah) Islam di seluruh pelosok negeri ini, InsyaAllah Aamiin (^_^)

Lihat Juga

Jangan Sampai Ada Pasal2 Kontraproduktif di RUU Miras dan R KUHP

Organization