Topic
Home / Berita / Opini / Kotak Hitam dan Jokowi

Kotak Hitam dan Jokowi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi-bendera Indonesia (inet)
Ilustrasi-bendera Indonesia (inet)

dakwatuna.com – Patut diacungi jempol, saat prajurit Kopaska TNI AL mampu menemukan Kotak Hitam (Black Box) AirAsia QZ 8501. Hanya perlu 16 hari, tim penyelam akhirnya berhasil menemukan kotak hitam di dasar laut. Basarnas juga sudah berhasil menemukan lokasi bagian utama badan pesawat (main body) AirAsia QZ 8501. Kotak hitam dalam pesawat berfungsi sebagai alat merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan.

Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam melainkan berwarna jingga (oranye). Warna dicat terang agar mendapatkan tingkat visibilitas tinggi atau isitilah indonesianya menarik perhatian. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan. Kotak hitam pertama mulai muncul pada tahun 1950 dan mulai diwajibkan pada tahun 1960-an.

Nah, usia kotak hitam kurang dari usia berdirinya Republik Indonesia. Seharusnya, sebagai sebuah republik, negara dan rakyat tidak berhasil menemukan kotak hitam yang berfungsi merekam jejak bangsa ini. Nasibnya naas, bangsa Indonesia semakin hari terus terpuruk. Tidak pernah beranjak dari masyarakat “terjajah” kecuali ke “keterjajahan yang lebih modern.” Era Soekarno-Soeharto, plus minusnya, telah memberi garis masa depan Indonesia, namun kini semua bubar jalan, di segala bidang. Pertahanan negara makin buyar. Ekonomi menumpuk hutang bermilyar-milyar dollar. Keagamaan hanya hingar bingar.

Awalnya, pemuja Jokowi mempromosikan bahwa Jokowi sebagai “penyelamat bangsa”. Namun apa yang terjadi? Lacur! Justru bangsat-bangsat negeri makin subur makmur. Rakyat kecil justru susah hidup hingga masuk kubur. Aparat hukum (jaksa, polisi,hakim, KPK), dan keamanan, bak ayam sayur. Indonesia bukan tambah subur makmur. Malah makin hancur.

Apa rahasia kesuksesan menemukan kotak hitam pesawat?

  1. Prajurit terlatih, penuh dedikasi, dan tentunya ikhlas walau dibayar lebih kecil dari Satpam AirAsia.
  2. Kerjasama yang apik antar unsur komando. Tidak nafsi-nafsi. Semua satu bahasa! Temukan kotak hitam, bangkai pesawat, dan mayat.

Bandingkan dengan manajemen komunikasi Menhub? Mengerikan. Mirip juragannya. Hobi melakukan yang tidak patut dilakukan. Bandingkan dengan kualitas tim kerja kabinet Jokowi? Mengerikan! Semua otaknya jual asset negara. Bandingkan dengan teamwork Jokowi. Semua adalah timses yang hanya berpikir menyelamatkan diri bukan membangun negeri.

Jadi kawan. Selama kotak hitam bangsa ini tidak ditemukan. Indonesia tidak akan pernah bisa berjalan. Jangankan lari mengejar bangsa lain. Sekedar jalan di tempat saja tak bisa dilakukan. Kuncinya karena kotak hitam itu tidak pernah dicari atau tidak pernah dibuka, karena para pemangku kebijakan negeri ini dikangkangi kelompok hitam yang berkoalisi dengan konglomerat hitam didukung partai hitam. (usb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Lihat Juga

Tegas! Di Hadapan Anggota DK PBB, Menlu RI Desak Blokade Gaza Segera Dihentikan

Organization