Topic
Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Gue Berani Berjilbab Syar’i

Gue Berani Berjilbab Syar’i

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover Buku "Gue Berani Berjilbab Syar'i".
Cover Buku “Gue Berani Berjilbab Syar’i”.

Judul: Gue Berani Berjilbab Syar’i
Penulis: Enes Kusuma, Gengtik Grammar K, Chiizumi, Nur Azizah, @Zulfaiiry, dkk.
Penerbit: Penerbit Indiva Media Kreasi
Terbit: November, 2014
Tebal: 152 halaman
ISBN: 978-602-1614-39-6

dakwatuna.com –   Sejatinya, ada masa-masa bagi setiap orang, mengalami proses spiritual. Barangkali karena perintah agama yang suci, ada yang terkadang bimbang, atau bahkan enggan. Menjalaninya, mengamalkannya, juga memenuhinya sebagai kewajiban kepada Tuhan. Merasa belum pantas, merasa masih banyak berlumur dosa, bahkan merasa jika kewajiban seringkali malah dijadikan alasan sebagai kemunduran, ketidaksetaraan, mengekang kebebasan.

Berjilbab, adalah salah satu hal yang diwajibkan dalam agama Islam. Agar wanita terjaga dirinya, dan terlindung kehormatannya. Ada yang menganggapnya berat, ada yang merasa dengan kewajiban tersebut, sama sekali tak terjerat.

Buku Gue Berani Berjilbab Syar’i, merangkum kisah-kisah konyol, haru, lucu, tentang proses para muslimah yang akhirnya memutuskan untuk memakai hijab syar’i. Kisah-kisah dari 10 penulis itu, membuat merenung sejenak. Bahwa memang iman itu tidak bisa diturunkan. Dan Tuhan memang tidak akan pernah mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendirilah, yang mengubahnya. Termasuk tentang pencarian jati diri, yang setiap pribadi pasti mengalami fase tersebut.

Kisah tentang Bella, misalnya. Cowek tomboy—dengan rambut pendek kebanggaannya—yang biasa diperebutkan oleh teman-teman ceweknya untuk diajak berfoto, dan kemudian di-upload di sosial media. Macam artis dadakan (hal 87). Ia yang hanya sesekali memakai jilbab di sekolah, lalu melepas jilbabnya dan berpenampilan seperti preman pasar jika di luar sekolah, mulai bimbang dengan kelakuannya tersebut, saat seorang guru agama, memergokinya di sebuah swalayan.

Ada pula kisah yang dituturkan Ayka Noura, tentang gadis bernama Reyna. Ia yang berjilbab sejak kecil, dan dianggap kolot mirip emak-emak bahkan teroris. Tetap mempertahankan jilbabnya, bahkan ketika Tuhan mengujinya dengan penyakit infeksi tulang, yang karena efek penggunaan obat, rambutnya menjadi menipis dan rontok. Tapi ia berusaha agar semangatnya tak ikut rontok bersama dengan helai rambutnya (hal 134).

Lain lagi dengan kisah jungkir balik dunia berjilbabnya Fhillia. Fhillia yang berkuliah di Institut seni, dengan dominan laki-laki yang bisa dibilang sedikit liar membuatnya kesulitan beradaptasi. Terlebih karena jilbabnya, pada awalnya membuat dia takut keringetan, takut ketiak basah kuyup, takut nggak bisa ketawa ngakak, takut nggak bebas, dunia semakin terbatas, dibilang kuno, nggak ngikutin perkembangan jaman, dan takut dibilang mirip emak-emak (hal 119).

Tapi Fhillia lalu membuktikan. Bahwa dia masih bisa modis, walaupun dengan jilbab. Masih bisa berkarya, meski dengan jilbab. Masih bisa bergaul. Bahkan dia diterima di sebuah stasiun televisi di Jakarta meskipun dengan jilbabnya.

Kisah lain dari Gengtik Grammar K, yang mengatakan, semua hal besar, berawal dari hal kecil (19). Ia yang awalnya berjilbab hanya karena nadzar jika diterima di universitas negeri di Surabaya, akhirnya memperbaiki niatnya ketika tahu itu salah.

Enes yang mengisahkan tentang Feronica Lucida, gadis urakan yang pengen banget menghancurkan stigma yang ada di masyarakat. Kalau orang lain menganggap jilbab itu feminin, dia akan menjadi pemakai jilbab yang tomboy. Dan jadilah dia preman tulen yang berjilbab (hal 6).

Ia juga termasuk orang yang tidak pro jilbab syar’i di masa SMP-nya. Karena dia melihat, gurunya yang berjilbab syar’i ngajarnya tidak lebih baik daripada gurunya yang tidak berjilbab. Teman-teman ibunya yang memakai jilbab syar’i cenderung nggak asik. Dan orang-orang yang berjilbab syar’i sering men-cap orang-orang dengan model jilbab sepertinya yang belum menutup dada dan masih nerawang tidak memenuhi aturan agama (hal 7), akhirnya memutuskan berjilbab syar’i sesuai yang dianjurkan agama, ketika dia dihadapkan pada sebuah peristiwa.

Lain hal @Zulfaiiry, yang dengan tegas dia mengatakan, “I don’t care with other say. I’ll do my duty and wear hijab because Allah.” (hal 45).

Ada beberapa kisah lainnya yang dapat membuat pembaca tertawa, berpikir, menahan napas karena haru, sebab perjuangan-perjuangan para wanita tersebut dalam memenuhi kewajibannya. Buku ini menyajikan kisah dengan banyak hikmah. Buku yang diramu dengan latar belakang penulis yang berbeda juga menjadikannya terasa renyah. Pembaca tidak merasa digurui tentang bagaimana sejatinya jilbab, tetapi mereka disajikan berbagai macam kisah, juga pemahaman tentang bagaimana hakikat jilbab yang sebenarnya telah diatur oleh agama.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Zulfa Rahmatina merupakan sarjana Psikologi. Asisten peneliti di Center for Islamic and Indigenous Psychology (CIIP) UMS (2015-2019), dan aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan sebagai pemimpin redaksi Majalah Pabelan (2017). Tulisan-tulisannya tergabung dalam buku-buku antologi yang diterbitkan oleh penerbit mayor maupun indie.

Lihat Juga

FSLDK Jadebek Kembali Gelar Aksi Gerakan Menutup Aurat

Figure
Organization