Topic
Home / Narasi Islam / Dakwah / Saat Mad’u Sudah Pintar-Pintar

Saat Mad’u Sudah Pintar-Pintar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com –  “ Tadz, kata kelompok’….’ ustadz-ustadz kita tidak berilmu!”

“ Tadz, kata kelompok ‘….’ ustadz-ustadz kita tahunya cuma wawasan doang, gak dalem ilmunya.”

“ Tadz, emang hadits ‘….’ katanya gak shohih ya… sebenarnya derajatnya gimana sih?”

“ Tadz, al-matsurat itu katanya bid’ah ya?”

Itulah beberapa pertanyaan dan pernyataan binaan-binaan (mad’u/mutarobbi) kita hari ini. Pertanyaan dan pernyataan yang lainnya banyak, dari yang ingin tahu samapai mempertanyakan.

Respon murobbi pun macam-macam. Ada murobbi yang jengkel dan menyuruh sang mad’u jangan banyak tanya. “Antum jangan kayak Yahudi, akhi!” begitu dia mengingatkan. Sebagian lagi berbalik menyerang kelompok yang mendeskriditkannya.

Seorang mad’u disindir murobbinya gara-gara ia mengambil kuliah lagi di ma’had padahal usianya sudah lewat 45 tahun. Sang mad’u menganggap sang murobbi ketakutan jika ilmunya lebih banyak dari dirinya. Padahal sang mad’u masuk ma’had karena dimotivasi untuk mengenal Islam lebih dalam oleh sang murobbi. Sungguh unik..

Yang jelas dakwah hari ini menjadi dinamis, sekaligus hiruk pikuk.

Situasi ini mengingatkan saya kepada kondisi dakwah di tahun akhir 80-an sampai akhir 90-an. Saat itu modal para dai dan murobbi lebih terletak pada hamasah (semangat) dan kemauan yang kuat untuk berdakwah dan mengisi liqoat. Sederhananya siapa mau bisa jadi dai dan bisa jadi murobbi. Dan mad’u dan mutarobbi pun terkesan tidak mempermasalahkannya.

Di sebuah daerah di Sumatera, saya saksikan semua orang yang sudah berinteraksi dengan dakwah kemudian dipanggil sebagai ustadz. Walau yang bersangkutan tidak punya kafaah syar’i atau jika ia memiliki pengetahuan agama baru sebatas pokok-pokoknya saja. Sekali lagi fenomena dakwah bermodal hamasah masih menjadi andalan.

Namun jika kita renungkan sejenak, maka kondisi ladang dan medan dakwah hari ini sesungguhnya telah jauh berubah dibandingkan era sebelumnya. Faktor keterbukaan informasi memungkinkan mad’u mengakses informasi dari banyak pihak.

Di samping itu yang tak kalah pentingnya adalah bahwa kita mungkin terlambat untuk menyadari bahwa ‘karena kita’ juga mad’u itu menjadi melek Islam dan bersemangat menambah ilmu keislaman. Dengan kata lain kita yang membuat mereka pintar. Dan hari ini mereka tambah pintar-pintar. Sehingga patut kita tanya apakah seiring dengan bertambah pintarnya para mad’u para murobbi dan dai bertambah pintar?

Bertambahnya kapasitas sasaran dakwah seyognyanya sudah diantisipasi oleh para akivis dakwah dengan meningkatkan kapasitas dirinya juga. Maka jika seorang dai dan aktivis dakwah tidak menemukan jadwal ‘belajar’ bagi dirinya, sesungguhnya dia harus siap-siap ditinggalkan oleh para mad’unya. Pepatah mengatakan ‘faqidusy syai la yu’ti (orang yang tidak mempunyai, tidak akan dapat memberi)”

Maka al-akh sejati haruslah memiliki kegiatan-kegiatan mandiri untuk menambah kapasitasnya, bukan tuntutan struktur, namun kesadaran diri seorang dai. Saat membuka agenda pekanan seyogyanya kita dapat temukan agenda menghafal qur’an dan mengkaji tafsirnya, agenda menghafal hadits dan derajatnya, membaca kitab fiqih dan pendapat para ulama. Itulah yang dinamakan Isti’ab. Syaikh Fathi Yakan mengingatkan kita dalam persoalan ini dalam bukunya yang berjudul Isti’ab.

Lalu bagaimana dengan kita yang masih bermalas-malasan serta mencukupkan diri dengan kapasitas lama sambil bernostalgia dengan capaian masa lalu kita? Kepada mereka Syaikh Abdullah Azzam mengingatkan:

“Siapa yang bermalas-malasan saat bekerja, dia akan menyesal saat pembagian upah.”

Wallahu a’lam.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Lahir di Sukabumi, Menyukai membaca, menulis dan bercerita. Mengajar sebagai guru di Sekolah Penghafal Al-Quran di Lebak Bulus.

Lihat Juga

ICMI Rusia Gelar Workshop Penulisan Bersama Asma Nadia

Figure
Organization