Topic
Home / Berita / Perjalanan / Aia Tajun Libuak Batu Bulan

Aia Tajun Libuak Batu Bulan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Aia Tajun Lubuak Batu Bulan. (Nia Assyifa)
Aia Tajun Lubuak Batu Bulan. (Nia Assyifa)

dakwatuna.com – “Kegundahan itu menghimpit, terhimpit, bahkan ia tak mampu berlari kencang lagi, menepi, menyudut lalu berurai air mata. Setiap diseka, ia kembali berurai dengan segala asa kehabisan kata-kata yang tak bertuan, kemudian hilang, sendu terbawa semilir angin pencerahan”

Ekspedisi dimulai, bisa lah sebagai bekal semangat yang baru atau memang sedang ingin menyegarkan diri, kembali berbagi nostalgia dengan alam-alam yang tak sabar lagi untuk dijamah, yah..ingin kembali menikmati alam-Mu Tuhan dengan segala keelokkannya.

Meluncurrrr, “Aia Tajun Lubuak Batu Bulan”. Tak gampang memang untuk menaklukkanmu, sekokoh batu-batu besar yang mengelilingimu, seperti itu juga tak gampang engkau untuk diraih. Ah..sudahlah. Langsung saja, perjalanan dimulai menuju Mungka melewati Simpang Kapuak,Tepatnya Kabupaten Lima Puluh Kota-Sumatera Barat,  kalau saya hafal jalannya, dari arah Lampasi setelah jembatan Lampasi kita belok kanan, setelah sampai di mungka, masuk terus menuju Simpang Kapuak. Perjalanan kali ini, insya Allah akan ditempuh selama kira-kira satu jam dengan motor dan tiga puluh menit lagi berjalan kaki.

Bekal kemampuan mengendarai motor bisa dipraktekkan di sana, tak apalah selagi masih ada kesempatan. Tak terbayang sebelumnya, kalau jalan yang akan ditempuh sangat berbahaya, syukurlah semingu sudah hujan tak turun, sehingga aspal coklat tak perlu hidup pula untuk menghiasai jalan yang memang kurang layak untuk ditempuh. Awalnya biasa, lobang-lobang di jalanan tanah bisa terlewati dengan aman, persis setelah habis jalan tanah, persimpang dua, kita belok kiri, ada jalan baru dengan sedikit semen, lebar kira-kira 1 meter, yah maksimal 1,5 meter an. Tak terlalu yakin memang, benarkah ini jalannya? Soalnya teman-teman yang lain sudah maju duluan. Ternyata benar, motor matic jadi korban, dipaksa untuk menanjak tinggi, jalan berbatu, derajat ketinggian yang lumayan curam, tebing di sebelah kirinya dan jurang sebelah kanan. Cukup menantang nyali, sampai salah satu di antara kami, motornya merosot ke bawah karena rem kiri alias rem roda belakang tak lagi mampu menahan beban, syukurlah ada penduduk yang lewat dengan seketika memegang rem kanan roda depan, Alhamdulillah berhasil melewatinya.

Tak cukup sampai di sana, ada beberapa yang tak bisa motornya naik, karet rem sudah berbau, jalan kaki menanjak siap jadi pilihan. Lega rasanya, tapi belum usai kawan, masih banyak tantangan berikutnya. Siap, menguji nyali dengan jalan tanah liat yang agak kering, syukur lagi-lagi hujan belum turun, sehingga aspal tanah tak perlu hidup.

Landai nama daerahnya, lanjut menuju kubang balambak, Kabupaten Lima Puluh Kota. Jujur , sebelumnya saya tak pernah membayangkan ada perkampungan di atas bukit ini, tapi inilah nyatanya. Luar biasa, saya jadi banyak bersyukur. Salut sekali dengan penduduk di sini, dengan segala perjuangan dan semangatnya. Ah..banyak yang terlintas di kepala ini, perjuangan, pendidikan, semangat, kesungguhan..

Cukup sampai di sini? Ohh, belum kawan, masih ada dimensi lain lagi, keindahan yang akan kita temukan. Setelah parkir motor di Kubang Balambak, lanjut track jalan kaki 30 menit. Dan akhirnya berjumpa dengan kebun “Gambia” untuk sejanjutnya bersua juga dengan “Aia Tajun Lubuak Batu Bulan”…Luar Biasa, sekilas biasa, tapi setelah dihayati jadi semakin mengerti bahwa semua tak ada yang sia-sia.

Next, Makan siang, shalat Dzuhur dan menikmati keelokkan nya, sekalipun masih banyak sampah di sana. Kembali pulang dengan jalur yang berbeda, Kubang Balambak, Jorong Aia Putiah Kec. Harau, lanjut menuju Kelok Sembilan yang sekarang jadi icon wisata jalan di Kabupaten Lima Puluh Kota. Tancap gas, Alhamdulillah sampai kembali di rumah masing-masing.

“Inilah kawan, inilah saudara, ia tak menuntut lebih darimu, hanya memintamu menjadi seorang yang banyak memberi arti pada siapapun, yang ada ketika engkau butuh, yang setia berbagi cinta kala asa tak bertepi, yang setia mendengarkan curhat-curhatmu di kala engkau sedang butuh semangat, yang tak pernah menyakitimu walaupun sedang di belakangmu. Yah..inilah saudara ia tempat berbagi dalam suka ataupun duka. Next trip’s..? Kita tunggu tanggal mainnya, sembari bersiap menyusun langkah untuk menguatkan cinta selalu pada Rabb Penguasa segala cita dan harapan”

 

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Pegawai Negeri Sipil. "Menjadi karanglah meski tak mudah, sebab ia akan menahan sinar matahari yang garan, ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah, melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa yang dingin yang mencoba membekukan, ia akan kokohkan diri agar tidak mudah hancur dan terbawa arus, ia akan tegak berdiri, belajar untuk terus berjalan..nmenapaki arti hidup sesungguhnya"

Lihat Juga

Bentuk-Bentuk Penyimpangan di Jalan Dakwah (Bagian ke-3: Persoalan Jamaah dan Komitmen (Iltizam))

Figure
Organization