Home / Berita / Internasional / Asia / Perdagangan Ilegal Harimau Myanmar ke Cina Meningkat

Perdagangan Ilegal Harimau Myanmar ke Cina Meningkat

Cina disebut sebagai konsumen terbesar di dunia atas bagian tubuh harimau dan kucing liar (bbc.co.uk)
Cina disebut sebagai konsumen terbesar di dunia atas bagian tubuh harimau dan kucing liar (bbc.co.uk)

dakwatuna.com – Myanmar. Perdagangan ilegal bagian tubuh harimau dan kucing liar dari Myanmar ke Cina melonjak dalam beberapa tahun terakhir, demikian hasil studi yang dilakukan dalam 20 tahun terakhir sebagaimana dilansir BBC (23/12/2014).

Laporan penelitian menyebutkan lonjakan perdagangan bagian tubuh dua satwa liar itu, seperti gigi, kulit, tengkorak, paling sering terjadi di Mong La, sebuah kota di Myanmar yang berbatasan dengan Cina.

Di sejumlah tokoh di Mong La, yang menjual bagian tubuh harimau dan kucing liar terjadi peningkatan penjualan dalam delapan tahun terakhir.

Hasil penelitian menunjukkan, 80% tubuh kedua satwa yang diperdagangkan itu didapatkan dari sedikitnya 200 harimau. Dan kebanyakan yang diperjual-belikan adalah bagian tubuh macan tutul yang diperkirakan mencapai 480 ekor.

Temuan yang dipublikasikan Jurnal Biological Conservation itu memperkuat klaim masa lalu bahwa kota Mong La merupakan pasar satwa liar utama di wilayah ini yang telah mengalahkan praktek serupa di Afrika.

Pada saat yang sama, demikian hasil penelitian, telah terjadi penurunan perdagangan satwa liar di kota lain Myanmar, Tachilek, di kawasan perbatasan dengan Thailand.

“Ini bisa terjadi karena ada tindakan penegakan hukum yang lebih tegas di Thailand,” kata penulis laporan ini, Chris Shepherd, dari pegiat jaringan pemantau perdagangan satwa liar internasional.

“Tapi karena penegakan hukum seperti ini belum dilakukan di wilayah tertentu Cina, maka terjadi peningkatan perdagangan satwa liar di di Mong La,” tambahnya.

Di sisi lain, para ahli mengatakan, otoritas Myanmar tidak memiliki kontrol yang memadai atas kota tersebut. Selama ini wilayah Mong La dibawah kendali kelompok pemberontak yang baru saja melakukan kesepakatan damai dengan pemerintah negara itu.

Sejauh ini belum ada pernyataan pemerintah Myanmar atas temuan penelitian ini.

Di atas kertas, Myanmar telah melarang perdagangan ilegal bagian tubuh harimau dan macan tutul, di bawah konvensi internasional terhadap pembelian dan penjualan satwa langka.

Tetapi organisasi konservasi satwa liar mengatakan kepada BBC bahwa hukum tidak bekerja seperti diharapkan di Mong La.

Sementara, Cina adalah konsumen terbesar tubuh harimau untuk berbagai kepentingan dan telah dikritik karena dianggap tidak cukup mampu mengendalikan perdagangan domestik satwa liar ini. (bbc/rem/dakwatuna)

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Alumnus Universitas Al-Azhar Cairo dan Institut Riset dan Studi Arab Cairo.

Lihat Juga

Bertemu di Denmark, Pemimpin Muslim Eropa Bahas Muslim Uighur

Organization