Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Rasa, Salah Menanggapi

Ketika Rasa, Salah Menanggapi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Love, Cinta, Valentinedakwatuna.com – Kini harus kau tutup pintu hatimu rapat-rapat.

Jangan sampai ada yang berhasil membukanya!

Selalu waspada dengan semua kaum adam yang berinteraksi  “LEBIH” terhadapmu.

 

Jadikan kejadian kemarin sebagai pelajaran.

Jangan terlalu cair dengan kaum adam, karena benih cinta tak dapat kau tebak kapan datangnya.

Perhatikan baik-baik setiap kaum adam yang intens berinteraksi dengan baik melalui SMS, Facebook, Telepon atau bahkan Face to Face.

 

Selidikilah dengan halus adakah niat lain terselip di sana?

Atau hanya murni menjalin persahabatan atau pertemanan semata?

Hanya kau dan ALLAH yang tahu itu semua.

Kau biasa beralibi “Aku ingin supel dengan semuanya, laki-laki maupun perempuan”.

 

Sadarkah engkau wahai ukhti, dari setiap kata-kata cairmu menghilangkan batas yang harusnya dijunjung antara ikhwan dan akhwat?

Tak pernahkan terbersit di hatimu wahai Ukhti, bahwa setiap SMS candamu disertai ekspresi bermacam-macam yang kau kirimkan, membuat kaum adam merasa begitu dekat denganmu?

Dekat lebih dari sekadar teman atau sahabat biasa!!!

 

Mengapa tak kau acuhkan nasihat dari senior-senior akhwatmu agar tak terlalu menjalin hubungan intens dengan kaum adam yang berkedok persahabatan?

Dan ketika kau memberikan gelar sahabat kepada si ikhwan, semuanya lebur.

Kau leluasa berbagi semua segi kehidupanmu dengan dia, berkomunikasi yang kadang tak penting melalui SMS, Fb-an, atau bahkan Telepon-teleponan.

Terasa begitu dekat, dekat sekali!

 

Ketika teman akhwatmu menanyakan status hubunganmu dengan si ikhwan tersebut, kau dengan santai menjawab “Kami tidak ada apa-apa kok, kami BERSAHABAT”.

 

Dan pada suatu hari, yang kau pun tak pernah menyangkanya, sahabatmu mengutarakan rasa cintanya padamu.

Dia terpesona olehmu, terpesona oleh keshalihahan dirimu sehari-hari, terpikat oleh sikapmu yang begitu mengasyikkan di matanya.

Kau pun terkejut dan baru menyadarinya…

Ada yang salah selama ini dari sikapmu…

Ya, kau menyadarinya dan begitu menyesal !!!

Kau terlalu membuka dirimu pada orang yang tidak tepat!

 

Astaghfirullah…

Kini, kebingungan melanda dirimu.

Bagaimana kau harus menyikapi sahabatmu itu.

Bersyukur pada Rabb yang Maha Menggenggam setiap hati hamba-Nya.

Kau masih diberi hidayah agar tidak terjerumus ke lembah kemaksiatan termodern dan terpopuler di zaman ini alias PACARAN.

 

Kau menanggapi pernyataan si ikhwan tadi dengan jernih, Alhamdulillah…

Kau berkata padanya, “Jangan berharap padaku, berharaplah pada Dzat yang mengatur semua ini, ALLAH. Kembalilah dan datang padaku di saat kau sudah siap segalanya. InsyaALLAH jika kita berjodoh, pasti dimudahkan. Maka berdoalah…”

 

Kau pikir semuanya berakhir dengan kau memberi jawaban seperti itu?

Tidak! Tidak sama sekali!

Tidak semudah yang kau bayangkan ukhti…

Dari pernyataanmu menyiratkan kenetralan isi hatimu.

Tidak ada penolakan juga tidak ada penerimaan.

 

Dan si ikhwan pun merespon…

“Aku hanya ingin komitmen darimu”.

Hatimu ketika itu mulai goyah, hampir saja kau terbawa oleh suasana hatimu.

Tapi lagi-lagi Rabb yang Maha Lembut, Ya Lathif masih mengendalikan hatimu dengan memberi kekuatan untuk memberikan sebuah jawaban yang dahsyatnya luar biasa.

 

To be continued…

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswi UNJ

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Organization