Topic
Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Sekolah Pertama Itu Bernama Ibu

Sekolah Pertama Itu Bernama Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (addinie.wordpress.com)
Ilustrasi. (addinie.wordpress.com)

dakwatuna.com – Setiap tanggal 22 desember diperingati sebagai hari ibu. Dan belum ada di negeri kita peringatan hari Bapak. Apa sebabnya? Barangkali pembaca lebih tahu sebabnya. Tetapi kalau menilik kepada apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW pada empat belas abad yang lalu kita tidak heran kenapa ibu lebih utama daripada Bapak. Yang mungkin menjadi penyebab justru hari ibu yang diutamakan, bukan hari bapak.

Saat itu ada Sang Nabi sedang duduk bersama para sahabatnya dan saat ada yang bertanya kepada siapakah ia harus berbakti setelah berbakti kepada Allah. Maka Rasulullah menyebut,” ibumu, ibumu, ibumu”. Dan setelah tiga kali menyebut kata Ibu barulah Rasulullah menyebut, “ bapakmu”. Ini secara langsung menegaskan posisi ibu lebih utama daripada Bapak. Tentu tanpa maksud mengabaikan posisi seorag bapak yang juga tak kalah pentingnya dari seorang ibu. Sebagai kepala keluarga juga sebagai tulang punggung keluarga.

Peran menjadi seorang ibu tentu sudah menjadi fitrah seorang perempuan. Dan peran itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaan wanita dan juga seorang ibu sangat menentukan keberlangsungan sebuah bangsa. Kita bisa melihat di negara-negara yang wanitanya sudah enggan menjadi ibu. Di mana pernikahan dan mempunyai anak justru dihindari karena berbagai alasan justru menghadirkan keresahan akan “punah”nya generasi suatu bangsa.

Keengganan seorang perempuan hanya dalam satu hal saja ternyata berdampak besar bagi perkembangan sebuah bangsa. Keengganan seorang perempuan untuk melahirkan saja sungguh berpengaruh besar terhadap populasi sebuah bangsa di suatu negara. Hal ini membuktikan peran seorang ibu tak bisa diabaikan begitu saja.

Kita berbahagia karena alam demokrasi negara kita sudah mengakomodir peran-peran ibu dalam kancah perpolitikan dimana beberpa daerah justru dipimpin oleh perempuan (baca: ibu).

Namun kita juga seharusnya miris melihat prosentase yang lebih besar justru masih berada di bawah. Kesehatan dan kesejahteraan ibu masih berada di bawah. Angka kematian ibu melahirkan masih tinggi dan masih banyak ibu yang harus mejadi tulang pungung utama kehidupan keluarga. Bahkan tak jarang kita menemukan mereka harus menggelandang sambil membawa beberapa orang anaknya yang masih kecil-kecil di perempatan-perempatan jalan menjadi gembel dan pengemis.

Lalu peran pendidikan seorang ibu seperti apa yang kita harapkan jika seorang ibu justru menjadi komandan bagi anak-anaknya untuk menjadi peminta-minta? Saat kita mengharapkan seorang ibu yang mampu mendidik anak-anaknya dengan layak justru mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi gembel dan pengemis. Menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain. Rasanya pendidikan karakter kemandirian, kerja keras dan kreatif yang didengungkan seperti menguap begitu saja.

Semestinya para kepala daerah dan pemegang kekuasaan tak menutup mata dari hal ini. Saat ibu sudah menggelandang maka sesungguhnya Ibu itu telah mengajarkan karakter pengemis kepada anak-anaknya. Kita harus selau ingat bahwa seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak.

Ibu adalah teladan dan role model pertama bagi anak sejak ia terlahir ke dunia. Atau bahkan sejak ia dalam kandungan.

Kita miris membaca berita di salah satu surat kabar di mana seorang ibu justru menjadi partner kerja anaknya untuk menjadi bandar ganja bernilai miliaran rupiah. Sebuah potret bagaimana seorang ibu belum bisa menjadi role model bagi anak-anaknya. Tak hanya belum bisa mendidik anaknya tapi juga membahayakan lebih banyak lagi orang.

Posisi seorang ibu sangat mulia karena sesungguhnya darinya lahir para generasi penerus bangsa. Jika ia terdidik maka diharapkan anak-anaknya kelak juga akan mampu ia didik dengan baik sehingga generasi penerus akan menjadi generasi yang terdidik dan beradab.

Sebagaimana Brigham Young pernah berkata “Jika Anda mendidik seorang pria, maka seorang pria akan menjadi terdidik. Jika Anda mendidik seorang wanita, maka sebuah generasi akan terdidik”.

Howard Gardner, seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang punya hambatan karena stimulus yang tidak tepat. Nah, tentu kta tidak menutup mata bahwa orang paling dekat dan yang paling panjang interaksinya dengan seorang anak adalah seorang ibu. Ketika seorang ibu adalah orang yang terdidk dan paham maka ia tak akan salah memberikan stimulus kepada anak-anaknya sehingga anaknya akan menjadi anak yang cerdas. Tentu pemahaman cerdas di sini bukanlah soal deretan nilai-niali bagus di atas kertas. Tetapi cerdas dalam arti yang lebih luas.

Penulis pernah secara langsung mendengarkan cerita seorang psikolog bagaimana seorang ibu yang tidak paham tetang hal sepele justru menjadi penyebab anaknya menderita speech delay yaitu keterlambatan anak untuk bisa berbicara. Ternyata penyebabnya sepele yaitu kurangnya stimulus dalam hal-hal motorik anak.

Cerita lain, ada anak yang cadel justru karena ibunya hanya memberikan makanan yang halus terlalu lama kepada anaknya. Sehingga, lidah anak tidak terlatih dan huruf “R” selalu diucapkan menjadi huruf “L”. Sedehana namun seorang ibu harus memiliki pengetahuan soal hal-hal yang sederhana tapi berdampak besar. Karena ia yang akan mengajar anak-anaknya pertama kali sebelum orang lain.

Nah saat para ibu sibuk di luar rumah dan peran mendidik anak tidak diutamakan maka siapakah yang kan bertanggung jawab atas keerlangsungan generasi penerus bangsa ini?. ketidakpedulian pemerintah terhadap hal ini tentu akan memeperparah kondisi ini.

Orang-orang besar lahir dari ibu yang juga luar biasa. Imam syafi’i sebagai contoh. Beliau mempunyai seorang ibu yang sangat memperhatikan pendidikan anaknya bahkan dalam hal-hal sepele seperti soal pakaian. Pakaian yang dipakaikan kepada Imam syafi’i kecil setiap akan pergi ke majelis ilmu adalah pakaian paling bagus yang ia miliki. Ini secara tidak langsung akan membuat anak menjadi termotivasi dan merasa diperhatikan. Maka tak heran kemudian ibu semacam ini menyebabkan Imam Syafi’i di umur belasan tahun sudah memberikan fatwa (mufti) dan kemudian menjadi imam besar. Ia mampu mendirikan sebuah mazhab ynag diikuti berjuta-juta orang di seluruh dunia. Dan, karya masterpiece nya pun diberi judul “Al Umm” yang berarti “ibu”. Sebuah penghargaan luar biasa untuk seorang ibu yang juga tak kalah luar biasanya.

Akhirnya kita berharap semua pihak tak mengabaikan peran seorang ibu dan berupaya semaksimal mungkin memberikan yang terbaik bagi kesejahteraan dan penjaminan kesehatan juga pendidikan baik bagi ibu sehingga ia lebih bisa mendidik anak yang akan menentukan keberlangsungan bangsa ini di masa yang akan datang.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Guru Muda Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa Angkatan V.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Figure
Organization