Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Hilangkan Benih Sekulerisme, Tadabbur Alquran untuk Mencari Ilmu

Hilangkan Benih Sekulerisme, Tadabbur Alquran untuk Mencari Ilmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (quranreading.com)
Ilustrasi (quranreading.com)

dakwatuna.com – Tahun 1648 adalah tahun kelam bagi dunia, tetapi sebagian besar manusia tidak menyadarinya. Mengapa? Di tahun tersebut lahir sebuah pemahaman mengenai pemisahan agama dan kehidupan dunia yang biasa disebut sekulerisme. Sekulerisme lahir dari rahim sebuah perjanjian yang dikenal dengan nama Westphalia. Perjanjian ini mengakhiri Perang Tiga Puluh Tahun antara Katolik dan Protestan di benua biru Eropa. Setelah perjanjian ini berlaku, negara-negara Eropa sepakat untuk tidak tunduk terhadap kekuasaan Paus dan Gereja Katolik Roma. Bahkan menurut Poppe, setelah memahami kehancuran akibat perang Tiga Puluh Tahun yang melibatkan agama, negara-negara di Eropa mulai memisahkan kehidupan agama dengan kehidupan dunia (Poppe, 1988). Perjanjian Westphalia membawa dampak yang buruk dengan cepat ke seluruh dunia. Paham sekulerisme mewabah hingga ke seluruh dunia. Agama dipisahkan dari bidang-bidang kehidupan lainnya, termasuk pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ilmu yang dimiliki seseorang dianggap tidak ada hubungannya dengan agama, itulah sekulerisme. Kepandaian bukan karena agama, pandangan yang tidak tepat.

Siapakah orang terpandai di dunia? Albert Einstein? Issac Newton? Atau Ibnu Sina? Kepandaian manusia erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan yang ia dapatkan sebagai titipan Allah SWT. Ibnu Sina menjadi ilmuwan yang dikenal di bidang kedokteran karena dia mengamalkan ilmunya dengan keikhlasan. Sepandai apapun orang-orang tersebut, pengetahuan mereka tetap terbatas. Manusia hanya dititipi pengetahuan yang amat terbatas. Bahkan menurut penelitian, Albert Einstein hanya menggunakan enam persen kemampuan otaknya. Bagaimana dengan kita? Dunia ini menyimpan banyak pengetahuan yang bisa dipelajari oleh manusia. Dari mana manusia seharusnya memulai untuk belajar? Banyak manusia yang tidak menyadari bahwa Allah SWT telah menyediakan sebuah gudang ilmu yang lengkap di kehidupan manusia. Alquran adalah gudang ilmu tersebut. Alquran memiliki banyak pengetahuan yang luar biasa, mulai dari sejarah, ilmu pengetahuan alam, hingga kejadian-kejadian yang belum bisa ditangkap oleh akal manusia. Apakah ada alasan untuk memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan?

Ayat-ayat di Alquran membimbing manusia agar dapat memahami bahwa ilmu Allah sangat luas serta Allah memberikan ilmu-Nya kepada manusia melalui firman-Nya. Simaklah ayat berikut “Dan engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti awan berjalan. Itulah ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml: 88). Allah SWT memberi sebuah ilmu pada manusia bahwa gunung itu bergerak setiap tahun. Di saat manusia belum mengetahui hal tersebut Alquran telah memberikannya sebagai ilmu pengetahuan bagi manusia. Kemudian Allah berfirman, “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Al-Anbiya’: 33) Firman Allah tersebut terbukti sebagai ilmu pengetahuan. Sekarang, saat manusia sudah dapat membuktikkan firman Allah tersebut, seharusnya tidak ada lagi alasan kita untuk tidak mentadaburi Alquran.

Patut disayangkan, masyarakat Indonesia, termasuk penulis sendiri, masih menganggap membaca Alquran tanpa memahami artinya saja sudah cukup. Orang berlomba-lomba untuk khatam Alquran, tetapi hanya segelintir orang yang berusaha memahami Alquran. Ilmu-ilmu dalam Alquran tidak akan tergali apabila manusia tidak mentadaburi Alquran. Tadabur Alquran tidak akan berjalan apabila kita tidak mencoba memahami terjemahannya. Jangan sampai, semangat untuk mentadaburi Alquran luntur oleh semangat sekulerisme yang sedang berada di sekitar kita.

Sekulerisme tidak hanya melanda negara-negara Eropa saja. Bukan karena sekulerisme lahir dari rahim perjanjian Westphalia yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam, negara Islam akan jauh dari sekulerisme. Contoh yang paling nyata adalah saudara kita di Turki. Sejak Khilafah Islamiyyah jatuh tahun 1924, pemerintah Turki mulai mengubah kehidupan Islami di Turki menjadi kehidupan yang benar-benar sekuler. Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang anti-penggunaan pakaian muslim bagi masyarakat yang tidak memiliki jabatan agama dalam pemerintahan. Bahkan, Presiden Mustafa Kemal menyerang hak perempuan muslim Turki untuk berilbab. Bukti nyata yang mengiris hati sahabat muslim lainnya ini memberikan gambaran bahwa sekulerisme bisa menyebar ke mana saja dan dengan cara bagaimanapun.

Apabila di Turki penyebaran sekulerisme dilakukan oleh kaum liberalis Turki yang berkuasa sejak keruntuhan Khilafah Islamiyyah, sekulerisme di Indonesia sedang terjadi dengan pemisahan nilai-nilai Alquran dari kehidupan manusia. Para pelajar Indonesia belum menyadari bahwa Allah telah memberikan ilmu pengetahuan dalam Alquran. Pemisahan pendidikan dari agama adalah tindakan yang tidak tepat. Seseorang yang ingin mendapatkan ilmu harus dekat dengan Allah SWT. Mendekatkan diri dengan Allah harus dilakukan dengan agama. Jika sudah dekat dengan agama, kita akan dekat dengan firman-Nya dalam Alquran. Allah memberikan jaminan, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9). Alquran berisi ilmu-ilmu pengetahuan yang langsung diberikan Allah melalui firman-Nya. Sejak abad ke-6 Masehi Alquran telah memberikan jawaban atas fenomena-fenomena yang dipertanyakan manusia. Mari hilangkan benih sekulerisme dalam pribadi kita dengan mencari ilmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang mencari ilmu di jalan-Nya.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Padjadjaran.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization