Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Orientasi Kekuasaan

Orientasi Kekuasaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Madinah tampak bergembira, bersahutan takbir dan kalimat talbiyah, bersyair layaknya pesta meriah, hari itu Yatsrib (Madinah) menjadi kota yang paling berbahagia, lantaran seorang manusia mulia tiba dan menginjakkan kakinya di Madinah. Tak hanya itu, kedatangannya kali ini bukan sekadar singgah sementara, tapi untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama. Ialah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mendatangi madinah dengan membawa risalah, setelah risalah yang dibawa olehnya ditolak mentah-mentah oleh orang mekah bahkan menjadi alasan mereka untuk mengusir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan menjadi sebab diperintahkanlah kepada beliau untuk hijrah ke Madinah.

Di tengah kebahagiaan yang luar biasa, euforia kedatangan sang Rasulullah yang menjadikan madinah dipenuhi aroma keberkahan, dan kedamaian melalui risalahnya, Abdulllah bin ubay bin salul meradang, padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bukanlah seorang raja yang berkunjung kepada rakyatnya, bukan pula seorang hartawan yang menyombongkan hartanya, juga bahkan pemberontak yang merampas hak dan kedamaian, namun, beliau hanyalah seorang rasul utusan Allah, nabi akhir zaman dan penutup para nabi, Muhammad shalallahu’alaihi wassalam.

Lalu kenapa Abdullah bin ubay meradang? Bukankah datangnya sang Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam -yang dicintai Allah dan Allah pun mencintainya- ke Yatsrib merupakan sebuah penghormatan dan keberkahan? Karena Madinah hendak dimuliakan dengan risalah yang dibawa Nabi-Nya?

Tak lain dan tak bukan, ketidaksukaannya tersebut didasari oleh kekuasaan. Bisa kita bayangkan, seorang Abdullah bin ubay dari kaum khazraj, setelah menanti sekian lama, melewati konflik dengan Kaum Aus yang tidak sebentar, puluhan tahun dan turun menurun. Setiap hari disuguhi oleh konflik dan konflik. Sampai pada akhirnya Khazraj dan Aus sepakat untuk menghentikan ketegangan antara mereka dengan mengangkat seorang pemimpin, dan terpilihlah calon pemimpin dua kubu tersebut, Abdullah bin Ubay.

Selang beberapa waktu, mahkota sebagai simbol kepemimpinannya sudah siap untuk dipasangkan, perayaan sudah siap diselengggarakan. Tersiarlah kabar bahwa seorang Rasul akan datang. Maka hilanglah pamor seorang Abdullah bin Ubay dimata orang Madinah. Hal ini sebenarnya tidak diinginkan oleh Rasulullah, apalagi perihal kekuasaan. Namun, begitulah sebuah keimanan dan sebuah kebenaran selalu menarik perhatian siapapun yang sudah terjamah oleh Islam.

Inilah yang membuat Abdullah bin Ubay murka, ia menganggap bahwa Rasulullah sudah merampas haknya untuk menjadi raja/penguasa, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk menyingkirkan Rasulullah. Bisa dikatakan Abdullah bin Ubay adalah orang yang bisa menerima segalanya, kecuali hanya satu, yaitu kekuasaan yang membuatnya merasa dirampas semua haknya. Begitulah memang kekuasaan, jika mendapatkannya maka seakan mendapatkan segalanya, dan ketika gagal mendapatkannya seakan semua pergi dan sirna. Akhirnya mau tidak mau ia harus tunduk dan mengikuti apa yang ada. Ia pun mengikrarkan Islam dengan terpaksa dan takut pada anggapan orang banyak yang pada akhirnya munculah istilah Munafik.

Dalam hidupnya, Abdullah bin Ubay tidak pernah merasa puas dengan kehadiran Rasulullah, dalam setiap kemenangan ia tidak merasa senang, hatinya bersekutu dengan kejahatan, namun lisannya menyembunyikan. Menjadi musuh dalam selimut dalam setiap pertempuran dan sela kehidupan. Padahal seandainya Abdullah bin Ubay mau menerima dengan suka rela kedatangan dan risalah yang Rasulullah bawa, tentu mungkin kita bisa beranggapan, ia akan menjadi seorang pejuang Islam yang tangguh. Namun, takdir berkata lain. Karena hatinya lah, ia terhalang untuk menerima kebenaran, terhalang untuk mendapat hidayah dari Allah, karena hidupnya ia orientasikan hanya untuk kekuasaan.

Kita mencari sosok seorang pemimpin bukan hanya berkapasitas pemimpin dan hanya orientasi kekuasaan, tapi juga berkapasitas untuk menerima suatu kebenaran dan memiliki orientasi Islam. Bukan membuat pembenaran untuk setiap yang ia bisa lakukan. karena penguasa yang berorientasi Islam tidak semata membangun negerinya untuk di dunia, tapi juga membangun masyarakatnya untuk hidup dan bahagia sampai kelak di akhirat sana. Wallahu’alam.

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Aktif sebagai crew di Alhikmah Radio dan aktif sebagai mahasiswa di STID DI dan STIU DI Alhikmah Jakarta.

Lihat Juga

Fiqih Bernegara

Figure
Organization