Home / Narasi Islam / Sosial / Soleram, Pesan Moral Terpendam

Soleram, Pesan Moral Terpendam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (NRAZalla)
Ilustrasi. (NRAZalla)

dakwatuna.com – Mendendangkan lagu-lagu daerah? Mengingat pun engan bagi mereka, tunas-tunas bangsa yang mengarahkan kiblatnya pada musik populer dewasa ini.

Popularitas musik saat ini sudah mengubah pandangan para penikmatnya. Di mana pun berada, musik selalu menemukan ladang eksistensinya. Boleh jadi, musiklah bagian dari seni yang menjadi garda paling depan. Tak dipungkiri, setiap pasang telinga menikmati musik sembari duduk-duduk di atas dipan.

Pendengar musik tidak sekalian merangkap menjadi pengamat musik. Maka, tidak heran arus yang membawa eksistensinya semakin tanpa arah dan tujuan. Diprakarsai oleh musik-musik balada era ’90-an oleh Nike Ardila. Lahir beberapa lagu meratap seperti Bintang Kehidupan berkisah tentang nelangsa putus cinta. Musik jadi terkesan galau dan ‘cengeng’. Hal ini disebabkan lirik-lirik lagu yang tidak mengutamakan pesan moral kepada para pendengar dan penikmat musik.

Tambah lagi, semakin deras arus membawa musik hingga bermuara pada lautan penikmatnya yang berdendang tanpa makna. Pusaran yang semakin digandrungi oleh khalayak penikmat musik, terutama generasi muda seperti Korean Pop (K-Pop) dan Western (musik barat). Sukar ditemukan amanat pemusik kepada pendengarnya, bahkan hanya hedonisme yang tertangkap.

Hampir di setiap lini kehidupan manusia tak terlepas oleh lantunan musik. Ketika upacara bendera yang dilaksanakan setiap Senin pagi di halaman sekolah, atau sekadar menggumam saat berada di stasiun, halte dan pinggir jalan menunggu kedatangan transportasi pilihan kita. Jika hanya hedonisme yang ditawarkan, bagaimana mungkin tunas bangsa akan lantang mendengungkan nyanyian negerinya yang semakin prihatin.

Musik semestinya dijadikan salah satu senjata oleh seniman untuk mendidik bangsa dan menjadi pengingat kaidah-kaidah kehidupan yang hakiki. Namun, amat disayangkan nasib musik Indonesia, terutama dangdut yang notabene banyak orang katakan sebagai, “Dangdut is the music of my country,” tapi tak mencerminkan identitas bangsa.

Alangkah melas musik negeri pertiwi saat ini. Citranya dinodai oleh lirik yang tak bermakna bahkan mengandung unsur seksualitas. Tak habis rusak pada lirik, penayangannya pun sangat jauh dari harapan, seronok dan mengundang birahi. Sungguh ironis.

Musik dangdut yang dahulu memuat pesan moral dan mendidik seperti Rekayasa Cinta milik Camelia Malik. Lagu yang mengisahkan tentang cinta yang jauh dari arti sesungguhnya, cinta yang sudah direkayasa. Betapa salah satu lagu dangdut milik Camelia Malik mengajarkan untuk tidak ‘mempermainkan’ cinta. Bukan malah menjerumuskan pemuda-pemudi untuk terjebak dalam cinta yang semu, rasa cinta yang seharusnya disimpan rapat dengan sopan santun terlebih dahulu hingga tiba waktu yang tepat.

Harus disadari, regresifnya suatu bangsa disebabkan oleh rusaknya generasi muda, generasi yang akan melanjutkan sejarah negerinya. Kemunculan budaya band metal tak ubahnya pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga.” Belum selesai membenahi budaya bangsa yang berubah ditambah lagi dengan kebiasaan pelaku band metal yang gemar mabuk dan menyalahgunakan obat.

Alhasil, fenomena remaja ‘galau’ dan pergaulan bebas menjangkit generasi muda bangsa. Muda-mudi diserang oleh perasaan cinta. Cinta yang mendewasakan mereka sebelum waktunya, bukan dewasa dalam pola pikir melainkan dewasa dalam berperilaku (beradegan dewasa).

Padahal, jikalau bangsa ini bangga dengan kekayaan budayanya, terutama musik maka hal-hal yang akan merongrong identitas bangsa dapat dihindari. Lagu-lagu daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri begitu indah mahakarya nenek moyang Indonesia. Mereka, orang-orang terdahulu mewariskan nasihat bijak melalui lantunan musik nan syahdu.

Soleram, lagu khas tanah Riau yang pernah menjadi polemik antara bangsa Indonesia dengan bangsa tetangga, Malaysia. Lagu yang menjadi pengantar tidur anak-anak diklaim sebagai lagu milik bangsa mereka. Betapa Soleram merupakan lagu yang mengandung nilai-nilai luhur dan indah sehingga bangsa lain pun ingin merebut dari Ibunya.

Soleram-soleram, Soleram anak yang manis..
Anak manis janganlah dicium sayang..
Kalau dicium merahlah pipinya..

Begitu penggalan lirik lagu Soleram yang mengamanatkan kepada anak-anak yang hendak tidur. Amanat untuk menjaga kehormatannya. Amanat untuk menjaga harga dirinya. Amanat untuk mempertahankan malu sebagai budayanya. Sebagaimana firman Allah SWT: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nur: 30)

Ayat di atas merupakan antisipasi agar muda-mudi tidak terjerumus ke dalam paham-paham keduniaan yang menghalalkan segala perbuatan tercela dan merusak pikiran generasi muda.

Satu dua tiga dan empat..
Lima enam tujuh delapan..
Kalau tuan dapat kawan baru, sayang..
Kawan lama dilupakan jangan..

Selain membudayakan malu, Soleram juga memiliki lirik yang mendidik untuk senantiasa menyambung tali persaudaraan dan menghindari perpecahan. Agama Islam mengamini petuah tersebut di dalam beberapa hadits: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi.” (H. R. Muslim)

Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

Jalan-jalan ke pasar baru..
Jangan lupa belilah roti..
Ini lagu jaman tempo dulu tuan..
Mungkin sekarang dikenang kembali..

            Lagu Soleram ditutup dengan pesan agar melestarikan budaya yang mencerminkan identitas bangsanya. Maka, Soleramlah lagu yang memendam pesan-pesan moral itu. Pesan yang dahulu senantiasa menyertai tidur-tidur para anak leluhur bangsa yang berkarakter.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4,00 out of 5)
Loading...
Avatar
Seorang perempuan biasa yang memiliki kehidupan yang luar biasa. Bukan seseorang yang gemar tampil di depan orang banyak, namun gemar menebar kebermanfaatan yang kasat mata bagi orang banyak.

Lihat Juga

Kecewa Uji Materi Pasal Kesusilaan Ditolak MK, Fraksi PKS: Ini Soal Tanggung Jawab Menjaga Moralitas dan Karakter Bangsa

Organization