Home / Berita / Opini / Ada Apa dengan “Harga BBM”?

Ada Apa dengan “Harga BBM”?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (twitter.com/irodat_kodrat)
Ilustrasi. (twitter.com/irodat_kodrat)

dakwatuna.com –  Ada yang masih ingat dengan slogan / janji-janji Jokowi – JK pada saat kampanye 2014 lalu? Jika sudah lupa ada salah satu pamflet yang mungkin bisa membantu mengingatkan semuanya tentang janji-janji Jokowi – JK pada saat kampanye Pilpres tahun 2014 lalu, dalam pamflet di bawah ini tertulis jelas point terakhir “KATA HATI JOKOWI-JK” bahwa “BBM TIDAK DINAIKKAN” lalu ke mana janji itu? Belum juga genap satu tahun Jokowi-JK menjabat sebagai presiden dan wakil presiden sudah satu persatu janjinya diingkari, “Ada Apa Dengan Jokowi-JK?”

Seperti yang umat Islam tahu bahwa ciri-ciri dari orang munafik menurut hadist sebagai berikut:

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia akan ingkar dan jika dipercaya ia berkhianat. “(HR. Bukhari).

Mengenai kebijakan menaikan harga BBM saat ini mari kita korelasikan dengan keterangan menurut Al-Quran dan hadist yang menyebutkan bahwa Sumber Daya Alam (SDA) pada hakikatnya absolut milik Allah SWT yang diamanatkan pengelolaan, pemanfaatannya dan pelestariannya kepada manusia untuk kesejahteraan seluruh manusia bukan segolongan manusia, sebagaimana dalam firman Allah; QS. Luqman ayat 20, dan QS. Thaha ayat 6.

Dan pada Selasa malam (18/11/2014) Jokowi-JK tanpa ragu dan tanpa mau mendengarkan aspirasi rakyat lantas mengumumkan kenaikan harga BBM. Harga premium dan solar naik Rp 2.000 per liter.

            Oleh karena itu jelas pemimpin seperti apa yang sedang memimpin Indonesia saat ini? lalu timbul pro dan kontra di kalangan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi – JK, bagi yang pro (karena sudah terlanjur malu mendukung Jokowi-JK), baiklah kita tidak bermaksud menyerang secara individu siapa pemimpin Indonesia saat ini, yang jelas mereka semua hasil dari produk yang dinamakan “Demokrasi, Neo-Liberal” di mana faham ini berasal dari ideologi “Kapitalis” yang memisahkan urusan agama dengan kepentingan dunia. Fakta-fakta menyebutkan bahwa dari beberapa presiden yang memimpin Indonesia kebanyakan dari mereka “ngotot” selalu menaikkan harga BBM dalam kepemimpinan mereka dengan berbagai alasan:

  1. Subsidi BBM salah sasaran
    Padahal menurut hasil survey bahwa penggguna BBM terbesar saat ini adalah masyarakat menengah ke bawah, faktanya pengguna mobil pribadi hanya menggunakan 53% dari total 92% transportasi darat, bukan dari total BBM bersubsidi artinya hanya sekitar 48.76% dari total BBM bersubsidi digunakan oleh kendaraan pribadi itupun kebanyakan motor, mobil-mobil tua dan angkutan umum(kata dan data.co.id, 6/6/14), jadi bisa dirasakan dengan naiknya harga BBM lalu tarif angkutan menjadi naik, imbasnya harga-harga sembako menjadi naik, biaya-biaya menjadi naik, bukankah dengan begitu mencekik masyarakat menengah ke bawah? Lantas di mana letak salah sasarannya? Siapa yang dimaksud pemerintah yang ingin dibantu?
  2. Subsidi membebani APBN
    Faktanya selama ini yang justru lebih membebani APBN adalah bunga dan cicilan utang? Malah pemerintah tidak menganggap hal itu sebagai beban, padahal total yang harus dibayarkan negara, pokok dan bunga petahun sekitar Rp 368,981 Triliun atau sekitar 16% dari APBN bunganya saja (sumber: Al-Islam 21/11/2014). Bukankah dalam Islam bunga itu sama dengan riba? (lihat: QS. Ar-rum, 30: 39; QS. An-Nisa, 4: 160-161; QS. Ali-Imran, 3: 130; QS. Al-Baqarah, 2: 278-279), lantas siapa yang menikmati bunganya? Tentunya negara-negara pemberi pinjaman, anehnya kenapa negara sebesar dan sekaya Indonesia sampai harus terus berhutang pada negara lain?
  3. Subsidi BBM hanya untuk kegiatan konsumtif
    Sisi konsumtifnya dari mana? Bukannya mayoritas penduduk Indonesia itu nelayan dan petani? Dan nelayan bisa menjalankan kapalnya untuk mencari ikan di laut karena mesinnya pakai solar, lalu petani harus menjalankan mesin traktor untuk membajak sawah, angkutan umum membawa tukang sayur, pelajar, mahasiswa dan sebagainya bukankah mereka adalah manusia-manusia yang produktif? Jelas para pejabat tidak akan merasakan beban ongkos naik/biaya produksi naik karena mereka hidup dari berbagai tunjangan yang juga jadi beban negara.
  4. Subsidi BBM menghambat pembangunan
    Sebenarnya ini alasan yang tidak logis, pembangunan sasaran utamanya masyarakat pedalaman, menengah ke bawah, kenyataannya malah masyarakat semakin banyak yang bodoh karena kurangnya sarana & prasarana belajar, kontras dengan kondisi para pejabat atau aparatur negara yang selalu bermewah-mewah dalam menyelenggarakan rapat misalnya di hotel, lalu kenapa pemerintah tidak mau bekerja keras mengeola sendiri berbagai kekayaan alam dalam negeri, bukan dengan seenaknya saja menyerahkan pada asing.
  5. Dana Kompensasi bisa mengurangi jumlah orang miskin
    Pemerintah sepertinya menganggap enteng dampak dari kenaikan harga BBM. Hanya tiga bulan. Setelah itu akan normal, begitu yang diungkapkan JK. Dan untuk rakyat miskin disiapkan kompensasi tiga “kartu sakti” yaitu Kartu Indonesia Sehat (KIP), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), yang justru dalam pendataan dan pendistribusian program kompensasi seperti itu malah memberi celah bagi pihak-pihak tertentu untuk melakukan manipulasi, terbukti fakta di lapangan malah banyak yang tidak tepat sasaran, jadinya yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya.

Kenyataannya dari sekian banyak alasan yang dikemukan pemerintah alasan utama menaikan harga BBM adalah demi menyempurnakan agenda liberaisasi di sektor migas terutama demi memenuhi kemauan pihak asing yang sudah lama bermain di sektor itu di Indonesia. Lalu istilah apalagi yang tepat untuk menggambarkan kedzaliman pemimpin kita saat ini dan sebelumnya?

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa pemimpin kita saat ini jelas-jelas tidak menjalankan amanah sesuai dengan perintah Allah SWT dan Rasul SAW, karena dari fakta yang ada negara tidak dirugikan dengan menjual harga BBM di bawah harga pasaran dunia, hanya saja sesuai dikte Bank Dunia, IMF dan beberapa investor asing bahwa yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah menaikkan harga BBM sebesar 50% yang artinya sama dengan nilai nominal harga premium saat ini menjadi Rp 8.500 per liter.

Sebagai umat Islam yang taat pada aturan Alquran dan Hadist maka kedzaliman pemimpin kita ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, harus sama-sama mengingatkan pemimpin dan menasihatinya, karena itu merupakan perintah agama, agama adalah nasihat diantaranya bagi para pemimpin muslimin, sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Jihad paling afdol adalah mengutarakan kebenaran di depan pemimpin yang otoriter”. (HR. Abu Daud).

Tindakan pemerintah ini sudah jelas merupakan pengkhianatan, untuk itu kita tidak boleh diam harus terus mengupayakan agar kebijakan menaikan harga BBM dicabut, kita wajib berusaha menghilangkan kemungkaran itu dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan sesuai tuntunan syariah, dengan merujuk pada Hadist berikut:

“Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput gembalaan, dan api. Harga (menjual-belikannya) adalah haram” (HR. Ibn Majah).

Jika tidak, maka kedzaliman itu akan berakibat bagi semua orang, baik yang dzalim maupun yang shalih (lihat: QS Al-Anfal, 8:25).

Solusi terbaik adalah kembali pada sistem khilafah ‘ala minhaj an nubuwwah (sistem ke-nabian) terbukti dengan sistem tersebut islam pernah berjaya selama 13 abad dengan tingkat kriminal dan kemiskinan yang rendah. Memperjuangkan khilafah yang akan menerapkan syariah secara kaffah merupakan harga mati bagi kaum muslimin yang berfikir.

Wallah a’lam bi ash-shawab.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar

Lihat Juga

Karena Dirimu Begitu Berharga