Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Al-Quran Lindungi Kita dari Janji Iblis

Al-Quran Lindungi Kita dari Janji Iblis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
llustrasi. (bestonlinequranlearning.com)
llustrasi. (bestonlinequranlearning.com)

dakwatuna.com – Iblis berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di bumi, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (Q.S. Al-Hijr:39-40)

Sepertinya memang terbukti janji sang Iblis ini. Karena, kini memang jarang bisa kita jumpai perbincangan mengenai Alquran di kehidupan sehari-hari. Perbincangan-perbincangan yang ada justru terfokus pada segolongan orangnya, di mana mereka mengaku bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata mengikuti ajaran yang diajarkan dalam Alquran. Padahal, tindakan mereka sama sekali tidak mencerminkan peneladanan terhadap isi Alquran. Tindakan-tindakan mereka merujuk pada sikap para teroris, melakukan kekejaman, mengadakan aliran sesat dan lain sebagainya. Terbukti sudah, umat muslim saat ini sedang tersesat. Mereka dibuat tidak sadari sedang dipisahkan dengan hal yang semestinya lekat dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari, yaitu berinteraksi dengan Alquran. Perhatian umat muslim terhadap Alquran dialihkan dengan menggunakan media Fun, Fashion, Food, Film, dan F lainnya. Tidak heran mereka bertindak tidak lagi seperti apa yang diajarkan dalam Al-Quran. Dan membuat pandangan orang-orang yang belajar dan mengajarkan Alquran adalah segolongan orang-orang kuno.

Padahal sudah jelas Allah berfirman dalam Alquran, yaitu Q.S. Al-Baqarah : 2

Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. Tersesatnya umat muslim, membuat mereka dianggap sebagai sekelompok orang jahat. Mungkin ini salah bentuk teguran Allah pada umat muslim yang jumlahnya bagai buih di lautan namun kualitas diri umat tidak mumpuni untuk dikatakan sebagai umat muslim. Karena berinteraksi dengan Alquran saja hampir tidak pernah. Dibaca hanya ketika akan menghadapi suatu ujian, setelahnya ujian berlalu maka ditinggalkan lagi Alquran itu. Padahal kunci lika-liku dunia telah ada dalam Alquran bagi orang-orang yang mau berfikir. Karena Alquran hadir sebagi petunjuk.

Adalah Alquran yang memang seharusnya lekat dengan kehidupan para muslim dengan selalu menjaga interaksi dengannya baik dengan lisan, hati, pikiran, maupun perilaku. Karena AlQuran dengan dibersamai Al-Hadist adalah dua hal yang sebenarnya selalu bisa menjadi rujukan para manusia yang hidup di dunia ini terutama umat Islam dalam menjalani kehidupan bernegara, dan kehidupan sehari-hari. Karena kedua hal inilah telah terbukti secara pengaruhnya pada kehidupan Nabi Muhammad saw dan para sahabat yang masih menjalankan sunnahnya dengan benar karena mereka selalu menjaga interaksi mereka dengan Alquran. Di zaman mereka, kesejahteraan bukan lagi hal yang utopis. Karena mereka dapat mengambil pelajaran secara utuh dari Alquran. Sedang saat ini, kesejahteraan jugalah yang selalu dieluh-elukan oleh masyarakat Indonesia namun tak kunjung terwujud.

Dengan demikian, seharusnya pembahasan, pembicaraan-pembicaraan yang berkaitan dengan Islam khususnya tentang Alquran tidak lagi hanya dibicarakan dalam kumpulan majelis ta’lim di masjid-masjid, bukan lagi hanya di dalam kelas-kelas agama Islam, bukan lagi terbatas hanya dalam pikiran para ulama. Tapi, bicarakanlah dan terapkanlah ilmu-ilmu yang ada dalam Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Karena apakah masih pantas seorang muslim disebut sebagai seorang muslim jika dalam keseharian tidak melekat pada dirinya sikap dan perilaku yang tidak mencerminkan muslim yang mengambil hikmah pelajaran yang mereka pelajari dari Alquran? Apakah masih pantas disebut seorang muslim jika dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah berinteraksi apalagi mendalami sisi-sisi lain dari Alquran selain membacanya minimal 1(satu) juz, bahkan mengamalkannya? Pantas kiranya jika umat Islam masih tertinggal dalam bidang pengetahuan yang sebenarnya telah ada dalam Alquran, karena dalam hal berinteraksi dengan Alquran saja masih terbilang kurang jika dibandingkan dengan ilmuwan muslim zaman dulu, sehingga wajar jika terhalang untuk faham maksud isi Alquran. Atau meski kita sudah berinteraksi dengan Alquran tapi Allah enggan memberi pemahaman pada kita tentang isi Alquran karena masih ada niatan yang tidak ikhlas. Naudzubillah.

Sudah waktunya kita kembali pada Alquran. Membiasakan Alquran sebagai petunjuk dalam hidup, sehingga selalu ada alasan untuk tetap berinteraksi dengan Alquran dengan mengkajinya dari berbagai sisi yang ia miliki. Karena Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” [Al-Bukhari 5027]

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 5)
Loading...
Mahasiswa D3 Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada 2012.

Lihat Juga

Tadarus Al-Quran