Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Malaikatku yang Sempurna

Malaikatku yang Sempurna

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Lebih dari pengorbanan, nyawapun engkau pertaruhkan. Demi buah hati , yang nanti akan memberikanmu senyum. Dan kelelahan raga maupun jiwa di setiap langkahmu. Kasihmu lebih indah dari semua kasih yang ada di muka bumi. Tak pernah lelah ataupun letih untuk menjaga buah hati.

Suaramu terdengar di setiap hariku, mendukungku ketika aku berlomba, menasihatiku bila aku melakukan kesalahan, bahkan memarahiku saat aku mengecewakan. Engkau pun selalu ada saat aku terjatuh, membangunkanku ketika aku belajar berjalan, menjadi pelindung dibelakangku saat aku terpuruk. Ibu, enggau bisa menjadi apa pun yang aku butuhkan.

Aku terlahir karena kau Ibu. Kau yang rela mempertaruhkan nyawa demi melahirkanku di dunia. Sebelum kau melikat wajahku, kau lebih dahulu memberikan kasih sayang yang amat besar padaku. Merawatku di dalam kandunganmu, yang menjadi tempat persinggahan saat aku bertumbuh.

Ibu, apa engkau pernah mengeluh ketika malam hari aku menangis dan menginginkan sebotol susu? Ibu, apa kau pernah merasa jijik saat aku mengeluarkan kotoran di dalam celana? Sungguh kasih sayang yang tiada banding, yang diberikan oleh Ibu ketika mengingat semua masa kecilku.

Suara rintihan yang dihadapinya hanya membuatnya tersenyum, kemudian ia timang-timang sampai aku pun tertidur kembali. Senyuman yang sangat bahagia terlintas di raut wajah yang berseri itu. Kesabaran yang sungguh luar bisa. Terpancar wajah yang ikhlas bersemi di wajah indahnya.

Tak sedikitpun ia lelah menjagaku, mengejarku akan kelincahan ragaku. Ia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Memberikan segala sesuatu dengan senyuman yang terkadang dibalas dengan kesebalan oleh anaknya. Sungguh sabar pengorbanan seorang ibu itu.

Sabar sebuah kunci untuk membesarkanku, mendidikku untuk menjadi anak yang sangat diharapkan lebih sukses darinya. Tujuan ia begitu sederhana yang alangkah bahagianya ia bila anak yang diharapkannya berhasil.

Ibu, kau lebih dari sekadar seorang pahlawan. Memberikanku tempat berlindung yang tenteram. Pelukan kehangatan yang kurasakan takkan pernah hilang dari perasaan ini. sungguh nyaman yang kurasakan.

Bekerja keras banting tulang setiap hari hanya untuk menghidupkan seoarang anak yang begitu manja padanya. seoarang anak laki-laki yang penurut terkadang hanya membuat seoarang ibu itu kesal. Kesal akan terkadang suara yang dikeluarkan dari mulutnya sia-sia karena ibu itu lelah bekerja sehingga tak menanggapinya.

Hal yang sangat bodoh telah dilakukannya seorang anak laki-laki itu, menyesal akan mengingat kemarahan yang ia lakukan kepada seorang yang sangat berharga dalam hidupnya. Penyesalan selalu datang di belakang, akan lebih baik berpikir lebih lama jika ingin melakukan suatu hal. Berfikirlah sedalam-dalamnya dan bertindaklah setelah menemukan yang terbaik.

Tercurahkan pancaran keikhlasasan yang telah kau berikan untukku. Membahagiakan diriku terlebih dahulu dibandingkan dirimu Ibu. Memprioritaskan selalu diriku ketika ada suatu hal yang sangat aku sukai. Kebahagian yang kudapat darimu sungguh tak ada banding di didunia ini.

Ingin selalu bisa berbincang setiap harinya denganmu, akan tetapi kesibukan selalu menjadi penghalang. Lihat diriku, selalu menyibukkan diri dengan kehidupanku ini. Aku ingin menjadikan Ibu sebagai salah satu kesibukan dalam kehidupanku.

Waktu terus menerus berputar, Ibu selalu menghiasi hari-hariku, menumbuhkan semua inspirasiku, menjelma menjadi kekuatanku, menghidupkan semua semangatku. Bertekad semua yang kulakukan karenanya.

Merasakan sesuatu hal yang indah yang telah kau berikan, berharap semua yang kulakukan menjadi kehindahan tersendiri untuknya. Membuatmu bahagia sebuah tujuanku yang harus kulakukan. Membuatmu bangga akan keberadaan diriku harus kubuktikan.

Ketulusan hati saat kau merawatku membuat hati ini tersentuh ingin membalas. Walau kau tak pernah menuntut. Hati ini merasa ingin mengorbankan segalanya untumu. Aku memang bukan anak yang sempurna akan tetapi aku berusaha menjadi yang sempurna.

Ibu, begitu sempurna ketulusan hatimu. Ibu, engkaulah surga nyata yang menaungi saat kurapuh pelindung dan penjagaku. Ibu , mungkin hanya doa-doaku yang selalu kupanjatkan agar selalu kebaikan untukmu.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Laki yang ingin membahagiakan keluarga. Sedikit pemalu dan selalu memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan. Insya Allah berjalan lurus di jalan-Nya.

Lihat Juga

Ibu, Cintamu Tak Lekang Waktu

Figure
Organization