Topic
Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Cerita dari Matahari dan Bumi

Cerita dari Matahari dan Bumi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (islamicstyle.al-habib.info / nurelyana)
Ilustrasi. (islamicstyle.al-habib.info / nurelyana)

dakwatuna.com – Tanpa henti matahari menyinari dan menghangatkan bumi, tapi apa yang bumi berikan kepada matahari? Bumi hanya berputar putar mengelilinginya sampai entah kapan akan berakhir. Sebagai manusia kita pasti berubah. Kini yang dulu ‘si kecil’ bumi yang mengitari matahari telah beranjak dewasa. adakah balasan yang setimpal untuk orangtua yang selama ini ‘menyinari’ kita?

Bagiku bagaikan matahari, jasa kedua orang tua kepada anaknya memang tak bisa kita balas. Khususnya ibu. Wanita yang aku panggil ibu itu adalah sesosok mentari buatku dan keluarga. Perkerjaannya sebagai pewarat tak menyulitkan beliau untuk terus memberi kasih kepada kami anak-anaknya. Di sela-sela kesibukannya untuk memberi perhatian kepada pasien beliau juga tetap memberikan prioritas utama ke keluarganya.

Aku sedih ketika mendengar keluhannya yang selama ini terpendam di hatinya. Tampak banyak goresan pengalaman di wajahnya yang tak pernah membuat dia patah semangat. Walau lelah berdiri berjam-jam membantu mengoperasi pasien, di hatinya teguh pendirian untuk terus berjuang mencari rezeki demi menghidupi keluarga.

Memang bukan kewajibannya, tetapi dia tidak pernah pamrih untuk terus berjuang. Terkadang ketika anak-anaknya tertidur di rumah, ia tetap membantu orang lain untuk tetap hidup. Bukan sekali-dua kali ia tak istirahat seharian untuk terus berkerja membantu kesehatan orang. Dalam keseharian yang padat yang merangkulnya untuk terus membantu orang lain ada hal yang beliau yakini di hati. “Tak pernah pamrih adalah kunci dari rezeki, rezeki akan diatur oleh yang maha kuasa”. Aku yakin, sesungguhnya banyak hal yang ibu simpan di hatinya. Tapi tak pernah aku dengar ia mengeluh tentang perjangannya untuk menghidupi kami, anak anaknya. Sesekali ia hanya memarahi kami untuk sekadar mengingatkan saja, salah satu bentuk perhatian beliau.

Lalu apa yang aku bisa beri? Setelah ia mengandungku selama 9 bulan, menyusui dan merawatku, apa yang bisa aku lakukan? Yang selama ini aku cari hanyalah cara untuk bisa membuat ibuku bahagia, ibuku bangga. Sekolah dan mendapatkan nilai yang baik, mendapatkan perguruan tinggi dan kuliah dengan baik, tetapi beliau menyekolahkanku dan menyuruhku kuliah untuk bekal aku kelak. Dalam pencarianku untuk membuatnya bahagia kenapa ia tetap saja memikirkan aku? Apakah tak ada cara yang tepat untuk membuat ia bangga?

Ia bagaikan mentari, yang perjuangannya tak bisa terbalaskan oleh anaknya sekalipun. Yang bisa aku lakukan adalah terus berusaha menjaga senyumnya. Inilah sedikit cerita tentang matahari dan bumi.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 2,00 out of 5)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta Jurusan Penerbitan (Jurnalistik). Senang dengan hal berbau Seni.

Lihat Juga

Pantaskah untuk Menyakitinya?

Figure
Organization