Home / Berita / Internasional / Asia / Jakarta dan Singapura Sama-sama Banjir, Tapi Beda Cara Penanganannya

Jakarta dan Singapura Sama-sama Banjir, Tapi Beda Cara Penanganannya

Banjir di Singapura tak kalah parah dengan Jakarta. (lensaindonesia.com)
Banjir di Singapura tak kalah parah dengan Jakarta. (lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Masalah banjir ternyata bukan hanya terjadi di Jakarta, Singapurapun tidak bisa menghindar dari masalah yang satu ini. Walaupun dua kota besar ini memiliki permasalahan yang sama, ternyata keduanya sangat berbeda dalam penanganannya.

Baru-baru ini Portal properti global Lamudi, di keterangan resminya membandingkan perbedaan penanggulangan banjir di Singapura dan Jakarta.

Mereka juga menemukan penyebab mengapa Jakarta mengalami banyak masalah di musim penghujan dibanding Singapura, padahal tingkat curah hujan di Singapura lebih tinggi 20 persen dari Jakarta.

Inilah beberapa perbedaan antara Jakarta dan Singapura dalam hal penanganan banjir:

1. Pembuangan

Jakarta tidak mempunyai saluran pembuangan yang cukup. Singapura dengan ketinggian yang lebih curam, mempunyai saluran air tiga kali lebih banyak dari Jakarta.

Karena itu, Jakarta sangat membutuhkan pembangunan saluran air yang lebih banyak untuk memastikan kejadian banjir tahun lalu tidak terulang lagi.

2. Kepadatan penduduk

Meskipun curah hujan di Jakarta lebih sedikit, namun populasi di Singapura hanya setengah dari Jakarta. Sehingga, dengan dua kali lipat orang yang harus dipindahkan, membangun infrastruktur yang diperlukan di Jakarta jauh lebih rumit.

3. Ketinggian wilayah

Rata-rata ketinggian di Jakarta adalah 7 meter dan di beberapa areanya bahkan berada di bawah permukaan laut. Bandingkan dengan Singapura yang mempunyai ketinggian 15 meter dan di atas permukaan laut.

Karena itu, tidak hanya Jakarta lebih rata dan lebih sulit bagi air untuk mengalir. Namun, dengan area di bawah permukaan laut, ada banyak area di Jakarta dimana air malah terkumpul.

Lebih lanjut lagi, Jakarta tenggelam 5 hingga 10 cm setiap tahun dan bahkan 20 cm di Jakarta Utara. Ini merupakan masalah besar dalam pembangunan saluran air untuk mengeluarkan air dari kota.

4. Area rawan banjir

Dibandingkan dengan titik-titik merah di Singapura yang hanya seluas 56 hektar, sebagian besar area Jakarta adalah area rawan banjir. Ini kembali lagi disebabkan ketinggian dan saluran pembuangan di kota.

***

Masalah lainnya, Jakarta mempunyai sejarah pembangunan di kota yang tidak mempunyai pertimbangan kepada isu lingkungan. Pembangunan seperti itu yang menyumbat aliran air.

Tingginya kepadatan penduduk juga menyebabkan isu lebih lanjut di kawasan bantaran kali di kota. Sejatinya, sungai harus cukup lebar dan tidak ditinggali untuk dapat memberikan ruang kelebihan air saat banjir.

Kekurangan tindakan hukum di Jakarta menyebabkan area yang seharusnya untuk penampung air, malah dipenuhi oleh perumahan penduduk dan area komersil.

Pemerintah Singapura menghabiskan 2,4 miliar dolar untuk membangun sistem pembuangan, dan mengalokasikan 150 juta dolar per tahun untuk meningkatkan infrastrukturnya dan 23 juta dolar untuk perawatan.

Pemerintah Jakarta telah berjanji untuk mulai berinvestasi dan telah melakukan beberapa perbaikan untuk sebagai langkah pencegahan banjir di Jakarta.

Pencegahan ini berupa pengerukan di Bendungan Pluit, memperbaiki pompa air di bendungan, membersihkan dan menambal tanggul di Banjir Kanal Jakarta yang jebol tahun lalu dan menyebabkan banjir besar di beberapa daerah di pusat Jakarta, seperti Tanah Abang, Thamrin, Bundaran HI dan Menteng.

Pemerintah juga berencana untuk membangun Dinding Laut Raksasa yang telah memasuki tahap pembelajaran dan analisis.

Namun, akar permasalahannya adalah ledakan jumlah penduduk, dan memindahkan para penduduk di area rawan banjir untuk mulai melakukan perbaikan adalah suatu tantangan besar bagi pemerintah yang sedang bertugas.

Masyarakat telah terikat dengan rumah mereka, menjadikan perubahan demi kepentingan banyak sulit diterapkan.

Karena itulah, meski situasi sekarang mengalami perbaikan dan mempunyai kesempatan untuk mengurangi banjir berskala besar, ini masih jauh dari mencapai standar pembangunan kota metropolitan seperti Singapura.

Dan seiring datangnya musim penghujan, masyarakat terus berharap bahwa banjir besar tidak akan terjadi lagi tahun ini.

Sebagai catatan, Januari 2013, Jakarta Pusat lumpuh selama hampir tiga hari dan banjir besar menyebabkan 20 orang meninggal dan kerugian ekonomi hingga hampir Rp20 triliun. (ikh/inilah/sbb/dakwatuna)

 

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

PKPU HI Serahkan Bantuan Makanan Untuk Korban Banjir Solok

Organization