Topic
Home / Berita / Surat Pembaca / Dear Pak Jokowi…

Dear Pak Jokowi…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Antrian kendaraan di sebuah SPBU untuk membeli BBM Bersubsidi.  (antara.com)
Antrian kendaraan di sebuah SPBU untuk membeli BBM Bersubsidi. (antara.com)

dakwatuna.com – Entah bagaimana harus aku ungkapkan, gelisah yang menjalar di sekujur nurani tak jua kutemui penawarnya. Pagi tadi aku menyusuri sebuah pasar di daerah Jakarta. Bukan blusukan, karena aku tahu yang pandai blusukan hanyalah Anda, Pak Jokowi yang terhormat.

Lalu aku berpikir, jika dulu anda kerap kali blusukan, bukankah anda lebih tahu dari pada aku yang hanya sekadar melintas di jalanan pasar? Anda lebih tahu jeritan rakyat pinggiran. Anda lebih tahu bagaimana nasib mereka. Mengumpulkan pundi-pundi rupiah setiap hari. Sedang tenaga yang dikeluarkan tak setimpal dengan rupiah yang mereka dapat. Sudut mata mereka mulai keriput, melawan terik panas mentari, terkadang menangis sesekali. Memikirkan betapa melaratnya mereka saat ini.

Dear Pak Jokowi…

Itulah mereka, rakyatmu yang begitu memprihatinkan kondisinya. Mengais sisa-sisa makanan di tempat pembuangan. Dan sang kakek pun harus memikul dagangannya yang bahkan nyaris layu dan tak laku. Jika anda hendak berkaca, kehidupan Anda jelas sama sekali jauh persamaannya dengan mereka. Tidurmu nyaman dalam sebuah istana negara, sedang tidur rakyatmu masih banyak yang hanya beralas koran dan berselimut awan. Makanmu siap sedia di meja makan, nikmat dan lezat. Sedang rakyatmu masih harus mengais sisa-sisa makanan di jalanan.

Dear Pak Jokowi…

Mana yang lebih Anda cintai?? Rakyat yang satu bangsa dan satu bahasa dengan Anda, atau mereka orang-orang asing yang hanya akan mencuri kekayaan negeri??

Aku tak mengerti kenapa Anda menaikkan harga BBM seperti sekarang ini. Bahkan dengan harga BBM yang lama saja, masih banyak rakyat kelaparan dan menjelma menjadi gelandangan. Efek domino yang dihasilkan oleh kenaikan BBM benar-benar nyata terasa. Tarif angkutan, pajak jualan, modal dagangan, semuanya naik seketika. Menjerit! Rakyatmu tercekik! Ke mana lagi mereka harus pergi? Jika hidup di negeri sendiri kian mencekik mereka?? Tak adakah hak mereka untuk hidup dengan sejahtera?? Padahal ini rumah mereka, negeri mereka, dan kekayaan di dalamnya adalah milik mereka.

Dear Pak Jokowi…

Entah bagaimana lagi aku harus mengatakannya. Bahkan secarik surat ini aku tak yakin kau sudi membacanya. Dulu kau berjanji akan mendengarkan hati rakyat kecil, rakyat pinggiran, rakyat jalanan. Dulu Anda berjanji akan membawa bangsa ini kepada kesejahteraan dan kemakmuran. Lalu apakah dengan naiknya segala harga sandang dan pangan, rakyatmu sejahtera?? Lihatlah sendiri kenyataan yang ada! Mereka lagi-lagi menjerit tercekik. Pikirkanlah Pak Presiden yang kami hormati. Pikirkanlah nasib rakyatmu yang kau pimpin saat ini. Pikirkanlah hak-hak rakyatmu atas kehidupan mereka di negeri sendiri ini. Pikirkanlah.. Jika pada kenyataannya yang lebih engkau cintai adalah orang-orang asing di atas sana, maka baiklah. Biarkan rakyat ini berjuang sendiri untuk nasibnya. Tak perlu ada lagi yang dibanggakan memiliki seorang presiden. Tak perlu ada lagi yang dibanggakan memiliki seorang pemimpin, yang bahkan cintanya kepada orang asing lebih besar ketimbang kepada rakyatnya. Silahkan berbahagia, atas tercekiknya nasib warga negara Indonesia.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 8,09 out of 5)
Loading...
Avatar
Mahasiswi LIPIA Jakarta | Garuda Keadilan | Gkreatip | KAMMI

Lihat Juga

Karena Dirimu Begitu Berharga

Figure
Organization