Topic
Home / Berita / Nasional / Kritik Menteri Yohana, Legislator: Mas Kawin Bukan Transaksi Membeli Wanita

Kritik Menteri Yohana, Legislator: Mas Kawin Bukan Transaksi Membeli Wanita

Pernikahan - inet / arabe-media.com
Pernikahan – inet / arabe-media.com

dakwatuna.com – Jakarta.  Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mujahid mengkritik pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise yang menyebut mas kawin pernikahan sebagai alat eksploitasi perempuan. Menurutnya seharusnya Yohana mendalami filosofi dan hakikat mas kawin (mahar).

“Mahar itu justru sebagai pemuliaan kepada wanita,” kata Sodik di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (24/11/14).

Meski pernyataan Yohana ditujukan pada kasus Papua namun bisa juga diartikan untuk semua suku dan agama yang berbeda. Sodik mengatakan budaya di Papua seharusnya tidak membuat Yohana menyalahkan konsep mas kawin secara umum.

“Jadi bukan konsepnya yang diperbaiki tapi penyalahgunaannya,” ujar politikus Gerindra ini.

Sodik mengatakan dalam agama Islam tidak memberatkan mas kawin bagi laki-laki yang ingin melamar perempuan. Menurutnya Nabi Muhammad SAW pernah mengizinkan seorang laki-laki miskin hanya memberi mas kawin cincin saat ingin menikahi anaknya.

“Kenapa boleh hanya dengan cincin? Karena mas kawin bukan transaksi membeli wanita,” kata Sodik.

Sebelumnya, Yohana menjelaskan mas kawin bisa menjadi alat untuk eksploitasi perempuan. Hal itu menjadi pertanda bahwa dengan diberikannya mas kawin, maka seseorang telah membeli si anak perempuan melalui orang tuanya.

“Ketika ‘mas kawin’ telah lunas dibayarkan, artinya si perempuan dianggap telah dibeli, dan tak punya “kebebasan” untuk berbicara,” ujarnya, dalam cuitan twitter, Ahad (23/11/14).

Menurutnya, hal ini adalah bentuk eksploitasi hak-hak perempuan untuk sejajar dengan pria dalam hal-hal tertentu, seperti pendidikan, karir politik, dan lainnya. Seorang perempuan di Papua, menurutnya sulit keluar dominasi seorang pria, karena selalu di nomorduakan.

“Apalagi setelah membayar mas kawin,” katanya.

Mas kawin di kalangan suku-suku Papua bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta dalam bentuk uang. Ditambah hewan piaraan yang jumlahnya cukup banyak. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 6,50 out of 5)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Kemuliaan Wanita, Sang Pengukir Peradaban

Figure
Organization