Topic
Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Kakakku Istimewa

Kakakku Istimewa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Dwi Ayuna)
Ilustrasi. (Dwi Ayuna)

dakwatuna.com – Wahyuni itulah nama kakakku. Anak pertama dari tiga bersaudara. Terlihat dari luar dia seperti anak normal biasa, memiliki sepasang kaki dan tangan juga mempunyai wajah seperti anak kecil. Namun, jika melihat lebih dekat dia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Kakakku awalnya terlahir sebagai anak normal. Malapetaka itu terjadi ketika kakakku berumur 40 hari. Saat itu kakakku mengidap demam yang sangat tinggi, sampai ia menggigil. Orang tuaku panik dan langsung saja mereka membawa kakakku ke sebuah rumah sakit. Namun, rumah sakit tersebut melakukan sebuah kesalahan fatal sehingga kakakku memiliki keistimewaan ini.

Waktu terus berlalu setelah kejadian itu, akupun terlahir ke dunia. Kami hanya berbeda 10 bulan. Kami tumbuh bersama sebagai kakak beradik hingga empat tahun berlalu lahirlah adik kami yang terakhir yaitu Anti.

Aku dan Mba Yuyun (nama panggilan kakakku) bersekolah di Taman Kanak-Kanak yang sama, hanya berbeda kelas. Aku dan Mba Yuyun dikira sebagai anak kembar karena nama panggilan yang hampir sama yaitu, Yuna dan Yuni.

Setelah setahun belajar di TK, tibalah saatnya pengambilan rapor. Bagai petir di siang bolong, kakakku tidak diperkenankan untuk melanjutkan ke sekolah normal karena kakakku memiliki “keistimewaan”. Di satu sisi Ibuku sangat senang aku lulus TK dan dapat melanjutkan ke SD Negeri, di sisi lain Ibuku sedih karena kakakku harus bersekolah di sekolah khusus.

Aku ikut sedih, saat itu aku belum mengetahui penyakit kakakku, aku kira aku bisa berangkat sekolah bersama dengannya, mengerjakan PR bersama, duduk berdua saat di kelas seperti kebanyakan saudara yang satu sekolah.

Setelah dua tahun aku bersekolah di SD, kakakku baru mendapatkan sekolahnya yaitu SLB-C di daerah Blok A, Jakarta Selatan. Kakakku termasuk golongan C/Tuna Grahita. Tuna Grahita yaitu kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada mental intelektual sejak bayi/dalam kandungan atau masa bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh faktor organik biologis maupun faktor fungsional, adakalanya disertai cacat fisik.

Usia kami semakin lama semakin besar, perilaku kakakku juga berubah. Kakakku membutuhkan perhatian khusus dari orang-orang di sekitarnya. Kakakku tidak dapat membaca, berhitung, mengucapkan kata atau kalimat dengan jelas. Satu lagi yang membuat ia perlu perhatian khusus adalah dia tidak dapat mengontrol emosi dan perilakunya sendiri.

Setiap hari kakakku diantar jemput oleh Ibuku. Ada saja kejadian yang kurang menyenangkan yang diterima Ibuku, mulai dari kata-kata “anak idiot”, “gila”, hingga tindakan menyingkir dan tatapan “jijik” setiap ada kakakku. Aku mengerti tidak ada seorang Ibu yang tidak sakit melihat anaknya diperlakukan seperti itu. Ibuku memang Ibu yang sangat hebat, dia hanya mengatakan “Biar Tuhan yang membalasnya”.

Sebagai anak kadang aku iri dengan perhatian Ibuku yang lebih besar kepada kakakku. “Kenapa sih Mama lebih perhatian kepada Mba Yuyun, kita kan juga anak Mama?”, itulah pertanyaan yang dulu muncul di pikiranku. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan tingkat kedewasaanku, aku mulai mengerti tentang itu semua. Kakakku adalah orang yang istimewa berbeda dari yang lain. Karena keistimewaan itulah yang membuatnya unik dan memerlukan perhatian lebih dari orang sekitarnya, termasuk diriku sebagai adiknya.

Jika waktu bisa diputar kembali aku ingin kakakku menjadi anak normal, tumbuh sebagai gadis yang cantik dan kakak yang bisa mengayomi adik-adiknya. Namun, aku tidak mau menyesal yang bisa aku lakukan saat ini adalah mencoba memahami dirinya, di saat dia lapar, haus, sedih, sakit. Aku ingin bisa mengerti itu semua.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

Apakah Palestina Istimewa?

Organization