Home / Dasar-Dasar Islam / Sirah Nabawiyah / Rembulan Dalam Pangkuan

Rembulan Dalam Pangkuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com – Seorang Yahudi yang nasabnya masih berasal dari keturunan Nabi Yaqub as dan masih merupakan keturunan dari Nabi Harun as. Wanita yang terpandang, cerdas, cantik dan rupawan, dan berasal dari keluarga terhormat, Shafiyyah. Shafiyyah berasal dari keturunan Yahudi Khaibar, Ayahnya Huyay bin Akhtab adalah tokoh terkemuka di sana.

Salah satu alasan kaum Yahudi membenci Rasulullah adalah karena rasa iri dan cemburu mereka, bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad SAW bukan berasal dari kaum mereka, namun dari bangsa Arab, sedangkan mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah anak anak dan kesayangan Allah, serta bangsa pilihan Allah di muka bumi. Oleh karena itulah bangsa Yahudi sangat membenci Rasulullah, dan memusuhinya. Shafiyyah, menyaksikan sendiri betapa besar kebencian ayahnya terhadap Nabi Muhammad SAW. Ayahnya, Huyay bin Akhtab adalah orang yang menjadi provokator dan merancang konspirasi keji bersama kaum Quraisy yang memusuhi Rasulullah, dan bani Quraizhah untuk bekerjasama membunuh Rasululah, namun usaha itu gagal.

Shafiyyah juga menyaksikan betapa suaminya Khinanah dan kaum Yahudi Khaibar melakukan berbagai cara untuk memusuhi Rasulullah dan berusaha membunuh beliau, hingga akhirnya dalam Perang Khaibar Allah memberi kemenangan kepada kaum Muslimin, kaum Muslimin berhasil menggempur benteng benteng Khaibar yang terkenal kokoh. Shafiyyah adalah termasuk barisan wanita yahudi yang berada dalam tawan seorang sahabat seusai perang tersebut, Dihyah Al Kalbi.

Rasulullah akhirnya menikahi Shafiyyah dengan memerdekakan Shafiyah sebagai maharnya, Shafiyyahpun menjadi Istri Rasulullah SAW. Shafiyyah begitu bahagia, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang Mukmin, apalagi Ummul Mukminin, kebahagiaan yang tidak dapat ia lukiskan dengan kata kata. Shafiyyah dikenal sebagai wanita yang berhati mulia, dan berhati lembut, berusaha dengan giat mengejar ketertinggalannya untuk mempelajari Islam, dan memiliki kedudukan yang tinggi di hati Rasulullah SAW. Shafiyyah menghabiskan hidupnya dengan berdakwah dan berbuat baik, hasrat hatinya adalah selalu ingin membuat orang lain bahagia.

Shafiyyah adalah bukti Kebesaran dan Kasih sayang Allah terhadap semua makhluknya. Shafiyyah bukanlah orang yang pertama kali masuk ke dalam barisan Agama yang diridhai Allah ini, ia adalah keturunan bangsa Yahudi yang sangat membenci dakwah Rasulullah. Meskipun Ayahnya dan Suaminya adalah orang yang sangat terkenal dengan kebencian terhadap Rasulullah, tidak ada sirah yang menceritakan kebencian yang timbul di hati Shafiyyah terhadap Rasulullah dan Agama ini. Sungguh ini adalah bukti kekuasaan Allah untuk memberikan Petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki.

Keistimewaan lain dari Shafiyyah adalah pertanda yang diberikan Allah bahwa ia akan menjadi Istri Rasulullah. Ibnu Umar ra. Menuturkan, “saat itu, disekitar mata Shafiyyah tampak lembam, sehingga Rasululah menanyakannya, ‘kenapa di sekitar matamu ada lebam seperti ini?’, Shafiyyah menjawab, ‘waktu itu aku berkata pada suamiku dulu, Sesungguhnya aku bermimpi melihat bulan turun ke pangkuanku. Tiba tiba dia menamparku seraya berkata, ‘apakah engkau menginginkan Raja Yastrib itu?’, Shafiyyah berkata kepadaku (Ibnu Umar), ‘hingga saat itu tidak ada orang yang lebih aku benci dari pada Rasulullah, bagaimana tidak, beliau telah membunuh ayahku dan suamiku. Akan tetapi Rasulullah tidak berhenti untuk meminta maaf kepadaku dan mengutarakan alasannya, “wahai Shafiyyah, masalahnya, Ayahmu memprovokasi seluruh kekuatan Arab untuk membunuhku, lalu begini, begini…., beliau terus memahamkanku sehingga rasa benciku kepada beliau benar benar hilang’”.

Banyak hikmah yang dapat kita gali dari kisah Ummul Mukminin yang satu ini, di antaranya kesucian dan keluruhan hatinya memandang Islam, meskipun ia dikelilingi oleh orang orang yang membenci Agama Allah ini, dan hikmah-hikmah lainnya yang dapat kita petik dengan mengkontekskannya dalam kehidupan kita sehari hari.

Semoga kita termasuk orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah, karena sesungguhnya “… barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk padanya..” (QS. Al Kahfi : 17)”

Rujukan: 35 Sirah Shahabiyah jilid 1 Mahmud Al Mishri

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswi FH UGM, Penerima Beasiswa PPSDMS (Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis ) Nurul Fikri Angkatan VII, dan bercita Cita menjadi seorang Konsuler dan Pengusaha.

Lihat Juga

Musim Semi di Bulan Juni