Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bermodal Jujur dan Profesional

Bermodal Jujur dan Profesional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

harga dagingdakwatuna.com – Pasar merupakan salah satu tempat bersarangnya setan. Rasulullah pernah bersabda, yang artinya, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.” Hal itu dikarenakan pasar seringkali menjadi tempat kecurangan, seperti penipuan, manipulasi timbangan, dll. Namun, tentu masih ada kebaikan yang terjadi di pasar, seperti Pak Haji yang selalu menanamkan sifat jujur, ikhlas, dan profesional dalam berjualan.

Tak pernah terlintas di pikiran Pak Haji untuk berbuat curang. Ia menganggap pelanggan adalah raja dan ratu. Pelayanan terhadap pelanggan adalah hal yang utama. Berbekal kejujuran, keikhlasan, serta profesionalitas, kini usaha Pak Haji sukses dan terkenal di kalangan masyarakat setempat.

Sejak tahun 1992, H. Muhammad Yudhi atau yang akrab dipanggil Pak Haji menjalani usaha jual daging. Ia mengawali usahanya dengan menjual jeroan di pasar Palmerah. Ia mulai merintis usaha menjual daging sapi bersama keluarganya. Dibantu sepupu, paman, serta anak-anaknya kini Pak Haji telah memiliki tiga toko cabang di daerah Tangerang Selatan.

Saat ditemui di pasar, Pak Haji sedang melayani banyak pelanggan. Tidak sedikit pelanggan yang meminta tambahan di luar jatah daging yang mereka beli seperti lemak, kulit, dan jeroan. Namun, Pak Haji memberinya dengan ikhlas tanpa harus membayar lebih. Pak Haji tidak pernah merasa rugi tatkala ia memberi tambahan pada pelanggan. “Insya Allah gak rugi, jadi kita lebih dekat dengan konsumen. Yang penting servis pelanggan harus diutamakan. Cara melayani, anggaplah pelanggan itu raja atau ratu” kata Pak Haji.

Pak Haji mengaku, toko dagingnya memiliki banyak pelanggan dikarenakan Pak Haji telah mengenal warga kampung. Selain itu, Pak Haji juga terkenal sebagai penjual yang jujur. Sudah banyak pelanggan yang bilang daging yang Pak Haji jual berkualitas tinggi, timbangannya pun pas, dan harganya terjangkau.

Pak Haji tidak terlalu memikirkan keuntungan. Yang terpenting, modal balik dan pasar hidup. Ia pun selalu berusaha untuk menjadi penjual daging yang profesional. Bahkan ia rela mengikuti pelatihan yang diisi oleh pengusaha-pengusaha sukses, salah satunya Bob Sadino. Pak Haji belajar bagaimana cara melayani konsumen dengan baik. Jangan sampai mengecewakan pelanggan. Kualitas daging dan timbangan harus baik. “Saya ga mau (curang). Bisa aja ngambil keuntungan sebanyak-banyaknya tapi kualitas daging ga baik. Orang kan sekarang nyari daging murah tapi kualitasnya buruk” jelas Pak Haji.

Pak Haji juga menanggapi fenomena yang tengah terjadi di pasar-pasar saat ini. Kecurangan marak terjadi. Permainan timbangan dan kualitas daging yang buruk mewarnai pasar. Ia menganggap itu sebagai perilaku yang sangat buruk dan tidak profesional. “Menurut saya, orang seperti itu adalah orang yang tidak mau maju” kata Pak Haji dengan suara yang cukup lantang dan tegas.

Dalam kesehariannya, Pak Haji tinggal di kedaung, Ciputat, bersama dengan istri dan anak bungsunya. Bapak delapan anak ini, telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi walaupun dua orang tidak sampai wisuda. Salah satunya, M. Jamaluddin, anak ke-4 yang terpaksa harus putus kuliah ketika sedang menyusun skripsi lantaran harus membantu Pak Haji berjualan daging. Saat itu, Pak Haji terserang stroke hingga sebelah tangannya tidak bisa digunakan. Alhasil Jamal-lah yang menggantikan Pak Haji berjualan.

Jamal belajar berdagang mulai dari nol. Pak Haji sendiri yang mengajarkan Jamal untuk berdagang. Ia mengajarkan nilai-nilai yang telah ia tanamkan pada dirinya sendiri selama berjualan. Kejujuran dan pelayanan yang baik merupakan modal utama. Hingga saat ini, modal itulah yang diterapkan Jamal dalam berdagang. Meski Pak Haji telah sembuh, Jamal tetap berjualan. Bahkan, saat ini Ia yang memegang toko pusat di Palmerah.

Pak Haji memang selalu mendidik anak-anak dan pegawainya untuk berjualan dengan baik. Fauzi, salah satu pegawai, sekaligus sepupu Pak Haji mengaku Pak Haji pantas dijadikan panutan. Ia mendidik para pegawai untuk bisa seperti dirinya. Ia mengajarkan cara dagang yang jujur dari segi timbangan, kualitas, dan penyampaian kepada konsumen. Walau pernah kesal kepada pegawai, tapi Pak Haji selalu riang dan ramah terhadap pelanggan. “Ciri khasnya Pak Haji itu riang, murah senyum, ramah pada pelanggan, bisa ngobrol sama pelanggan. Jadi dekat dengan pelanggan. Orang mau nanya apa juga ga canggung” jelas Fauzi.

Itulah sosok Pak Haji sebagai pembelajaran bahwa kejujuran adalah hal yang utama, ikhlas lah dalam berjualan. Begitupun dengan profesionalitas yang harus selalu diterapkan dalam pekerjaan apapun. Alangkah baiknya jika berjualan sesuai dengan kaidah Islam karena rezeki ada di tangan Allah SWT.

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa.

Lihat Juga

Jakarta Punya Modal Jadi Salah Satu Kota Terkemuka di Dunia