Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Allah yang Butuh Kita Ataukah Kita yang Butuh Allah?

Allah yang Butuh Kita Ataukah Kita yang Butuh Allah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Sesungguhnya Aku ciptakan Jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Ku (QS. Adz-Dzariat: 59).

Pernah suatu saat kita merasa hampa dalam beribadah. Ibadah yang kerap dilakukan terasa kering tanpa ruh. Seolah-olah hanya menjalakan rutintas belaka tanpa makna. Bahkan dalam kondisi sendiri, kita sering merasa futur dalam beribadah. Bahkan bisa jadi sampai meninggalkan amalan-amalan sunnah yaumiyah kita. Mungkin dalam hati kita sering melakukan pembelaan-pembelaan yang sebetulnya tidak patut dibela. Misalkan kita berdalih karena banyak faktor yang menyebabkan keringnya ibadah yang kita lakukan. Semisal karena pekerjaan yang “padat merayap”. Banyak hal yang harus diselesaikan dan lain sebagainya. Di sisi lain ternyata ada sosok manusia yang boleh jadi pekerjaannya jauh lebih banyak ketimbang kita masih istiqomah menjalankan ibadah harian.

Kita tanpa sadar sering meninggalkan amalan-amalan sunnah harian bahkan karena seringnya, meninggalkan amalan–amalan sunnah itu, menjadikannya sebagai kebiasaan. Terus-menerus berlangsung tanpa kita sadari dan renungi. Semakin sering maka semakin biasa kita meninggalkannya. Seakan-akan tidak merasakan kehilangan atau berdosa ketika meninggalkannya.

Dahulu saat kita belajar mengaji mungkin kita begitu bersemangat melakukan amalan-amalan sunnah itu. Kita tidak rela meninggalkannya meski dalam keadaan sibuk sekalipun. Bahkan bisa jadi ketika kita dalam kondisi sibuk kita berjihad mencuri-curi waktu untuk melakukan amalan-amalan sunnah tersebut. Allah terasa begitu dekat di hati kita. Kita seakan-akan begitu sangat diawasi, sampai-sampai kita sangat khawatir jika amalan-amalan sunnah itu kita tinggalkan. Saya mengibarakan amalan-amalan sunnah kita itu seperti ban luar kendaraan kita. Ketika ban luar itu tidak kita perbaharui, lama ke lamaan ban luar itu tidak menjadi pelindung ban dalam lagi. Akibatnya ban dalam kendaraan kita sering bocor. Bahkan terkoyak-koyak.

Dahulu saat belajar mengaji kita begitu bersemangat menasehati sahabat-sahabat kita ketika mereka lalai dalam menjalankan ibadah, namun dengan dalih kedewasaan beragama, kita membiarkan saja sahabat kita itu meninggalkan ibadahnya, baik karena lupa ataupun di sengaja. Menasehati dengan kata-kata haluspun tidak. Memberikan sindiran secara haluspun pun tidak. Kita menjadi individualistis. “Ah biarkan saja itu urusannya sendiri, bukan urusan saya!” Padahal sangat mungkin kita menasehatinya tanpa harus merusak hubungan pribadi kita. Padahal kita ini adalah sesama saudara. Apakah tega kita melihat saudara kita sendiri jatuh ke jurang dengan membiarkannya tanpa menasehatinya?. Bukanlah di dalam surat Al-Ashr ayat 3 kita telah belajar bahwa tugas menasehati itu bukan monopoli satu pihak, akan tetapi ada kata “saling” yang berarti ada hubungan timbal balik?

Apakah lantaran khawatir temakan omongan kita sendiri, takut di cap munafik, kita menjadi tidak peduli dengan sesama saudara sendiri? Terkadang saya sendiri membayangkan seandainya itu terjadi, bagaimana kondisi kita di masa yang akan datang? Ukhuwah Islamiyah kita bisa sangat terancam dengan gejala individualisme kita. Kita membiarkan saja saudara kita terjatuh tanpa memperdulikannya sekalipun. Nauzubillah mindzaalik.

Sampai di manakah kita belajar agama Islam. Apakah agama ini hanya kita pahami sebagai wawasan keilmuan semata, ataukah benar-benar kita amalkan semampu kita kemuliaan-kemuliaan yang ada di dalamnya? Menjadikannya nafas kehidupan kita?

Mari evaluasi sekarang juga

Malasnya kita beribadah sekali-kali tidak akan mengurangi kebesaran-Nya, tidak akan sedikitpun mengeser singgasana-Nya. Bukan Allah yang membutuhkan kita, akan tetapi kita lah yang sangat membutuhkan Allah. Meski sering kali kita melupakan nikmat-nikmat yang setiap detik kita rasakan. “Nikmat Tuhan-Mu yang mana lagikah yang Engkau Dustakan? (QS. Ar-Rahman: 13), diulang sebanyak 31 kali.

Sungguh Allah Maha Tahu sifat hamba-Nya. Dia tidak menginginkan hamba-Nya terjerumus dalam lembah kenistaan. Dia melalui surat cinta-Nya memberikan arahan kepada hamba-Nya agar selalu mendekat kepada-Nya dan menyukuri segala nikmat-nikmat-Nya.

Memang sebagaimana sabda Rasulullah bahwa manusia tempatnya salah dan lupa. Akan tetapi ketika kita lalai, kita harus segera bertaubat, jangan sekali-kali menunda taubat. Ketika kita tidak merasakan kehilangan saat meninggalkan amalan-amalan sunnah, hendaknya kita bertaubat. Jangan biarkan noktah-noktah hitam itu menjadi bukit hitam di hati kita.

“Setiap anak Adam (manusia) pasti sering berbuat kesalahan “Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat.” (HR. Ibnu Majah no. 4251).

Banyak sekali firman-firman Allah yang memberikan arahan kepada manusia agar tidak terjerumus. Banyak sekali hadits-hadits tentang pentingnya bertaubat, pentingnya mendekatkan diri kepada Allah. Sudahkah kita menghayatinya? Wallahua’lam bisshowab.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Pernah menimba ilmu di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Jurusan Ilmu Sejrah. Saat ini menjad pengajar mata pelajaran Sejarah di SMA Islam Terpadu Mungkid Magelang.

Lihat Juga

Ummi, Abi, Kami Butuh Kalian

Figure
Organization