Home / Pemuda / Kisah / Kisah Para Perempuan Mualaf di Inggris

Kisah Para Perempuan Mualaf di Inggris

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Mualaf (ilustrasi). (republika.co.id)
Mualaf (ilustrasi). (republika.co.id)

dakwatuna.com  Di tengah suatu distrik di Midlands, Inggris yang selalu sibuk mulai dari pertokoan di siang hari hingga restaurant dan tempat hiburan di malam hari, persis berhadapan dengan pub (bar), berdiri sebuah masjid yang juga tak kalah sibuk dengan pengunjungnya baik untuk salat berjamaat ataupun aktivitas lainnya. Sore ini Masjid ini mengadakan acara rutin bulanan: ‘refresher session’ – workshop khusus untuk para Mualaf, atau reverters. Di paviliun masjid bagian akhwat sudah penuh dengan para muslimah mualaf beserta anak-anak. Inilah sedikit cuplikan kisah perjalanan hidup sebagian kecil dari mereka.

Angela, 38 tahun – ibu RT dengan 3 anak

Saya masuk Islam pada usia 27 tahun. Saat itu saya sudah memiliki seorang balita dan baru saja putus hubungan dengan partner yang juga ayah anak saya. Mulanya hanya ikut-ikutan ke masjid ini untuk menemani teman muslim mendengar ceramah rutin. Lama kelamaan saya sering pergi sendiri hingga akhirnya memutuskan bersyahadat di hadapan Imam, teman dan beberapa saksi.

Menjadi muslim buat saya sangat mudah. Saya langsung memakai kerudung walaupun masih dengan celana jeans ketat. Saya juga sangat menikmati shalat dan puasa Ramadhan walaupun masih bolong. Semuanya lebih memuaskan batin saya dibanding kehidupan sebelumnya yang sibuk dengan night-clubbing dan hura-hura. Keluarga, terutama ibu saya begitu senang melihat transformasi saya karena beliau sempat khawatir dengan keseriusan saya mengurus anak dan diri sendiri.

Setelah lebih dari dua tahun menjadi muslim saya memutuskan untuk menerima tawaran dari masjid untuk dijodohkan dengan seorang pemuda muslim yang usianya 3 tahun lebih muda, dari keluarga Pakistan dan bekerja sebagai supir taksi. Awal pernikahan saya dengan Kamil hampir tidak ada masalah, lebih karena suami seorang yang pendiam sementara saya sangat dominan.Walaupun saya tidak bekerja, Kamil tidak pernah mengeluh dalam membantu banyak urusan domestik seperti memasak, membersihkan rumah dan belanja. Kadang dia suka mengeluh di depan ibunya tapi Ibu mertua saya selalu membela saya dan tidak pernah sekalipun mengkritik. Bahkan beliau suka mengirim masakan ke rumah dan memperlakukan anak saya seolah cucu kandungnya sendiri. Sekarang pernikahan kami sudah menginjak tahun ke 9 dan dikaruniai tambahan 2 anak.

Sudah lama saya meninggalkan jeans ketat saya berganti dengan gamis. Saya juga sudah banyak mengambil alih tugas domestik walaupun Kamil tetap ringan tangan membantu terutama dalam mengurus anak-anak untuk memberi saya waktu ke masjid untuk belajar agama. Jika sedang shalat malam saya sering menangis, mengingat betapa beruntungnya saya, begitu besar kasih sayang dan perlindungan Allah kepada saya melalui Kamil dan keluarganya.

Padma, dokter – 29 tahun

Saya sudah belajar tentang Islam ketika saya masih di sekolah dan makin mendalaminya begitu mulai kuliah dengan mengikuti Islamic Study Circle di kampus. Tahun kedua di kampus, saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya merahasiakan keislaman saya dari keluarga terutama karena ayah saya adalah seorang petinggi di komunitas Sikh kami. Tapi rahasia itu cuma bisa saya sembunyikan selama beberapa bulan saja. Tentu saja orangtua saya sangat marah dan kecewa dengan keputusan saya. Ayah mengancam untuk tidak mengakui saya sebagai anak jika saya tidak keluar dari Islam. Sama seperti ayah saya yang keras kepala, saya memilih pergi dari rumah dengan apa adanya. Selama sembilan bulan saya hidup luntang-lantung tidak karuan, menumpang dari satu rumah teman ke teman yang lain. Kuliah saya mulai keteteran dan makan juga tidak teratur. Tempat terakhir saya menumpang adalah keluarga muslim Bangladesh yang sangat baik hati di mana saya tidur sekamar dengan dua anak perempuan mereka.

Karena hidup yang tidak beraturan saya lalu jatuh sakit, keluarga tumpangan saya bersusah payah menghubungi ayah saya yang kemudian datang memulangkan saya kembali. Setelah itu seperti kembali normal, saya kembali hidup dengan keluarga saya dan kuliah seperti biasa. Satu hal yang ayah saya minta adalah untuk merahasiakan keislaman saya dari komunitas Sikh kami yang saya setujui. Suatu perayaan Diwali, saya seperti biasa sudah sibuk membantu ibu memasak dan menata rumah untuk menyambut tamu-tamu kolega ayah yang juga petinggi agama. Saat semua tamu sudah berkumpul, tanpa disangka-ayah ayah mengumumkan kepada semua orang bahwa putri sulungnya – saya – sudah menjadi Muslim. Dia meminta hadirin untuk tetap menghormati kami sekeluarga dan keputusan saya untuk berpindah agama. Sungguh saya sangat terharu dan tidak menyangka ayah akan bertindak demikian yang mempertaruhkan kedudukan dan status sosialnya yang terhormat.

Kejadian ini membukakan pintu untuk saya bisa lebih mempraktekkan Islam secara terbuka seperti memakai hijab di luar rumah. Ayah masih sempat menyaksikan dengan bangganya saat saya diwisuda menjadi dokter sebelum akhirnya pelindung saya itu berpulang untuk selamanya. Kini sudah tujuh tahun setelah saya menjadi Muslim, Ibu dan 2 adik perempuan saya juga sudah menjadi muslim. Satu-satunya yang belum mengikut jejak kami adalah adik lelaki saya. Kami semua selalu berdoa semoga Allah membukakan hatinya dan suatu hari meraih hidayah Islam, Insya Allah.

Rahimni, 32 tahun – ibu RT dengan 2 anak

Rahimni sebenarnya bukan nama asli saya, tapi nama yang diberikan suami saat saya masuk Islam karena pernikahan. Suami saya dari Iran yang saat itu sedang bekerja di Sri Lanka, tanah kelahiran saya. Perkawinan kami tentu saja ditentang habis-habisan dan kami memutuskan untuk migrasi ke Inggris, menjauh dari keluarga saya. Awal perkawinan kami cukup harmonis, saya sibuk menjadi ibu RT sementara suami berbisnis toko makanan siap saji dengan temannya. Semenjak krisis ekonomi 4 tahun lalu, usaha suami saya mulai sepi dan kami mulai kesulitan uang. Saya medapat tawaran untuk bekerja paruh-waktu di sekolah dekat rumah menjadi asisten guru. Saat itu anak kedua kami sudah lahir dan sekolah memiliki fasilitas penitipan anak yang bisa membantu selama saya bekerja.

Walaupun pendapatan saya tidak seberapa tapi bisa membantu keperluan saya dan anak-anak. Di samping itu saya merasa lebih percaya diri dengan mengasah keterampilan saya di pekerjaan. Selama itu usaha suami tidak juga makin membaik, dia semakin tidak suka dengan saya keluar rumah untuk bekerja membantu mencari nafkah. Sepertinya harga dirinya sangat terluka. Kami menjadi sering ribut hingga suatu hari dia kehilangan kontrol mencoba melukai saya hingga akhirnya menusuk telinga kiri dengan benda tajam. Sekarang telinga kiri saya tuli karena rusak total.

Dari peristiwa saat itu saya juga menerima jahitan di dekat pelupuk mata yang untungnya tidak mencederai penglihatan saya. Sekarang kami sudah bercerai. Bisnis suami saya bangkrut dan dia tidak diperbolehkan mendekati saya. Jika ingin menengok anak-anaknya, dia harus diawasi pekerja sosial atau polisi di mana setiap kunjungan dibatasi untuk beberapa jam. Saya kehilangan pekerjaan saya di sekolah, keluarga saya di Sri Lanka juga sudah lama menutup pintu untuk saya. Sudah lama sekali semenjak terakhir saya mempraktekkan shalat apalagi berpuasa; saya kehilangan kepercayaan saya kepada Tuhan.

Maureen, 59 tahun – pekerja relawan

Saya lahir dari keluarga Irish (Ireland) dan otomatis besar dengan didikan dengan nilai Katolik yang ketat. Namun keluarga saya berbesar hati saat saya memutuskan untuk menikah dengan Sajid dan berpindah agama. Setelah menikah saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga total untuk dua anak kami. Sepertinya menjadi muslim saja sudah cukup untuk Sajid dan dia tidak pernah menuntut saya harus shalat, berpuasa apalagi memakai hijab. Kehidupan kami cukup bahagia hingga suatu hari seperti petir di siang hari, setelah 24 tahun menikah, Sajid mengemukakan niatnya untuk menceraikan saya dengan alasan saya bukan muslim yang baik dan anak-anak kami, hasil didikan saya, tidak ada satupun yang mempraktekkan Islam. Saya sangat terpukul, semua aset kami adalah atas nama Sajid dan saya hanya diberi secukup uang untuk hidup selama setahun. Anak-anak saat itu sudah dewasa dan tinggal di kota lain; saya tidak mau membebani mereka yang tengah berupaya mandiri.

Setelah setahun, saya tidak punya pilihan selain menjadi tanggungan pemerintah dengan syarat saya harus mau bekerja sukarela di berbagai community centres milik pemerintah. Awalnya saya memilih bekerja di Islamic community centre ini karena lokasinya yang dekat. Tugas saya beragam, tapi umumnya menjaga kebersihan ruangan dan membantu kelancaran kegiatan akhwat disini. Dari situ saya kemudian menjadi rajin mengikuti sister’s circle; saya belajar berwudhu dan shalat, puasa, berhijab dan prinsip-prinsip Islam lainnya. Sudah 9 tahun saya bercerai dan hidup di bawah tanggungan pemerintah tapi saya merasa lebih tenang dan damai. Saya tidak lagi merasa marah dan dendam dengan perlakuan mantan suami yang tidak adil.

Hikmahnya, jika saya tidak dicerai mungkin saya tidak akan pernah berupaya menjadi muslim yang baik, yang ironisnya menjadi alasan utama Sajid untuk mencampakkan saya. Saya juga dengar dia telah menikah lagi dengan wanita muslim yang jauh lebih muda.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Di Hari Perempuan Internasional, 56 Perempuan Palestina Masih Ditawan Israel