Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mari Meneladani Salafus Shalih

Mari Meneladani Salafus Shalih

ilustrasi (startimes.com)
ilustrasi (startimes.com)

dakwatuna.com – Salah satu cara untuk meningkatkan motivasi kita untuk terus berbuat yang terbaik, berkarya, beramal shalih dan menjadi hamba yang dicintai Allah, adalah dengan membaca biografi para ulama salafus shalih dan tokoh-tokoh muslim yang telah menorehkan sejarah besar dalam kehidupannya. Tentu saja tanpa meninggalkan mempelajari sejarah para nabi dan rasul.

Salah satu tokoh yang bagus untuk kita pelajari dan teladani kehidupannya adalah Said bin Al-Musayyib, pembesar para tabiin. Abu Nuaim mengatakan tentang diri Said sebagai berikut, “Adapun Abu Muhammad Said bin Al-Musayyib bin Hazan almakzumi, adalah termasuk orang yang kesabaraanya oleh Allah swt, walau seberat apapun ujian yang dihadapinya, ia tetap tidak mau mengumpat atau mencela, dia termasuk orang yang rajin ibadah dan shalat berjamaah, mampu menjaga diri dan martabatnya, kewaraanya dan bersikap apa danya (qanaah). Beliau adalah menantu Abu Hurairah ra. Matanya yang buta sebelah, tidak menghalanginya untuk mudah bergaul dengan siapa pun, sikap dan perilakunya memang sesuai namanya, Said, berarti bahagia.

Banyak sekali keutamaan beliau, namun yang menjadi titik perhatian dari tulisan ini adalah tentang keistiqamahan beliau dalam menjaga shalat berjamaah. Harmalah, anak beliau menyampaikan bahwa ayahnya tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah selama 40 tahun,  bukan hanya sebatas itu, tapi Said bin musayyib tidak pernah melihat punggung orang yang shalat berjamaah, karena beliau selalu ada pada barisan terdepan, dan tidaklah seorang muadzin mengumandangkan adzan, kecuali beliau sudah duduk menunggu shalat fardhu di masjid. Luar biasa, mari kita bandingkan dengan kondisi kebanyakan masyarakat muslim di Indonesia sekarang ini. Meskipun belum pernah ada penelitian tentang berapa persen jumlah muslim Indonesia yang tak pernah absen dalam shalat jamaah selama kurun waktu sekian tahun misalnya, tapi boleh ditebak, kalaupun ada, mungkin bisa dihitung dengan jari. Yang lebih sering kita temukan adalah muslim yang lebih suka menunda waktu shalat, shalat sendiri di rumahnya, kalau pun mungkin datang berjamaah ke masjid atau ke mushalla, ada musimnya, musim rajin dan musim malas, atau musim tepat waktu dan musim terlambat menjadi masbuq. Atau mungkin ada musim yang lain? Datang ke mushalla tidak lama sesaat sebelum imam salam?

Berbagai alasan sering menghiasi lisan untuk tidak berjamaah di masjid atau mushalla, bisa karena cape, malu, malas, sulit secara teknis karena dalam perjalanan yang macet, sakit, dan segudang alasan bisa dibuat. Tapi di luar itu semua, sesungguhnya, tekad dan kemauan yang kuat akan menjadi kunci. Suatu saat sahabat nabi yang juga buta, Abdullah bin Umi Maktum minta izin kepada Rasul untuk diberi keringanan untuk tidak shalat jamaah di masjid, karena kondisi kecacatannya, khawatir harus merepotkan orang lain. Namun apa tanggapan Rasul saw? beliau balik bertanya, apakah engkau mendengar suara adzan? Kalau iya, maka tetap bagimu diperintahkan untuk shalat berjamaah di masjid, meskipun harus dengan merangkak.

Marilah kita merenung sejenak, kalau saat ini kondisi kaum muslimin masih terus terpuruk dalam berbagai lapangan kehidupan, barangkali salah satu jawabannya adalah karena komitmen muslim terhadap shalatnya masih sangat memprihatinkan. Kalau untuk pelaksanaan shalat saja masih demikian, bagaimana hasilnya jika evaluasi kita perdalam sampai makna realisasi nilai shalat dalam kehidupan? Pasti masih sangat jauh. Nilai shalat jamaah secara khusus, menjadi wasilah silaturahim sesama warga yang akan mengokohkan persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat, saling tegur, saling sapa, saling mendoakan, saling bersalaman, saling mengingat dan berbagi cerita. Semua ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam mengembangkan kehidupan masyarakat yang  harmonis, saling asah dan saling asuh. Jika ada tetangga yang sakit atau memiliki masalah yang lain, akan dengan segera dapat diketahui dan dicarikan solusinya, tidak perlu terlambat hanya lantaran informasi yang tersendat karena masing-masing warga sibuk dengan urusannya dan tidak sempat bertegur sapa. Lantas tiba-tiba terdengar kabar misalnya si Fulan telah bercerai dari istrinya. Si Fulanah telah melewati stadium sekian dengan penyakit kankernya dan sebagainya, tanpa pernah tahu awal dan bermulanya dari masalah yang kecil.

Shalat berjamaah di masjid atau mushalla, dengan demikian bisa menjadi media kontrol, monitoring dan evaluasi dalam kehidupan masyarakat. Dalam manajemen kehidupan, proses ini yakni monitoring dan evaluasi, menjadi sesuatu yang seringkali kurang terperhatikan. Berbagai program disusun, dilaksanakan, tapi monitoring dan evaluasinya terlupakan. Walhasil, keberhasilan program tidak terukur dengan baik.

Maka mulailah membangun kebaikan di tengah masyarakat dengan komitmen melaksanakan shalat jamaah di masjid atau mushalla, khususnya bagi kaum laki-laki muslim. Sebagaimana seruan muadzin yang selalu mengajak kita untuk meraih kesuksesan, “hayya alal falah”, mari menuju kesuksesan. Dari shalat berawal dan berkumpul seluruh faktor untuk sukses, dunia dan akhirat. Faktor tersebut adalah: Fokus dalam bekerja, yang diperoleh dengan sikap khusyu, tawadhu dan tidak sombong, kebersihan, baik kebersihan motivasi, penampilan atau tempat (usaha),karena syarat sahnya shalat adalah bersih lahir (pakaian dan tempat) dan bersih batin yakni niat yang ikhlas. Berikutnya adalah faktor kerjasama dan kebersamaan dalam berjamaah, menjadi wasilah untuk saling menyempurnakan satu dengan yang lain, dan saling mengingatkan manakala ada individu yang berbuat khilaf atau salah, termasuk jika pemimpin (imam) yang berbuat kesalahan.

Para pemimpin di tingkat apapun, jika dia mampu merealisir nilai-nilai yang terdapat dalam ibadah shalat tersebut di atas, khususnya shalat berjamaah, akan mampu mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis, selaras, dan sejahtera. Rasulullah saw sebagai seorang pemimpin, beliau senantiasa menjadi imam dalam shalat berjamaah, sehingga beliau merasakan secara langsung bagaimana aplikasi nilai shalat jamaah untuk diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Mari kita jemput kesuksesan dunia akhirat, melalui komitmen menegakkan shalat, seperti Said bin al Musayib.  Wallahu a’lam bishawwab. (usb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Konsultan Ketahanan Keluarga RKI (Rumah Keluarga Indonesia). Tenaga Ahli Fraksi Bidang Kesra, Mitra Komisi viii, ix, x. Ibu dari 7 putra-putri penghapal Alquran. Lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Lihat Juga

Kiat Menghafal Quran

Figure
Organization