Home / Keluarga / Kesehatan / Adakalanya Makanan dan Minuman Enggan Bersahabat dengan Obat

Adakalanya Makanan dan Minuman Enggan Bersahabat dengan Obat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Minum obat (inet)
Minum obat (inet)

dakwatuna.com – Masyarakat awam sering beranggapan, bila sudah makan obat sesuai dosis, penyakit akan segera sembuh. Dan manakala penyakitnya tak jua sembuh, buru-buru diambil kesimpulan: obatnya tidak manjur, atau, yang lebih parah, salah obat.

Mereka umumnya tidak sadar bahwa di samping obat dengan dosis yang tepat, masih ada faktor lain yang mempengaruhi kemanjuran obat.

Makanan merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh tersebut. Itu sebabnya, di samping ada obat yang bagus diminum beberapa jam sebelum atau sesudah makan, ada pula yang dianjurkan diminum pada saat makan.

Tergantung Situasi Lambung

Setelah melewati mulut, makanan akan diolah lebih lanjut dalam lambung. Lamanya bahan ini tinggal dalam lambung tergantung banyak hal, di antaranya :

  • Bentuk. Cairan akan bergerak lebih cepat melintasi lambung ketimbang makanan yang dikunyah lumat, apalagi yang dikunyah seka
  • Suhu. Makanan yang dingin akan memperlambat proses pencernaan. Contoh, setelah makan es krim cukup banyak, suhu lambung dapat turun menjadi 26 derajat Celcius. Suhu rendah ini dapat menghentikan segala kegiatan pencernaan di lambung selama 30 menit sampai suhunya normal kembali, 37 derajat Celcius.
  • Lemak. Makanan kaya lemak akan merangsang bagian pertama usus kecil, duodenum, untuk mengeluarkan hormon yang akan memperlambat kegiatan pencernaan.
  • Aktivitas fisik. Sewaktu berolahraga berat, otot menuntut peningkatan suplai darah sebanyak 15 – 20 kali lipat dari normal. Guna memenuhi tuntutan tersebut tubuh akan mengurangi suplai darahnya ke organ lain. Dalam keadaan ini, salah satu kelompok organ yang paling dirugikan adalah pencernaan. Karenanya tidak perlu heran, jika waktu berolahraga berat, kegiatan pencernaan berlangsung sangat lambat.
  • Keadaan pikiran. Lambung bukan hanya bersimpati pada perasaan tuannya, namun juga turut mengalami apa yang dialami tuannya. Pada saat tuannya merasa sedih, lambung akan ikut “sedih”, dengan malas melaksanakan kewajibannya. Dengan demikian semua kegiatan pencernaan akan terhambat.

Situasi dalam lambung ini berpengaruh terhadap kemanjuran obat yang ditelan. Sebagai contoh, absorpsi parasetamol pada kondisi perut kosong akan lebih cepat dan lebih besar dibanding saat terisi (40 menit : 2,2 jam). Jika misalnya obat tersebut dimaksudkan untuk mengobati nyeri akut, terjadinya perlambatan absorpsi ini tentunya tidak diingini sebab berarti menambah lama penderitaan.

Sementara obat-obatan yang bagus diminum saat lambung terisi, misalnya antimikotikum oral griseofulvin (antiinfeksi jamur pada rambut, kulit, kuku tangan, dan kuku kaki), utamanya jika dikonsumsi berbarengan dengan makanan kaya lemak.

Makanan yang Enggan Bersahabat

Di sisi lain, rupanya ada juga makanan yang memang enggan “bersahabat” dengan obat, yang ditunjukkan dengan rupa-rupa ulah. Misalnya, pertama, dengan melakukan “pengikatan”, sebagaimana yang dilakukan makanan berserat pada perintang-kolesterolsintetase lovastatin, hingga bioavailability (persentase obat yang diserap tubuh)-nya menurun. Efek yang sama terjadi pada digoksin, garam litium dan antidepresiva trisiklis.

Serta sayuran yang mengandung vitamin K, seperti bayam dan brokoli, pada antikoagulansia. Bila dimakan terlalu banyak, vitamin K dapat mengurangi efek antikoagulansia.

Kedua, menghalangi perombakan obat hingga menimbulkan efek toksis, seperti yang dilakukan makanan yang mengandung tiramin atau amin lain, (misal keju, coklat, avokad, anggur, bir, produk-produk ragi dan hati ayam) pada MAO-blockers. Enzim MAO (monoamine-oxidase) bertanggung jawab atas penguraian semua katekolamin di dalam tubuh, misalnya adrenalin, serotonin dan dopamin. Bila pasien diberi perintang-MAO sebagai antidepresivum dan makan sesuatu yang mengandung tiramin, maka zat ini tidak akan diurai lagi karena enzim MAO-nya sudah diblokir. Akibatnya dapat terjadi hipertensi hebat dengan segala konsekwensinya.

Demikian halnya dengan beberapa jus buah, utamanya jeruk, yang memiliki flavonoida naringenin, pada obat-obatan yang perombakannya melalui sistem enzim cytochrom-P450, semisal antagonis Ca (amlodipin dan nifedipin) dan obat AIDS, saquinavir.

Dan ketiga, meningkatkan eksresi obat. Suatu diet vegetaris ketat akan meningkatkan pH urin (menjadi alkalis) dan memperlancar eksresi obat yang bersifat asam lemah, seperti vitamin C dan NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs). Demikian halnya dengan buah-buahan (kecuali prune kering), semua sayuran (kecuali jagung dan lentils), kentang dan susu.

Jauhi Alkohol

Yang juga tak boleh dipandang sebelah mata dalam kaitan dengan kemanjuran obat adalah minuman penghantarnya. Jangan coba-coba “mendorong” obat penurun tekanan darah tinggi dengan minuman ringan kaya CO2, sebab berpotensi menyebabkan perdarahan kapiler; menelan obat-obatan yang dapat merangsang susunan saraf pusat, seperti obat asma yang mengandung teofilin atau epinefrin, dengan kopi, teh, coklat dan ‘minuman berenergi’, demi menghindari efek berlebihan; atau minum antibiotika semisal ampisilin, amoksilin, kloramfenikol, dengan susu, karena bisa mengganggu penyerapannya.

Apalagi “menyodok” obat dengan alkohol. Alkohol mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap fisiologis tubuh sehingga dapat mengganggu atau bahkan mengubah respons tubuh terhadap obat yang diberikan. Contohnya, obat-obat antihistamin atau antialergi (biasanya diberikan untuk meringankan gejala alergi, flu atau batuk) yang umumnya menimbulkan kantuk, jika diminum bersama dengan minuman mengandung alkohol akan menambah rasa kantuk dan memperlambat performa mental serta motorik.

Alkohol juga akan meningkatkan risiko perdarahan lambung dan kerusakan hati jika dikonsumsi bersama obat-obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol atau asetaminofen, serta menurunkan tekanan darah secara drastis hingga membahayakan keselamatan jiwa jika diminum bareng obat penurun tekanan darah golongan beta-blocker seperti misalnya propranolol.

Supaya aman dan lancar, hantarlah obat masuk tubuh dengan air bening saja.

Stop Rokok

Barang yang sebetulnya bukan makanan namun sering dijadikan kebutuhan pokok bagi sebagian orang yang juga berpengaruh terhadap kemanjuran obat adalah rokok. Asap rokok mengandung hidrokarbon polisiklik yang mampu menginduksi enzim yang menyebabkan peningkatan metabolisme serta peningkatan bersihan (clearance) berbagai obat.

Ekskresi teofilin yang berdaya spasmolitis terhadap otot polos, khususnya otot bronchi, menstimulasi jantung, serta mampu bekerja sebagai diuretis lemah, pada perokok jauh lebih tinggi dibanding pada yang bukan perokok. Karenanya, para perokok membutuhkan dosis teofilin lebih tinggi, sekitar 25%, dibanding yang bukan perokok,

Repotnya, induksi enzim yang disebabkan rokok akan sulit kembali ke normal lagi – dibutuhkan paling sedikit 6 bulan setelah rokok dihentikan untuk mendapatkan harga bersihan yang tetap.

Senyawa lain yang dieliminasi dengan cepat pada perokok adalah nikotin, kofein, lidokain, propranolol, imipramin, oksazepam, fenasetin, dan pentazosin.

Maka dari itu, kalau ingin merasakan bagaimana manjurnya obat, berhentilah merokok!

Pustaka:

  • Moore, Mary Courtney, RN, RD, PhD, CNSN, ; “Buku Pedoman Terapi Diet Dan Nutrisi” (terj); Hipokrates, Jakarta, 1997.
  • Harkness, Richard ; “Interaksi Obat” ; Penerbit ITB, Bandung, 1989.
  • Tjay, Tan Hoan, DRS & DRS. Kirana Rahardja ; “Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya” ; PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2007.
  • Hutapea, Albert M., Dr., MPH ; “Keajaiban-Keajaiban dalam Tubuh Manusia” ; Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.
  • ……………; “Efek Samping Obat Herbal Bisa Dihindari” ; http://www.lifefeature.com/news.php?newsId=690
  • Widianto, Mathilda B., DR. ; “Sebelum atau Sesudah Makan ? Interaksi Obat dengan Makanan” ; http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/55_11_SebelumatauSesudahMakan.pdf/55_11_SebelumatauSesudahMakan.html
  • …………….; “Obat : Sahabat atau Musuh” ; http://www.pfizerpeduli.com/article_detail.aspx?id=28
  • Sinaga, Ernawati, dr., ms apt. ; “Pengaruh Makanan dan Minuman Terhadap Obat” ; http://republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id=167066&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=204.
  • Darmawan, Iyan, Dr ; “ Interaksi Obat : Apa yang Patut Anda Ketahui” ; http://www.otsuka.co.id/?content=article_detail&id=45&lang=id
  • …………….; “Interaksi Obat” ; http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=407
  • ED-MJI (www.pjnhk.go.id) ; “Racun Jeruk” ; http://www.citrus-indonesia.com/index.php3?lang=id&file=rubrik/isi_tulisan.php3&kode_tulisan=32

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Penulis buku "Ayat-Ayat Sehat" dan "Diet Islami"

Lihat Juga

Bisakah Saya Renovasi Rumah 200 Juta?

Figure
Organization