Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Mendidik Anak, Antara Proteksi atau Imunitas? Mendidik Anak, Antara Proteksi atau Imunitas?

Mendidik Anak, Antara Proteksi atau Imunitas? Mendidik Anak, Antara Proteksi atau Imunitas?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

dakwatuna.com – Anak itu ibarat dua sisi mata uang, satu sisi anak merupakan anugerah dari Allah SWT. Kehadiran mereka dapat menjadi penyejuk mata (qurota’ayyun) dan pelipur lara. Mereka ibarat bunga yang indah dalam kehidupan dunia.

Di sisi lain, anak juga merupakan fitnah, jika tidak hati-hati dan baik dalam mendidik mereka bisa menyebabkan penyesalan di dunia dan akhirat. Orang tua yang melalaikan pendidikan anak kelak akan merasakan penyesalan yang terdalam. Ketika anak tumbuh dan berkembang dengan semua keburukan yang diterimanya, dan ia akan menjadi ‘anak nakal’ yang sulit dikendalikan, apalagi sampai berbuat kriminal. Kelak orang tua pun harus bertanggung jawab atas kenakalan anak dan dianggap lalai dalam mendidiknya.

Karena itu, setiap orang tua pasti menghendaki buah hatinya berperilaku baik. Untuk mendukung hal itu, biasanya para orang tua yang mencintai dan peduli pada buah hatinya pasti memiliki berbagai referensi buku atau setidaknya pernah membaca buku tentang cara mendidik anak. Bahkan mereka rela meluangkan waktu untuk mengikuti berbagai tema seminar tentang cara mendidik anak, agar wawasan dalam mendidik anak kian luas dan bertambah.

Dengan harapan, orang tua mempunyai bekalan untuk mengajarkan dan membiasakan kepada buah hatinya perbuatan baik, sehingga ia terbiasa hidup dengan prinsip-prinsip kebenaran dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Orang tua pun akan bahagia dengan perilaku buah hatinya dan bahagia hidup bersamanya.

Namun, tidak dipungkiri bahwa era digital turut mempengaruhi budaya pergaulan buah hati kita. Terkadang para orang tua tidak mudah untuk mengaplikasikan berbagai teori tentang cara mendidik anak yang mereka peroleh melalui buku dan seminar. Secara teori, mungkin mereka sudah paham bagaimana cara mendidik anak agar kelak anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang unggul. Terkadang pula, mereka juga mengalami berbagai kendala untuk melindungi buah hatinya ketika berhadapan dengan realitas budaya lingkungan masyarakat yang cenderung destruktif.

Setidaknya, faktor yang dapat mempengaruhi perilaku buah hati kita di antaranya adalah teman bermain, teman bermain anak yang usianya lebih tua di lingkungan masyarakat bisa mempengaruhi perilaku buah hati kita. Dari pergaulan inilah buah hati kita akan mengetahui bagaimana orang lain berperilaku dan mereka dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.

Ternyata, perilaku positif yang dicontohkan orang tua di lingkungan keluarga saja tidak cukup, buah hati kita lebih senang mencontoh perilaku teman bermainnya daripada mengikuti orang tuanya. Misalnya: ketika anak saya kepergok sedang merokok dengan teman sebayanya beberapa waktu lalu. Sebagai orang tua saya sangat terkejut ketika melihat kenyataan bahwa anak lelaki pertama saya yang berusia lima tahun itu belajar merokok, padahal saya sendiri sebagai ayahnya bukan perokok aktif. Sebagai orang tua, tentu tidak ingin buah hati kita tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh budaya negatif.

Proteksi atau Imunitas?

Ketika merespon perilaku buah hati kita dalam realitas lingkungan masyarakat yang dipenuhi budaya destruktif. Maka peran orang tua benar-benar diuji. Apakah untuk melindungi buah hatinya dari budaya negatif lebih memilih cara bagaimana membangun imunitas dalam diri anak ketika bergaul dengan lingkungan. Yaitu membangun prinsip dan nilai-nilai positif pada diri anak sehingga tidak mudah terpengaruh budaya negatif dari luar. Dengan sistem imunitas ini, buah hati kita dapat membedakan antara perilaku positif atau negatif yang diperankan teman sebayanya ketika bergaul di lingkungan masyarakat.

Atau kita lebih memilih menjadi orang tua konvensional yang membekali buah hati kita dengan berbagai aturan yang mengekang, membatasi pergaulan dan proteksi berlebihan untuk buah hati kita? Maka sebagai orang tua yang bijak, harus ada cara yang adil dalam menjembatani buah hati kita ketika bergaul di lingkungan masyarakat yang majemuk dengan beragam karakter. Sehingga kecerdasan sosial buah hati kita tidak terganggu dengan seperangkat aturan yang memasung tumbuh kembangnya.

Imam Ghazali mengungkapkan, “Setiap anak akan menerima semua bentuk kecenderungan yang disodorkan kepadanya ataupun yang dikatakan kepadanya.”

Karena itu, memang tidak mudah mengaplikasikan istilah “berinteraksi tanpa terkontaminasi” pada buah hati kita. Yaitu membekali buah hati kita dengan kemampuan agar tidak mudah terpengaruh hal negatif dalam pergaulan di lingkungan masyarakat. Atau mempunyai prinsip yang digunakan sebagai pedoman ketika bergaul di masyarakat.

Karena di saat bergaul di tengah-tengah masyarakat, buah hati kita akan berhadapan dengan beragam sikap, watak, budaya dan nilai-nilai sosial yang jauh dari bingkai moral keagamaan. Bisa jadi keluarga kita tinggal di lingkungan sosial yang rentan dengan budaya negatif destruktif yang dapat mempengaruhi perilaku dan pemikiran buah hati kita. Sehingga prinsip nilai-nilai kebenaran/ positif yang kita tanamkan atau ajarkan pada buah hati kita sedikit demi sedikit akan larut dalam kubangan budaya negatif destruktif. Dan buah hati kita akhirnya lupa akan nilai positif yang selama ini kita bangun.

Maka, sebagai orang tua, kita harus terus konsisten mempertahankan dan mengajarkan prinsip kebenaran dalam agama (Islam) kepada buah hati kita. Dengan ini, buah hati kita akan memiliki benteng “pembeda dan pembatas” yang mampu membentengi buah hati kita dari nilai-nilai destruktif yang ada di masyarakat. Dengan ini, buah hati kita tidak akan mengikuti keinginan-keinginan teman bergaulnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam dan malah bertentangan dengannya.

Memang, banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemakisatan dan tindak kriminal karena pengaruh teman bergaul yang jelek. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih. Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan agar berteman dengan orang baik (shalih), yang digambarkan dalam sebuah hadist Bukhari & Muslim, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.”

Hadits di atas mengandung faedah bahwa bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita. Namun, jika kita tinggal di lingkungan masyarakat yang kurang kondusif, maka kita sebagai orang tua harus terus konsisten mendorong buah hati kita untuk berpegang teguh pada prinsip nilai-nilai kebenaran yang diajarkan agama.

Ketika dalam diri anak sudah tumbuh kesadaran dalam memegang prinsip, maka kita sebagai orang tua tak perlu lagi memproteksi buah hati kita dengan seperangkat aturan yang memasung kecerdasan sosialnya. Wallahu a’lam.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Alumni Universitas Muhammadiyah Tangerang. Tinggal di Serpong Utara Kota Tangsel.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Organization