Topic
Home / Berita / Opini / Mari Membantu Jokowi

Mari Membantu Jokowi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. (inet)
 Joko Widodo. (inet)

dakwatuna.com 

Yang saya hormati,

Rakyat Indonesia

Di manapun anda berada

 

Tulisan ini saya tujukan untuk bangsa yang amat saya sayangi. Bangsa raksasa yang pernah dan akan kembali mengecap peradaban unggul. Bangsa dengan sifat persaudaraan yang kental melebihi bangsa benua manapun. Bangsa yang menjadikan gotong royong jadi kekuatan padu untuk maju. Kepada seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai, kumpulan huruf ini saya persembahkan.

Indonesia yang saya cinta, hari-hari ini akan menjadi bagian dari sejarah besar bangsa kita. Kita akan memilih nahkoda besar untuk melanjutkan pelayaran kita sebagai sebuah bangsa yang masih belia. Nahkoda yang akan membawa ‘kapal’ keempat terbesar di dunia ini menuju masa depan. Entah akan lebih matang, atau akan porak-poranda sebelum negeri ini berdiri gagah di hadapan dunia.

Di hadapan kita, dua putra terbaik bangsa sedang memersiapkan kemungkinan-kemungkinan itu. Dua putra terbaik bangsa sedang menata kemampuannya memimpin macan yang sudah bangun tidur dan bersiap menajamkan taring. Semua mata melihat, telinga mendengar baik-baik, tulisan dan siaran media meliput, dunia bahkan ikut harap-harap cemas, menanti siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dua putra bangsa itu; Prabowo Subianto dan Joko Widodo.

Indonesia yang saya cinta.

Siapa di antara kita yang ingin saling menjatuhkan? Siapa di antara kita yang rela melihat rekan sebangsa saling menikam? Siapa yang ridha melihat kawan yang tadinya sejawat menjadi penyerang paling kejam? Tak ada! Indonesia lahir dalam tabiat kerukunan yang telah menjadi darah dan daging! Selamanya, bangsa ini takkan pernah menganggukkan kepala dan bertenang hati melihat sesama saudara saling menjatuhkan.

Air mata saya menetes ketika disuguhkan keadaan hari ini, tepat di depan mata saya, terdengar amat dekat oleh telinga, dan teraba amat nyata dalam indra. Suasana Pilpres hari ini membelah rakyat menjadi dua kubu besar. Saya tidak memermasalahkan dua kubu ini, mau berapa kubu pun, memang itu kenyataan berdemokrasi.

Yang saya sayangkan adalah satu sikap seorang Capres –salahsatu putra terbaik bangsa ini- yang membuat saya khawatir. Saya hormat dan menghargainya; kesederhanaan, kesantunan, dan kerendahan hatinya. Saya mengkhawatirkannya karena beliau punya satu amanah yang belum usai dilaksanakan dan menyisakan banyak masalah. Namun, beliau malah mencoba menjajaki amanah yang lebih besar lagi.

Saya menghormatinya; supelnya, kekhasannya menyampaikan gagasan, dan langkah-langkahnya yang jitu. Sayang seribu sayang, satu hal ini belum tuntas melaksanakan amanah rakyat. Tapi mengapa malah ingin mencoba menapak tangga yang lebih tinggi? Padahal, beban dan akibat yang dirasakan bertambah berat? Saya khawatir, bagaimana dan apa jawaban yang beliau sampaikan ketika berhadapan dengan Pemilik Asli Indonesia bahkan alam semesta?

Baiklah, langsung saja kepada Pak Jokowi. Saya kagum pada beliau. Namun kali ini, langkahnya terlalu dini dan seperti tak berfikir matang. Kasihan beliau. Karena atas apa yang beliau lakukan, beliau membuka pintu bagi saudara-saudara setanah air untuk mencela dan mencari aibnya sampai menciptakan fitnah. Kasihan beliau. Karena apa yang beliau putuskan telah membuka pintu bagi warga DKI mencecarnya. Membuka pintu dosa yang seharusnya tak ada. Sudah dihadapkan dengan beban yang makin berat, masih pula terjerat tanggungjawab yang belum usai.

Demi Allah, saya tidak ingin menjatuhkan apalagi memfitnah. Tidak! Bukan untuk itu muslim bicara negara. Bukan untuk itu muslim berdemokrasi. Lebih dari itu, kita sebagai bangsa yang bijaksana menginginkan jalan keluar dari kebisingan dan kekalutan ini. Kita ingin semua pihak bisa menjadi teladan dan bisa menjadi pemimpin amanah yang dicintai penghuni bumi, dan diridhai penghuni langit. Kami mencintai dua putra terbaik bangsa ini –Prabowo dan Jokowi- dan kami tak ingin salah satunya “kandas” di hadapan tuhan. Mereka adalah kebanggan bangsa ini.

Maka, untuk Pak Jokowi, ingin sekali saya menghormati anda dengan membantu anda menjadi teladan kepemimpinan yang amanah. Juga ingin membantu Pak Prabowo menjadi pemimpin bijak yang tegas melaksanakan tugas. Saya tidak ingin melihat putra terbaik bangsa mempunyai aib dalam perkara amanah. Padahal, tanggungjawab adalah mutlak harus dimiliki mereka yang memimpin bangsa raksasa ini.

Mari membantu Jokowi dengan memersilahkan beliau menjadi pemimpin yang tuntas melaksanakan tugas. Jangan kita tega-tega saja melihat beliau berkeliling nusantara. Tapi rakyatnya di Jakarta mendoakannya yang tidak-tidak. Saya tidak berbohong, berapa kali rakyat berbondong menuntut beliau, berarak di jejalan raya meminta beliau menuntaskan tugasnya dulu. Survei menyatakan, sebagian besar rakyat ingin beliau kembali menuntaskan amanahnya terlebih dahulu. Jika sukses dan tuntas, silahkan menuju Istana.

Maka, mari membantu Pak Jokowi. Agar namanya baik di mata penghuni bumi, dan terdengar apik di atmosfer penghuni langit. Cara, dengan mendukung beliau menuntaskan amanah di Jakarta. Lalu mendoakannya agar menjadi Gubernur yang teladan bagi rakyatnya. Insya Allah, ini baik bagi beliau, rakyat DKI, dan bangsa kita.

Lalu, bagaimana dengan Pak Prabowo? Bagaimana kita membantunya menjadi pemimpin yang amanah? Wahai Indonesia yang saya cinta, kita telah benar-benar faham bahwa suara kaum muslimin ditentukan dan instruksi apa yang dikatakan ulamanya. Telah tersebar di media juga berita-berita nusantara. Para Kyai dan Habaib, Guru Agama juga Asatidz, Mu’allim juga Muballigh yang menaruh dukungannya pada Bapak Prabowo. Ditambah lagi Almarhum Gusdur. Guru bangsa yang lahir dari rahim Nahdatul Ulama, menaruh harapan besar pada Bapak Prabowo.

Mari membantu Pak Prabowo dengan mendukungnya menjadi nahkoda baru bagi bangsa ini. Mengapa beliau? Salah satu alasannya, karena beliau telah menggagas kebangkitan bangsa ini jauh-jauh hari sebelum hari ini. Beliau telah menciptakan skema tahapan yang brilian bagi Indonesia jauh-jauh hari sebelum debat Pilpres. Jika beliau menjadi Presiden, gagasan baik dan mulianya ini bisa dijalankan.

Inilah kita, wahai Indonesia. Kita ingin semua pihak menang dan bisa menjadi pahlawan. Bukan memerjuangkan satu pihak dan membunuh yang lain. Itu bukan kita. Bukan Indonesia! Apalagi kita hidup dalam arahan katalog Islam yang begitu detail berbicara kepemimpinan. Kita telah diajari, membaca, diberi nasehat guru; bahwa pemimpin dambaan ummat adalah mereka yang amanah. Amanah. Sekali lagi, amanah sampai tuntas. Pemilu ini, bukan untuk memenangkan dan mengalahkan salah satunya. Semua bisa menang. Semua bisa jadi teladan. Semua bisa berkarya di tempatnya masing-masing.

Mari, mari membantu putra terbaik bangsa –Jokowi dan Prabowo- menjadi teladan terbaik yang dijadikan contoh bagi generasi Indonesia hari ini dan masa depan. Agar Pak Jokowi bisa menuntaskan kerja di Jakarta dan Pak Prabowo bisa menjalankan master plan briliannya memajukan bangsa. Win Win Solution. Tak ada yang kalah. Semuanya pahlawan bagi kita. Selamatkan Indonesia. Bangkitkan Indonesia, barulah bisa menjadi Indonesia hebat!

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir | Alumni SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang | Alumni Ponpes Husnul Khotimah Kuningan

Lihat Juga

Tegas! Di Hadapan Anggota DK PBB, Menlu RI Desak Blokade Gaza Segera Dihentikan

Figure
Organization