Home / Berita / Opini / Pembohongan Publik: Dana “Bayaran” untuk Jokowi

Pembohongan Publik: Dana “Bayaran” untuk Jokowi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Peminta sumbangan (inet) - tribunnews.com
Peminta sumbangan (inet) – tribunnews.com

dakwatuna.com – Setelah terbongkarnya pemberian uang pada saat kampanye Jokowi–Kalla di daerah Probolinggo dan Serang baru-baru ini, kemarin di salah satu stasiun TV  saya juga menonton sebuah berita yang menayangkan aktivitas di sebuah bank milik pemerintah. Ada banyak  orang yang sedang mengantri untuk mengirimkan uang ke rekening Jokowi-Kalla. Bahkan, ada seseorang yang sedang memegang dan menghitung uang dalam jumlah yang cukup besar (lembaran biru dan merah) sempat tersorot oleh kamera.

Menyaksikan berita ini, pada awalnya, saya sempat berpikir, alangkah hebatnya  Jokowi dan Kalla ini. Bisa menggerakkan hati rakyat Indonesia untuk menyumbangkan secara sukarela dari uang mereka. Betapa mulianya hati para rakyat ini, yang telah ikhlas “berbagi” dengan calon pemimpin  yang akan mereka dukung, yang notabene bukanlah orang-orang susah. Bahkan, Capres dan Cawapres pilihan mereka adalah orang-orang yang sangat kaya. Namun, rasa penasaran dan husnuzhan ini cuma saya simpan dalam hati.

Walaupun memang menerbitkan banyak pertanyaan ganjil dalam diri saya. Yaitu pertanyaan-pertanyaan yang sampai detik ini masih saya cari jawabannya. Meskipun, saya tahu, sejak diresmikannya Capres dan Cawapres oleh KPU, pasangan Jokowi–Kalla telah membuka rekening tabungan. Tujuan dibukanya rekening ini adalah untuk menampung partisipasi masyarakat berupa sumbangan sukarela dari mereka sebagai bentuk dukungan moril dan materiil terhadap pasangan ini.

Namun tak urung, melihat fenomena yang ada, timbullah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja juga menggelayuti benak masyarakat Indonesia lainnya. Adapun pertanyaan-pertanyaan itu adalah :

Pertama, jika memang murni dari uang rakyat, mengapa waktu pengirimannya (tanggal, hari, jam) bisa persis sama? Logikanya, jika itu benar dari rakyat, pasti waktu pengirimannya tidak mungkin sama. Bisa saja pagi, siang, sore ataupun malam. Kalaupun misalnya siang, tak mungkin jam dan menitnya hampir berbarengan. Bukankah mereka ini berasal dari kalangan dan domisili yang berbeda-beda?

Kedua, jika memang murni dari uang rakyat, mengapa bank tempat pengirimannya bisa sama, yaitu dari BRI Cabang Sudirman? Logikanya, jika itu benar dari rakyat, tidak mungkin melalui bank yang persis sama. Dan kita tahu, bahwa sekarang ini pengiriman uang sangatlah mudah. Bisa menggunakan jasa online seperti sms banking serta ATM. Tak perlu harus datang langsung ke bank dan berlelah-lelah mengantri segala. Itupun tak harus melalui bank yang sama alias bisa menggunakan jasa transfer antar bank.

Ketiga, jika memang murni dari uang rakyat, mengapa para wartawan dan reporter TV bisa tahu, bahwa di situ ada orang yang akan mengirim uang ke rekening Jokowi-Kalla pada saat itu? Siapa yang memberi tahu mereka? Logikanya, jika itu benar dari rakyat dan dikirimkan secara spontanitas, sangat mustahil awak media akan mengetahui kegiatan itu. Sebab pengiriman uang tidak harus koar-koar ke media atau membuat pengumuman. Kecuali bila memang hal itu “sengaja” dikoordinir oleh pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuan (motif) tertentu pula.

Keempat, jika memang murni dari uang rakyat, alangkah dahsyatnya gerakan ini yang mana dalam waktu yang relatif singkat mampu mengumpulkan dana sekian milyar? Kita mengetahui bahwa timses Jokowi–Kalla memang membuat sebuah gerakan untuk menopang kegiatan kampanye Jokowi–Kalla yang mereka namai dengan “Gerakan Seribu Rupiah Untuk Jokowi”. Walaupun pada kenyataannya, berdasarkan pantauan TV yang meliput kegiatan ini, uang yang disumbangkan atau yang dikirimkan oleh masyarakat yang turut berpartisipasi, ada yang lebih dari seribu rupiah. Jadi, wajar saja bila uang yang terkumpul bisa sebegitu banyaknya, meskipun memang masih terasa janggal.

Inilah yang menjadi pertanyaan-pertanyaan saya. Tak ada maksud untuk mencampuri urusan “rumah tangga” kubu Jokowi–Kalla. Karena itu adalah hak asasi mereka. Namun, alangkah baiknya jika kegiatan kampanye ini tidak dinodai oleh perbuatan-perbuatan yang tidak sportif. Sebagaimana yang sudah terjadi pada dua kejadian sebelumnya, di mana telah terjadi pembohongan publik dengan mengatasnamakan rakyat Indonesia.

Yakni terbongkarnya aksi dari Timses Jokowi–Kalla yang membagi-bagikan uang kepada masyarakat, untuk selanjutnya dikumpulkan kembali melalui “kotak amal” yang sudah disediakan ataupun dikirim melalui bank yang sudah ditunjuk.  Kasihan kepada rakyat Indonesia yang mau saja diperalat dan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, demi meraih sebuah ambisi.

Wallahu A’lam.

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Ilusi Band: Islam Tidak Ajarkan Berbohong Meski Untuk Kebaikan