Topic
Home / Berita / Opini / Terima Kasih Jokowi

Terima Kasih Jokowi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Capres Gerindra, Pabowo Subiyanto dan Capres PDI-P, Joko Widodo - Foto: rimannews.com
Pabowo Subiyanto dan Joko Widodo – Foto: rimannews.com

dakwatuna.com – Gegap gempitanya Pilpres tahun ini, mau tak mau, suka tidak suka, telah  membuat rakyat Indonesia menjadi terkotak-kotak dalam hal dukung-mendukung Calon Presiden (Capres) pilihannya. Pro dan kontra pun ramai mewarnai ajang pertarungan memperebutkan posisi nomor satu di negeri ini. Tak bisa dihindari karena masing-masing pihak merasa pilihannya adalah yang terbaik.

Pertempuran ini menjadi semakin seru karena kandidat Capresnya hanya dua, yaitu Prabowo Subianto dan Joko Widodo atau yang biasa disapa dengan Jokowi. Maka tak pelak lagi, kubu yang terbentuk pun terbelah menjadi dua. Walaupun masih ada kubu “ketiga”, yaitu orang-orang yang belum menentukan sikapnya dalam memilih (swing voters). Namun secara kasat mata, sudah ada dua kubu atau kelompok yang saling berhadapan. Yakni pendukung Prabowo dan pendukung Jokowi.

Lantas di manakah saya? Tak seperti Pilpres-pilpres yang lalu, Pilpres kali ini menempatkan diri saya ada di kubu Prabowo. Bukan tanpa sebab saya memutuskan ini, bukan pula karena sekedar ikut-ikutan atau euforia demokrasi sesaat. Saya akui bahwa pada Pilpres-pilpres kemarin, saya memang tak sesemangat saat ini. Di Pilpres yang lalu, saya cuma sekedar “mengikuti” instruksi partai di mana saya berada. Tanpa ada alasan apapun. Naif memang kedengarannya. Karena saya memang cuma sekedar menjalankan perintah dan menggugurkan kewajiban, tanpa ada perlawanan atau bantahan sedikit pun.

Namun untuk Pilpres kali ini, entah mengapa saya merasakan hal yang jauh berbeda. Ada aura  lain yang membuat saya sangat antusias menyambut Pemilu Presiden tahun ini. Perlu diketahui, jauh sebelum PKS memutuskan untuk berkoalisi dengan kubu Prabowo, saya sudah terlebih dahulu menyimpan niat ingin mendukung Prabowo. Betapa saya sangat ingin melihat mantan Danjen Kopassus ini memimpin Indonesia. Sebuah keinginan yang terlalu berlebihan sepertinya. Namun, begitulah adanya.

Terlepas dari apakah nanti partai saya akan mendukung Prabowo atau tidak. Namun pada saat itu, saya punya satu keyakinan yang kuat, bahwa partai saya pasti tidak akan sembarangan dalam menentukan pilihannya. Partai saya pasti akan mempertimbangkan segala sesuatunya secara matang, rasional, profesional dan proporsional. Sebab, ini bukan perkara main-main. Nasib bangsa dan rakyat Indonesia 5 tahun ke depan menjadi taruhannya.

Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya, alhamdulillah PKS memutuskan untuk mendukung Prabowo  Subianto sebagai Calon Presiden RI periode 2014–2019. Akan tetapi, PKS tidak sendirian. Ada 5 partai lain yang juga ikut mendukung Prabowo. Yaitu Gerindra (tentu saja), PAN, PPP, PBB dan Golkar. Gabungan dari keenam partai ini dinamakan Koalisi Merah Putih.

Keputusan PKS ini sudah barang tentu membuat saya sangat gembira. Laksana pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Begitulah kira-kira gambaran diri saya ketika mendengar PKS positif mendukung Prabowo. Semangat saya pun jadi kian menggebu-gebu. Adrenalin saya jadi semakin terpacu untuk memenangkan jagoan saya ini. Tak ada kata lain, selain berupaya semaksimal mungkin agar impian saya melihat Prabowo menjadi Presiden ke-7 di negeri ini dapat terwujud melalui Pemilu pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan datang.

Sehubungan dengan dukungan saya ini, ada satu hal yang ingin saya kemukakan secara jujur kepada para pembaca. Yakni mengapa tiba-tiba saya “jatuh cinta” kepada Prabowo? Mengapa tiba-tiba saya jadi terlihat begitu “mati-matian” dalam membelanya? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah karena Jokowi. Ya, karena seorang Jokowi! Lho…kok bisa? Apa hubungannya dengan mantan Walikota Solo itu? Ada apa sebenarnya? Mungkin inilah yang menjadi tanda tanya para pembaca yang budiman.

Dulu, sebelum Jokowi setenar sekarang ini, saya pun tidak begitu tertarik dengan figur Prabowo. Bagi saya, Prabowo adalah seorang yang biasa-biasa saja. Yang saya tahu hanyalah bahwa dia mantan tentara, seorang jenderal, serta mantan menantunya Soeharto (suami Titiek Soeharto). Lalu, ketika reformasi 1998, nama Prabowo dikait-kaitkan sebagai dalang penculikan dan penangkapan para aktivis mahasiswa pada waktu itu. Dan hingga kini, Prabowo pun masih dituduh sebagai tersangka pelanggaran HAM.

Sungguh, informasi saya tentang Prabowo sangatlah minim. Itu disebabkan karena saya memang tidak tertarik sama sekali untuk mencari atau menggalinya lebih jauh lagi. Untuk apa? Toh saya juga tidak ada kepentingan apa-apa terhadap dirinya. Prabowo bukan siapa-siapanya saya. Dan Prabowo  tak pernah merugikan saya barang secuil pun. Jadi, buat apa saya mencari tahu tentang siapa dirinya secara detil? Gak penting-penting amat, begitulah kira-kira pikiran saya saat itu tentang Prabowo.

Namun sekarang, dikala Pilpres ini sedang memanas. Dikala nama Jokowi sedang berkibar dan marak memenuhi banyak halaman media, pada saat itu pula saya jadi semakin bersemangat untuk mencari tahu tentang Prabowo Subianto. Mengapa? Sejujurnya saya katakan, bahwa “ketertarikan” saya kepada Prabowo karena “ketidaksukaan” saya kepada Jokowi dan para pecintanya. Namun kesukaan ataupun ketidaksukaan ini bukanlah lantaran fisik Jokowi atau Prabowo. Justru saya termasuk orang yang tidak suka main fisik dalam menerima dan mengungkapkan suatu berita yang terkait dengan manusia. Ketidaksukaan saya kepada Jokowi lebih disebabkan oleh perlakuan para pecinta (lovers) Jokowi beserta media pendukungnya.

Menurut saya, sikap mereka ini sudah terlalu berlebih-lebihan, dan kadangkala tidak masuk akal. Belum lagi ditambah dengan sikap Jokowi sendiri yang (maaf) menurut saya, suka tidak konsisten. Waktu Jokowi menjadi gubernur DKI, saya tidak terlalu menghiraukannya. Namun, ketika dia memutuskan untuk nyapres, dari situlah mulai timbul sentimenisme saya kepada Jokowi. Meskipun begitu, dalam menerima dan menyampaikan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, saya tetap berusaha untuk selalu objektif. Kalaupun ada hal-hal yang harus saya share melalui socmed tentang Jokowi, maka terlebih dahulu saya akan membacanya secara detil. Selanjutnya, saya sertakan sumber atau link yang memuat berita tersebut. Jadi, keakuratan dan kevalidan informasi tetap terjaga. Tidak gegabah dan sembarangan.

Nah, dari rasa ketidaksukaan inilah akhirnya yang membuat saya mencari alternatif lain. Siapa kira-kira yang bisa menandingi elektabilitas seorang Jokowi yang memang banyak diakui oleh banyak pihak cukup tinggi. Dan feeling saya pun jatuh kepada Prabowo. Sempat juga punya impian kepada salah satu kader terbaik PKS, Ahmad Heryawan (Aher). Akan tetapi, melihat hasil dari Pemilu Legislatif (Pileg) kemarin, dimana PKS memperoleh suara kurang-lebih 7%, maka saya harus mengubur mimpi saya ini. Idealisme saya harus berhadapan dengan realitas yang ada. Oleh sebab itu, saya harus menerimanya dengan lapang dada.

Dari Aher beralih kepada Prabowo. Saya rasa  cukup realistis juga. Apalagi setelah PKS pun turut mendukung putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo ini. Plong rasanya. Lalu sejak saat itulah saya memulai pencarian saya untuk melacak “rekam jejak” (track record) dari Prabowo Subianto. Karena saya tak mau “membeli kucing dalam karung”, seperti yang sudah-sudah.

Maka, setiap ada berita atau informasi tentang Prabowo, saya kejar dan baca tuntas. Saya harus dapat informasi sebanyak-banyaknya tentang jagoan saya ini. Agar saya punya pegangan yang kuat dalam menentukan sikap politik saya. Tidak sekedar karena instruksi partai atau pimpinan. Tetapi karena saya memang benar-benar paham siapa Prabowo, dan siapa Jokowi sebagai bahan perbandingan.

Dari hasil pencarian ini, baik melalui internet (sosmed) maupun dari TV, begitu banyak yang saya dapatkan. Terutama tentang dugaan keterlibatan Prabowo dalam kasus pelanggaran HAM 1998 silam. Banyak artikel dan literatur yang saya baca. Walaupun memang belum semua, karena banyak lagi yang masih tercecer. Namun, paling tidak, sedikit-banyak mampu mengubah mindset saya tentang seorang Prabowo. Dari yang tadinya saya tidak tahu apa-apa, jadi mengerti dan paham. Dari yang tadinya tidak kenal, menjadi kenal. Dan leganya saya dalam usaha mencari rekam jejak Prabowo ini, dari dulu saya memang tidak pernah “membenci” Prabowo. Karena itu tadi, saya memang tidak tertarik untuk mengenalnya. Prabowo itu bukan siapa-siapa bagi saya! Hal ini tentu saja sangat membantu saya, sebab saya jadi tidak punya beban apapun.

Semakin saya mengetahui siapa Prabowo yang sesungguhnya, semakin memantapkan hati saya untuk memilihnya. Semantap hati saya ketika memutuskan bergabung dan berjalan bersama Partai Kesayangan Saya (PKS). Meskipun saya sangat menyadari, bahwa baik Prabowo maupun orang-orang PKS adalah manusia-manusia biasa yang tak terlepas dari khilaf dan salah.

Sebab memang tak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan itu cuma milik Allah SWT. Semoga apa menjadi pilihan dan sikap politik saya ini, tidak sia-sia. Semoga Allah meridhainya. Apapun hasil Pemilu nanti, itulah yang terbaik  menurut Allah, dan saya akan tetap berada di sini.

Dalam kesempatan ini pula saya ingin menyampaikan isi hati saya, yaitu saya sangat berterima kasih kepada Jokowi. Sebab karena Jokowi, saya jadi mengenal Prabowo Subianto. Jika saja saya “tak suka” sama Jokowi, belum tentu saya mau mencari tahu tentang Prabowo. Belum tentu saya mau browsing internet hanya untuk mencari informasi tentang seorang Prabowo Subianto. Sekali lagi, terima kasih, Jokowi!

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Capres-Cawapres Sudah; Manuver Apa Lagi Selanjutnya?

Figure
Organization