Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Antara Abu Thalib dan Abu Sufyan

Antara Abu Thalib dan Abu Sufyan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tatkala membicarakan sosok Abu Thalib, maka kita akan dibawa pada masa-masa kegelapan kota Makkah. Tatkala Islam menjadi musuh bersama bagi mayoritas penduduknya. Tatkala teror terus dilancarkan untuk menjegal para aktivis dakwah. Mengenangnya membuat kita teringat akan nilai-nilai kebaikan. Mengingat sebuah semangat kepedulian yang teramat besar dari paman sang Rasul Allah.

Kita tentu masih ingat tatkala beliau menyerukan kepada seluruh Bani Hasyim untuk mengikat sumpah di depan Ka’bah. Dengan saling menggenggam kain rumah suci itu, Bani Hasyim bersumpah untuk membela Rasulullah sampai titik darah penghabisan. Abu Thalib-lah yang menggagas ide tersebut dan beliaulah yang menjadi pemimpinnya. Hal itu mereka lakukan karena Rasulullah tengah menghadapi makar yang teramat besar dari orang-orang Quraisy.

Maka sungguh terjadi bahwa tahun kematiannya dikenang sebagai Tahun Kesedihan. Dan Rasulullah serta kaum muslimin berduka cita di masa-masa berkabung itu. Bagaimana tidak? Sedangkan Abu Thalib adalah tokoh Quraisy yang berada di barisan paling depan sebagai pembela Rasul-Nya yang mulia. Nyawa tak ia pedulikan asal keponakannya dapat eksis melaksanakan seruannya. Dan harta bukan menjadi persoalan, selama kaum muslimin hidup tenteram di bawah perlindungannya.

Tapi apa yang kita rasakan ketika, di waktu yang sama, kita mengenang Abu Sufyan dan segala sepak terjangnya terhadap Islam? Kita akan merasa muak, jijik dan segudang kebencian akibat perbuatan setan Quraisy tersebut. Jika ada ayat-ayat Makiyah dan sebagian ayat-ayat Madaniyah menceritakan tentang setan-setan orang kafir, yang kebenciannya terhadap Islam lebih besar melebihi semua rasa benci, maka di dalamnya Abu Sufyan menjadi tokoh yang paling berperan dalam makar-makar tersebut.

Bahkan, Perang Uhud yang sangat menyakitkan bagi kaum muslimin itupun, adalah perang miliknya. Dia yang pertama kali memiliki ide untuk menyerang balik kaum muslimin. Ia datangi kawan-kawannya satu persatu, ia hasut dan ia seru mereka untuk membalaskan kekalahan mereka di Lembah Badar. Dialah penyumbang dana terbesar untuk perang tersebut, dan ia pulalah yang menjadi tokoh terdepan dalam maksudnya menghancur leburkan kaum muslimin.

Hidayah Allah

Tapi manusia adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya. Ia tak memiliki kuasa sedikitpun di hadapan Allah yang Maha Agung. Jika Allah berkehendak, maka itulah yang pasti terjadi. Tak ada yang mengira bahwa Abu Thalib pada akhirnya berada di neraka. Dan tak ada yang pernah menduga bahwa Abu Sufyan pada akhirnya akan masuk ke surga-Nya.

Berkenaan dengan Abu Thalib, maka kita menemukan catatan penting tentang akhir hidup sang pria bijaksana tersebut. Dengan segala fakta tentang kedekatannya dengan Rasulullah, dan seluruh hujjah tentang kebenaran Islam yang nampak nyata di hadapan matanya, ternyata tak menggerakkan hati Abu Thalib untuk menerima hidayah Allah. Hatinya tetap keras dan keangkuhannya telah menutup matanya dari kebenaran.

Apa yang kurang dari bukti kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah? Dan apa yang kurang dari akhlaqul karimah yang dipancarkan oleh Sang Nabi Allah? Abu Thalib tetap keras kepala. Merasa malu meninggalkan aqidah kekufurannya hanya karena takut kehormatannya akan jatuh. Dan atas seluruh sikapnya itu, iapun berakhir dengan su`ul khatimah—berakhir dengan kematian yang buruk: mati sebagai seorang kafir.

Namun Abu Sufyan, yang di sebagian besar umur kehidupannya terus bergelimang dengan kekufuran, pada akhirnya merasa tunduk dan tak berdaya di hadapan kuasa Allah. Kesombongannya hancur dan hatinya luluh oleh hidayah Allah. Kebenaran Islam datang padanya dengan cara yang unik serta tidak terduga. Dan, sebelum ajal menjemputnya, ia bersaksi bahwa ia seorang muslim.

Memang, keislaman Abu Sufyan tidak akan mungkin bisa disandingkan dengan Abu Bakar dan Umar, bahkan dengan Orang-orang Anshar sekalipun. Tapi Allah adalah Maha Pengampun. Ia mengampuni semua dosa selama kematian belum menjemput seorang hamba. Dan Rasulullah sendiri yang menjadi saksi bahwa Abu Sufyan menjadi seorang muslim.

Maka, tokoh yang pernah menjadi setan Quraisy itupun wafat dalam pelukan hidayah Islam. Dan baginya adalah surga. Insya Allah.

Maka…

Belajarlah dari masa lalu, wahai orang-orang yang beriman…

Kebaikanmu saja tidak cukup tanpa konsistensi dalam keimanan. Takdir sungguh tidak dapat diduga, sementara hati manusia teramat lemah. Jangan sampai ada di antara kita yang terjerumus ke dalam jurang neraka, hanya karena akhir yang buruk dalam kekufuran… Na’udzubillah min dzalik…

Cukuplah surat Al ‘Ashr menjadi nasihat bagi kita, bahwa syarat keberuntungan itu ada empat, yang kesemuanya harus berjalan beriringan, yakni:

  1. keimanan kepada Allah,
  2. ibadah dan amal shalih,
  3. berdakwah menyerukan kebenaran, dan
  4. sabar serta istiqamah dalam seluruhnya.

Karena, jika tidak, sungguh ia akan menjadi orang yang merugi…

Allahlah Sang Pemilik hidayah dan taufik…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Guru ngaji di LTQ Al-Hikmah (2003 s.d. Sekarang). Guru ngaji di Nurul Furqon (2013 s.d. Sekarang)

Lihat Juga

Keimanan Adalah Keberpihakan

Figure
Organization