Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Serakah Perenggut Bahagia

Serakah Perenggut Bahagia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi. (Foto: Blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: Blogspot.com)

dakwatuna.com – “Manusia itu walaupun mencapai usia senja tapi ia masih merasa muda dalam dua perkara yaitu angan-angan dan cinta harta.” (Al Hadits)

Saat krisis keuangan tahun2008 di Amerika Serikat (AS) yang nyaris melumpuhkan dunia banyak yang berpendapat itu bermula dari keserakahan. Joseph Stiglitz, mantan ketua Dewan Penasihat Ekonomi Presiden AS pada masa pemerintahan Bill Clinton (1995 – 1997), menyatakan satu persen warga AS memiliki penghasilan nyaris seperempat pemasukan AS. Dalam hal kekayaan, bukan pendapatan, yang satu persen itu menguasai 40% warga. Bankir top dan pejabat teras Negara termasuk ke dalam satu persen itu. Menurut Stiglitz, jauhnya jarak yang dipelihara itu memungkinkan lahirnya ketidaksetaraan. Monopoli meningkat, kaum tertentu mendapatkan keringanan pajak. Akhirnya ketika ‘modal’ tersedot ke atas, sektor public pun akan terganggu. Perhatian pada infrastruktur yang lebih baik menjadi jauh berkurang. Bidang teknologi dan pendidikan tak banyak berkembang.

Ada kisah fiktif yang sarat filosofi kehidupan, diceritakan ada dua orang lelaki sedang berdiri di dekat tempat bermain anak-anak, tempat anak bersuka cita mengekspresikan kebahagiaannya. Salah satu bertanya, “Mengapa setiap orang ingin bahagia, tetapi sangat sedikit yang meraihnya?”

Sosok satunya memandang anak-anak yang sedang bermain itu dan berkata, “Anak-anak itu tampak sungguh bahagia.” Rekannya kemudian berkomentar, “Sudah tentu mereka bahagia karena mereka sedang bermain.” “Kamu benar!” jawab sosok satunya. “Namun apa yang menghalangi orang dewasa berbahagia, juga menghalangi anak-anak berbahagia?” Sosok bijak itu kemudian merogoh saku celananya untuk meraup segenggam kepingan uang logam. Ia kemudian menaburkan ke tengah-tengah kerumunan anak yang sedang asyik bermain itu. Maka sontak dan serta merta sorak sorai kegembiraan itu berubah menjadi jeritan dan pekikan. Mereka saling menindih, menendang, dan berkelahi memperebutkan serakan uang koin tersebut.

Kemudian sosok bijak itu berkata kepada rekannya, “Menurutmu apa yang menyebabkan mereka mengakhiri kebahagiaan bermainnya?” Rekannya menjawab, “Perkelahian!” Si bijak meneruskan, “Ya, tetapi apa yang memicu perkelahian itu?” Dengan agak ragu dan malu rekannya menjawab, “Keserakahan.”  Si bijak menjawab, “Bagus kamu telah menemukan sendiri jawabannya.”

Rasulullah saw pernah bersabda “Manusia itu walaupun mencapai usia senja, tetapi ia masih merasa muda dalam dua perkara yaitu angan-angan dan cinta harta.”

Kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, perhatikanlah wahai manusia, perbaikilah caramu mencari harta, sesungguhnya seorang tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali (apa yang) telah ditentukan baginya. Dunia adalah suatu yang rendah dan hina.”

Imam Bukhari rahimullah, “Abu ‘Ashim menuturkan kepada kami dari Juraij dari ‘Atha, dia berkata, “Aku mendengar Ibnu Abas berkata, “Aku mendengar Nabi shallallhu alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam memiliki dua lembah harta niscaya dia masih mencari yang ketiga. Dan tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah dan Allah menerima taubat bagi siapapun yang mau bertaubat. (H.R. Bukhari).

Beberapa pelajaran dari hadits di atas yaitu antara lain sebagai berikut. Rakus dan serakah merupakan perbuatan tercela, ukuran kebahagiaan bukanlah perkara-perkara duniawi semata, nafsu manusia tak pernah terhenti kecuali kematian merenggutnya. Kecenderungan manusia kepada harta, banyak mengingat maut, banyak manusia yang dijerumuskan oleh harta, sifat qana’ah adalah mulia.

Begitu pula dengan para sahabat, memberikan nasihat terkait keserakahan. Sarmith bin Ujlan berpesan, Wahai manusia, perutmu hanyalah sejengkal, jangan sampai ia membuatmu masuk neraka.”

Ibnu Mas’ud memperingatkan, “Tidaklah ada satu hari pun, kecuali seorang malaikat memanggil-manggil dan berseru, “Wahai manusia, sedikit harta yang dapat membuatmu merasa cukup itu lebih baik daripada banyak (harta) tetapi membuatmu durhaka kepada Allah swt.

Sahabat Umar bin Khattab ra menasihati, “Sesungguhnya tama’ (rakus) adalah kefakiran, sementara memutus keinginan (tidak iri hati) terhadap apa yang ada di tangan orang lain merupakan kekayaan.”

Rasulullah saw pada suatu kesempatan pernah bersabda, “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (H.R. Muslim)

Qana’ah berarti kaya hati, sedangkan rakus itu kefakiran. Jadi marilah kita berusaha menikmati dan mensyukuri rezeki yang telah Allah limpahkan pada kita, tidak tergoda dengan sesuatu yang berada di tangan orang lain. Pepatah Jawa mengingatkan, “sak madya wae.” Seperlunya saja. Semoga kita termasuk orang yang senantiasa diliputi rasa qana’ah ini sehingga mampu mengekalkan kebahagiaan yang kita rasakan. Amin

Wallahu a’lam bis shawab.

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,67 out of 10)
Loading...

Satria Budi Kusuma, atau yang akrab disapa Satria ini tengah dalam proses merampungkan studinya di jurusan Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan UGM. Lahir di Klaten, 2 Juni 1992 silam. Anak pertama dari dua bersaudara ini mempunyai hobi membaca, hiking, dan traveling. Sejak SMP telah tertarik di dunia keorganisasian. Mulai dari OSIS, ROHIS, FAROIS, dan hingga sekarang aktif sebagai pengurus harian di BEM Fakultas Peternakan UGM 2013, sebagai Menteri Koordinator bidang Eksternal di samping juga menjadi Kepala bidang HUMAS pada salah satu partai mahasiswa UGM. Aktivitas pergerakan yang diikutinya yaitu KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UGM. Baru-baru ini sempat didaulat oleh fakultasnya untuk melakoni program student exchange ke Faculty of Animal Science and Technology, Maejo University, Thailand.

Lihat Juga

Menemukan Kebahagiaan