Home / Berita / Agenda Umat / Diaspora Indonesia Pecinta Qur’an di Kuwait

Diaspora Indonesia Pecinta Qur’an di Kuwait

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Sisters Al-Husna, Kuwait Sisters Khairunnisa, KuwaitUmmu Ridho, Keluarga Penghafal Qur'anJuri dan Pemenang Musabaqoh

dakwatuna.com – Sebelum berada di negara baru yang akan disinggahi, kami selalu berkomunikasi dengan para diaspora Indonesia yang telah lebih dahulu berada di sana. Tentu kaum diaspora (perantau) Indonesia selalu ingin saling menebar manfaat dan memperluas jaringan persahabatan. Apabila lokasi sebuah negeri ternyata tak kita dapati info tentang WNI (Warga Negara Indonesia), maka berusahalah menghubungi pihak kedutaan RI di area terdekat dengan wilayah tersebut.

Beberapa bulan sebelum pindah ke Kuwait pun, saya berkenalan dengan beberapa blogger dan wartawan Indonesia (baik yang masih bertugas di Kuwait, maupun yang sudah kembali ke tanah air atau bertugas ke tempat lainnya). Alhamdulillah melalui banyak tautan di kolom komentar sebuah blog, berlanjutlah pertemanan ke sobat WNI lainnya. Kemudian saya mengenal sebuah blog buletin islami ‘project akhirat’ muslimah (WNI) di Kuwait yaitu Al-Husna.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, materi dan taushiyah dalam lembaran Al Husna ternyata relevan dengan keseriusan sisters Muallaf  Krakow dalam mempelajari Al Islam. Ustadzah Latifah Munawarah, MA (Kandidat Doctor di Universitas Kuwait dan merupakan pembina banyak majelis ta’lim se-Kuwait) dan sisters atau ummahat lainnya pun sangat ramah dan segera membalas email-email kiriman kami, di tengah kesibukan mereka. Syukron jazzakumulloh khoiru jazza, dear…

Sangat banyak sharing info dan nasihat yang kami petik dari mereka. Bahkan hati kian berpaut, beberapa bulan yang mulai terasa jenuh kala menanti visa keluarga (saat anak-anak harus berpisah dengan ayahnya yang terlebih dahulu datang ke Kuwait) dihiasi dengan kiriman kata-kata motivasi, yang pada puncaknya pertemuan di bandara internasional Kuwait pun terjadi, kami saling berpeluk erat menumpahkan kerinduan. Subhanalloh, sisters dan keluarga para ustadz di Kuwait telah mengorbankan banyak waktu untuk menjemput kami (sejak tiba di bandara) dan mengantar ke berbagai tempat pengurusan prosedur iqomah (resident civil ID), dan sebagainya.

Beberapa minggu setelah tiba di Kuwait, barulah kami bisa sedikit bebas bepergian, sebab iqomah sudah di tangan. Dan senyuman bisa tetap terukir jika berada di tengah-tengah mereka, para diaspora Indonesia~ brothers dan sisters pecinta Al-Quran. Di Kuwait, cuaca musim panas sangat garang, bisa lima puluhan derajat celsius atau lebih (suhu luar ruangan), ditambah kepulan debu pasir yang terbawa angin kencang, AC merupakan kebutuhan primer semua apartemen. Alergi sangat kerap menghinggapi para pendatang di negeri ini.

Apabila terasa jengkel dengan lambannya urusan prosedur iqomah, dan dokumen yang terkait dengan itu, ditambah cuaca terik~ cepat haus, capek dan lelah, bercampur rasa gerah dapat menjadikan diri mudah emosi. Namun bersua dengan saudara sebangsa alias para diaspora Indonesia dapat menjadi solusi yang hebat. Apalagi kumpulan WNI yang saya kagumi ini adalah para pecinta Al-Quran. Tentu tak diragukan lagi, segala urusan dan problema hidup memang dibahas dalam keindahan ayat-ayat Nya, Al-Quran adalah obat jiwa raga.

Catatan pertama mengenai para perantau ini adalah tampak awet muda dan energik meskipun berusia senior. Sangat jelas gurat wajah penuh kesabaran dan keikhlasan dalam melalui segala peristiwa kehidupan di tanah rantau, anak-anak mereka pun kebanyakan sudah hafiz dan hafizah, Allahu Akbar! Alangkah bahagianya memetik hikmah dari kisah inspiratif mereka. Alangkah senang dan kagum nya melihat sisters muslimah nan cantik lahir batin; cantik zahir nya dan tartil bacaan Quran nya,  tambah lagi cantik akhlaq nya.

Hal kedua adalah para diaspora Indonesia pecinta Quran di Kuwait adalah WNI intelektual yang berprestasi cemerlang dalam pekerjaannya ; Bapak-bapak profesional IT, bapak-ibu perawat yang telah bertahun-tahun dinas di sini, mahasiswi, ibu rumah tangga, guru/dosen, bisnis-women, dll. Terbukti bahwa para penghafal Quran adalah muslim/ah yang senantiasa berkarya, selalu ingin membawa berkah & manfaat untuk umat. Mereka cerdas menggali potensi, sosok-sosok penuh kesyukuran dan selalu mengutamakan keberkahan Nya dalam menjalani alur kehidupan.

Ketiga, dengan berkumpul bersama para pecinta Al-Quran, kita jadi belajar lebih baik lagi dalam manajemen waktu. Malu hati ini, waktu luang masih banyak terbuang. Sedangkan mereka ini, rata-rata sibuk dari subuh ke subuh esoknya, dinas di rantau berbeda shift, tambahan kegiatan kajian-kajian rutin Al-Husna, atau majelis ta’lim lainnya, juga urusan anak-anak sekolah, urusan dalam rumah tangga, dan sebagainya. Namun rutinitas padat itu memang senantiasa dihiasi dengan hafalan Quran, oh Allah, it’s amazing!  Tak ada waktu yang tersia, selalu berupaya menjadikan usia berkah, kaya makna, dan bermanfaat setiap masa.

Keempat, tentu saya dan keluarga menjadi termotivasi untuk meneruskan hafalan Quran yang ‘bolong-bolong’. Duhai diri, jadi makin semangat untuk bertaubat. Teman-teman pecinta Al-Quran selalu tampak segar dan tegar. Meskipun cuaca ekstrim di Kuwait, mereka jarang sakit, sudah terbiasa ditempa dalam didikan-Nya. Ada banyak cerita haru dan heroik mengenai kehadiran mereka dalam menjalani takdir sebagai perantau di negeri teluk. Kisah perjuangan hidup mereka telah menularkan manfaat buat masyarakat Indonesia (khususnya di kampung kelahiran), membawa berkah buat keluarga, bangsa dan agama.

“(Al-Qur’an) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (tafsir QS. Ibrahim [14]:52) Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Kelima, berkumpulnya dalam majelis kebaikan seperti ini adalah obat kerinduan terhadap tanah air. Ada yang mudik setahun sekali, ada yang lebih jarang dari itu, namun selayaknya persaudaraan erat, maka sudah membuat tanah rantau bagaikan ‘rumah sendiri’, bagai memiliki keluarga sendiri di sini. Subhanallah, nilai plus pula hadir bagi para pecinta Qur’an ini. Pemerintah Kuwait bahkan mendukung penuh kehadiran masjid Indonesia di sini (kalau jum’atan, di masjid ini khotbah dalam bahasa Indonesia) sejak beberapa tahun silam. Mereka sangat menghargai WNI shalihin & shalihah yang telah terbukti menunjukkan kecintaan terhadap agama mulia ini, Al-Islam. Bahkan cahaya terang inspirasi telah terpancar dalam jiwa raga, yaitu melalui kecintaan terhadap Al-Quran, Insya Allah.

Ayat cinta-Nya mengingatkan, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]:57)

Sebentar lagi bulan mulia tiba, tamu yang kita nantikan segera hadir, semoga kita dipertemukan-Nya dengan Ramadhan, amin. Dalam penantian di penghujung Sya’ban ini, brothers & sisters banyak yang saling mengingatkan tentang berlomba-lomba mendulang pahala di bulan Ramadhan. Kegiatan tarhib Ramadhan menggema dimana-mana, termasuk di Kuwait. Penat lelah serta tantangan keseharian menjadi tak terasa saat diri kita gemar berkumpul bersama para pecinta Qur’an, insya Allah.

Beberapa minggu lalu sebelum liburan summer dimulai, saya sekeluarga berkesempatan hadir dalam silaturahim di Jabriya, Walhamdulillah berjumpa ibu-ibu majelis ta’lim Khoirunnisa (datang bersama kaum bapak dan anak-anak shalih/at). Kemudian rezki nomplok, pada selasa kemarin, walhamdulillah saya ikutan hadir dalam Musabaqah Tilawatil Quran Al-Husna Kuwait. Subhanalloh, dada ini berdebar luar biasa, mata pun mengembun, puluhan sisters muslimah komat-kamit mengulang-ulang hafalan Qur’an nya, dan mereka adalah para srikandi Indonesia! Terangkum doa pada Allah Taala, semoga ukhuwah islamiyah ini kian kencang, jiwa-jiwa makin berpadu, tali semangat ini tidak rapuh dan dekapan erat itu tetap terasa meskipun kelak terpisah jarak dan waktu benua berbeda. Allahumma ‘aamiin. (sbb/dakwatuna)

Advertisements

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
bidadari_Azzam
Sri Yusriani, ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti alm H. Majid, biasa dikenal dengan nama pena bidadari_Azzam, lahir di Palembang, 19 Juni 1983. Mantan pelajar berprestasi ini sangat senang membaca & menulis sejak kecil (memiliki ratusan sahabat pena sejak SD hingga SMU sehingga terbiasa bersurat-menyurat), terutama menulis puisi. Syair dan puisinya serta cerita-cerita mini pernah menghiasi majalah Bobo, surat kabar lokal serta beberapa majalah nasional. Semasa menjadi putri kecil yang malu-malu, ia mengoleksi tulisan karya pribadi dan hanya dinikmati seisi keluarga serta bapak-ibu guru di sekolah. Beberapa prestasi yang terkait menulis adalah juara pertama menulis dan menyampaikan pidato kemerdekaan RI tingkat kotamadya Palembang, pada tahun 1997, Peserta termuda buku Antologi Puisi Kepahlawanan Pemda SumSel, serta kejuaraan menulis di beberapa majalah lokal dan nasional. Pernah menyabet juara 3 lomba puisi tingkat kodya Palembang, juara 2 menulis cerpen islami tingkat kodya Palembang yang diadakan ForDS (Forum Dakwah Sekolah), dan pada tahun 1999, semasa masih SMU dipercaya untuk menjadi pembimbing kepenulisan bagi sang ayah ketika mengikuti lomba membuat karya ilmiah tentang keselamatan kerja di Pertamina (menghadapi persaingan dengan para mahasiswa yang sudah S2 dan S3), dan Alhamdulillah, karya tersebut terpilih menjadi juara pertama. Lima tahun terakhir ini, ia tinggal di luar negeri, jauh dari bumi pertiwi. Hobi menulis pun terasah kembali, mengalirkan untaian kata pengobat rindu jiwa, sehingga kini kian aktif menulis artikel di beberapa website dan milist islami. Kini sedang mempersiapkan buku mengenai pengalaman pribadi sebagai sosok muslimah yang menikah di usia amat muda (ia menikah saat berusia 19 tahun), Tentunya dengan ragam keajaiban yang saya temui, betapa saya amat merasakan kasih sayang Allah taala dalam tiap tapak kehidupanku ini. Prinsipnya dalam menulis, Bagiku, Menulis itu dengan hati, dianalisa oleh semua indera, tak bisa direkayasa, tak boleh terburu-buru pula. Menulis itu adalah mengukir tanda cinta pada-Nya, mengharapkan apa-apa yang menjadi tulisan adalah cambuk motivasi diri sendiri dan dihitung-Nya sebagai amal jariyah. Ia mengecap bangku kuliah di UPI-Bandung, dan UT-Jakarta, Lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi. Kegiatan saat ini menikmati peran menjadi ibu dari tiga jagoan ; Azzam, Sayyif dan Zuhud, mendukung penuh tugas suami yang mengemban project perusahaan di negara-negara lain, sekaligus mengatur jadwal sekolah bahasa Polish, serta menjadi pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Buku pertama kisah hikmah yang ditulisnya di Krakow baru dicetak awal maret 2012 oleh penerbit Eramuslim Global Media, dengan judul Catatan CintaNya di Krakow-seri 1.
  • Rita

    Kak, biasanya orang Kuwait itu klau nikah umurnya brapa, ya? Trus klau jadi ayah bysanya rata2 umurnya brpa? Mhon dijawab.

Lihat Juga

Muslim Skandinavia Sholat 4 Waktu dengan Sekali Wudhu, Ini Alasannya

Organization