Topic
Home / Suara Redaksi / Editorial / Ustadz Jefry Al-Buchori, Dai Gaul Aktivis Media Sosial

Ustadz Jefry Al-Buchori, Dai Gaul Aktivis Media Sosial

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Hal ini juga harus berhati-hati untuk menggunakan teknologi komunikasi sosial yang cepat merambah ke seluruh dunia, baik untuk mengajak orang untuk mengenal Allah dan saling menasehati serta berbuat kebaikan kepada orang lain sebagaimana firman Allah,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Katakanlah kepada manusia yang baik-baik (Al-Baqarah: 83)

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Al-Isra:53)

As-Sa’di berkomentar dalam tafsir ayat ini, hal ini meIiputi semua perkataan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, berupa bacaan, dzikir, ilmu, ajakan kebaikan, mencegah kemungkaran dan perkataan yang lemah lembut kepada orang lain dengan segala tingkatannya. Apabila berlaku suatu urusan antara dua kebaikan, maka diutamakan ambil yang terbaik dari keduanya jika tidak bisa digabungkan. Perkataan yang baik akan menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Siapa yang dapat menguasai lidahnya (perkataannya), maka ia akan menguasai semua urusannya.

Imam Nawawi menjelaskan hadits:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Jika seseorang harus berkata-kata, maka segala perkataannya haruslah yang baik dan mendatangkan pahala (kebaikan). Perkataan pada hal yang wajib ataupun sunnah, maka hendaklah ia mengatakannya. Apabila nampak baginya bahwa perkataannya tidak akan mendatangkan kebaikan, maka hendaklah ia menahan diri untuk tidak berkata dan pada saat itu, ia diperbolehkan untuk tidak mengatakan apa-apa khawatir tergelincir pada hal-hal yang diharamkan atau dibenci oleh Islam.

Hadits ini mendorong seseorang untuk diam. Kalaupun harus berkata, maka perkataannya adalah lebih baik daripada diam. Orang bijak mengatakan, “Perkataan yang baik itu ibarat ghanimah dan diam adalah keselamatan, maka ghanimah adalah lebih baik dari hanya sekadar selamat.” Mereka berkata, “Berkata yang baiklah, maka kamu akan mendapatkan ghanimah dan diamlah dari berkata yang tidak baik, maka engkau akan selamat.”

Disebutkan bahwa seseorang berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, “Orang yang diam karena ilmu sama seperti orang yang berbicara karena ilmu.” Umar kemudian berkata, “Aku berharap semoga keadaan orang yang berkata karena ilmu lebih utama di hari Kiamat karena ia telah mendatangkan manfaat kepada manusia dan yang berdiam hanya mendatangkan manfaat untuk dirinya saja.

Jadi, setujukah jika kita mengatakan bahwa aktivitas di sosial media menjadi hal yang bermanfaat untuk agama dan kemanusiaan?

*Artikel ini pertama kali dimuat di kompasiana.com pada tanggal 27 April 2013, jam 21.12 WIB dan dimuat ulang di dakwatuna setelah mengalami revisi sesuai dengan karakter dakwatuna

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 5)
Loading...
Lelaki Betawi yang pernah merantau. S1 Lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir dan S2 pada Ekonomi Syariah di IEF Trisakti, Jakarta. Bekerja, berjuang dan berkorban untuk hidup dan kehidupan.

Lihat Juga

Laman Berita Terkemuka Arab Saudi Sebut Erdogan “Hitler Baru”

Figure
Organization