Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kisah Sang Kyai pada Muridnya: Bermaknanya Sebuah Proses

Kisah Sang Kyai pada Muridnya: Bermaknanya Sebuah Proses

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mengubah nasibnya sendiri. (Ar-Ra`du: 11)

Ilustrasi (templates.com)
Ilustrasi (templates.com)

dakwatuna.com – Dalam mengawali perjuangan menggapai impian, seringkali kita terjebak dalam kekerdilan yang dibuat sendiri. Sudah kalah sebelum berperang itulah analogi yang pantas kita sematkan untuk menggambarkan seseorang yang takut mengawali perjuangannya hanya karena takut tak akan mampu mencapai hasil yang diharapkan. Ketakutan yang berlebihan ini seringkali membuat orang enggan memulai sebuah proses perjuangannya. Dalam anggapan mereka, perjuangan tak kan ada manfaatnya toh juga kita hanya memiliki potensi yang kecil untuk berhasil.

Berbicara tentang pencapaian suatu tujuan, kita bisa mengambil ibrah dari sebuah cerita sederhana sebagai berikut:

Suatu ketika di sebuah pondok, sang Kiai memberikan instruksi kepada seorang muridnya. “Wahai muridku, kali ini Saya akan memberikan tugas kepadamu, pindahkanlah air di kolam itu ke kolam yang ini dengan menggunakan jala ini” Kata Sang Kiai. “Nanti ba’da Maghrib kamu harus melaporkan ke Saya” Tegasnya.

“Baiklah Kiai” Jawab Sang Murid.

Sang Murid langsung mengambil jala untuk digunakan menjalankan aksinya.  Dia menuju kolam yang satu, Ia ayunkan jala ke kolam agar airnya tadi bisa terbawa jala. Kemudian ia lari menuju kolam yang satunya. Namun apa yang terjadi? Air tak bisa dipindahkan dari kolam ke kolam yang lainnya. Kalaupun bisa terpindahkan hanyalah tetesan-tetesan saja. Kemudian Ia termenung dan berpikir keras bagaimana Ia bisa memindahkan air tersebut dari satu kolam ke kolam yang lainnya. Sang Murid tetap belum menemukan caranya. Ia mencoba lagi, mencoba, dan mencoba hingga tak menyangka senja telah menghampiri.

Ia pun menuju surau untuk Shalat Maghrib dan menemui sang Kiai sambil membawa jala yang digunakannya tadi.  Selepas Shalat sang Kiai menghampiri murid itu lalu bertanya “Bagaimana muridku, apakah kamu sudah bisa memindahkan air dari kolam ke kolam yang lainnya?”.

“Belum bisa Kiai, kalaupun bisa mungkin hanya setetes, dua tetes saja”, jawabnya.

“Bagaimana bisa memindahkan airnya Kiai, bukankah jalannya itu berlubang?” Terangnya lagi.

Kemudian sang Kiai menerangkan maksudnya memberikan tugas kepada muridnya tadi. Kiai menyuruh muridnya untuk melihat jala yang ia gunakan tadi untuk memindahkan air. Beliau menjelaskan jala yang sebenarnya tadi kotor dengan tanah, setelah digunakan muridnya tadi sekarang menjadi bersih dari berbagai kotoran yang tadinya menempel. Inilah yang ingin Kiai sampaikan kepada muridnya. Terkadang kita tidak menyangka usaha kita akan membuahkan hasil yang di luar tujuan awal kita. Kita seringkali hanya terfokus pada tujuan awal kita semata, dalam kasus ini ingin memindahkan air berarti air itu harus pindah tanpa melihat hasil yang lain yang mungkin itu tidak kita duga.

Namun ternyata tidak demikian. Janji Allah dalam Q.S Arradu ternyata tak hanya isapan jempol. Kita sebagai hamba-Nya hanyalah bertugas untuk mengusahakan, tidak usah berpikir nanti hasilnya mau seperti apa. Berhasil atau tak berhasil sama sekali, itu urusan belakang. Yang terpenting adalah kita segeralah berusaha dan mengawali aksi kita karena bagaimanapun usaha kita Allah pasti akan menghargai proses usaha yang kita jalani itu. Bukan product oriented, Allah memberikan apresiasi kepada langkah kita. Namun Allah lebih menyukai process oriented untuk membangun semangat optimisme hamba-Nya berjuang. Karena bisa jadi Allah menampakkan hasil dari usaha kita di luar tujuan awal kita. Kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa di atas. Meskipun Santri tidak bisa memindahkan airnya namun ternyata Ia berhasil membuat jala yang digunakan itu menjadi bersih. Itulah salah satu wujud penghargaan Allah kepada ketekunan hamba-Nya dalam menjalani proses yang ada.

Akhirnya kita bisa menyimpulkan janganlah takut untuk memulai aksi kita hanya karena takut tidak berhasil. Segeralah beraksi, nikmati dan optimalkan proses perjuangan itu. Urusan hasil Allah pasti menyiapkan yang terbaik buat kita. Dan yang terpenting pula, hasil tak selalu tertuju pada tujuan awal kita, boleh jadi kita berhasil membuat progress di sisi-sisi yang lain yang selama ini tak kita perhitungkan.

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 5)
Loading...
Phisca Aditya Rosyady
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Korea Selatan Periode 2017-2018. Ketua Indonesian Muslim Student Society in Korea Periode 2016-2017. Lulusan master di Computer Science and Engineering Seoul National University, pernah menjadi Researcher Assistant di Sungkyunkwan University, Korea. Suka traveling, menulis, coding, dan blogging. Memiliki semboyan, beraksilah niscaya Allah akan mereaksikan ikhtiarmu!

Lihat Juga

Ingat Allah Hatimu Akan Tenang

Figure
Organization